Rabu 02 Oktober 2019, 06:05 WIB

Ketahanan Jantung dan Olahraga Tepat

Rifaldi Putra Irianto | Humaniora
Ketahanan Jantung dan Olahraga Tepat

MI
GRAFIS

 

SETELAH tiga tahun lalu mengalami gejala stroke, Henri, 40, memilih bersepeda sebagai pilihan olahraganya. Jarak terjauh yang bisa dilaluinya dengan bersepeda ialah sebanyak 18 kilometer (km).

Akhir pekan lalu, Henri bersepeda seperti biasa menyusuri jalanan yang biasa dilaluinya. Saat tiba di sebuah tanjakan, Henri mengalami capek yang luar biasa. Padahal, baru 5 km Henri mengayuh sepedanya. "Pas tanjakan itu aku merasa capek dan pusing, tapi tidak sesak. Menepilah aku di sebuah warung," tutur laki-laki asal Sumatra Utara itu, saat berbincang dengan Media Indonesia, tadi malam.

Henri sempat meneguk es kelapa muda, tapi baru setengah gelas, pusing yang dirasakannya makin menjadi. Ia merebahkan diri, mengangkat kedua tangannya, dan menggerakkan mulutnya membentuk huruf AIUEO. "Dua hal itu bisa kulakukan. Berarti, pusingnya ini bukan karena stroke," ujar bapak satu anak itu.

Tak berpikir panjang, Henri segera memesan ojek daring untuk menuju rumah sakit terdekat. Rentang waktu antara pusing pertama dan kedatangannya di RS sekitar 10 menit.

"Nah, di UGD RS itu dadaku seperti ditusuk-tusuk. Nyeri sekali. Aku bilang ke petugas dan langsung dilakukan EKG. Hasilnya, positif serangan jantung dan ada penyumbatan satu pembuluh darah. Dokter langsung memutuskan operasi pemasangan ring," urai Henri.

Rasa sakit yang ia rasakan pada bagian atas dan pertengahan punggung tepat di antara tulang belikat serta juga di kedua lengan tersebut, rupanya gejala serangan jantung.

Dari pemeriksaan di UGD, denyut nadi Henri diketahui hanya 40 kali per menit, jauh di bawah normal sekitar 60-100 kali per menit. Oksigen yang diserapnya pun normal 95%, tapi tidak terpompa dengan baik ke jantung. "Itu indikasi ada penyumbatan di jantung, tapi dokter tidak bisa memperkirakan kapan itu mulai muncul," imbuhnya.

Pascapemasangan ring, Henri diminta dokter untuk melakukan mobilisasi bertahap, berjalan dulu baru berlari. Untuk olahraga pun, Henri disarankan menggunakan sepeda statis saja. "Gorengan, makanan bersantan itu pantangan makannya," tutup Henri.

Sport Medicine Specialist, dokter Michael Triangto, menyebutkan olahraga tidak dapat dipaksakan serta harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kesehatan seseorang. Jika melebihi batas, keseimbangan kerja organ tubuh akan terganggu, salah satunya jantung.

"Capek, enak, seru, berkeringat. Itu enggak bisa dipakai sebagai alat ukur karena terukurnya itu harus disesuaikan dengan programnya. Bagaimana mau berbicara badan sakit tapi sehat? Nah, ini untuk meluruskan pandangan masyarakat yang salah. Saat ini masyarakat memandang berolahraga seberat-beratnya," kata Michael saat dihubungi, terpisah.

Menurutnya, olahraga yang tepat dilakukan ketika kaidah baik, benar, terukur, dan penting (BBTP) terpenuhi. (Lihat grafis) Dikatakan benar jika melakukan pemanasan terlebih dahulu, peregangan, kemudian latihan inti, pendinginan, sampai ke proses peregangan kembali. Sementara itu, terukur ditunjukkan lewat aktivitas yang terprogram.

"Olahraga yang ada saat ini yang di permainkan seperti kita berkompetisi melawan orang lain, melawan diri sendiri karena ingin menjadi lebih cepat. Nah, itu olahraga yang berpotensi untuk mengganggu kesehatan, bahkan termasuk kesehatan jantung," jelasnya.

Khusus pengidap jantung koroner, Michael mengingatkan agar meminta saran dokter terlebih dulu sebagai panduan sebelum berolahraga.


Kendalikan faktor risiko
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia ialah 1,5% dari total penduduk. Kelompok terbanyak penderita penyakit jantung ialah aparatur sipil negara (ASN), yaitu pegawai pemerintahan, TNI-Polri, dan pegawai BUMN serta BUMD dengan prevalensi 2,7%.

Saat menanggapi data itu, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito Damay mengatakan, penyakit jantung bisa terjadi pada siapa pun, tidak mengenal profesi.

"Penyakit jantung koroner akan terjadi pada siapa pun yang tidak mengendalikan faktor risikonya, seperti hipertensi yang tidak dideteksi, kolesterol tinggi yang tidak pernah diperiksa, atau sakit gula yang tidak dipedulikan," tegasnya.

Selain itu, menurutnya, kerentanan orang terkena penyakit jantung juga meningkat ketika ada faktor risiko yang diabaikan, seperti kurang gerak, obesitas, dan merokok.

Ia juga meluruskan pandangan bahwa stres memicu serangan jantung. Stres, kata dr Vito, hanya pencetus ditambah dengan penyakit penyerta lainnya.

Stres tidak bisa dihindari, tapi harus diatasi. Setiap orang harus bisa mengatasi stres dengan cara nya sendiri, seperti melakukan hobi, menjadwalkan liburan, atau menghabiskan waktu dengan keluarga. Kolestrol tinggi juga perlu diwaspadai karena tidak bergejala. "Kolesterol tinggi ini harus diperiksa barulah bisa kita ketahui kadarnya," terang dr Vito.

Selain pemeriksaan kesehatan secara rutin, dr Vito menyarankan pemeriksaan fisik medis penunjang lainnya, antara lain elektrokardiogram (EKG), pemeriksaan darah LDL dan gula darah, lalu pemeriksaan tambahan berupa x-ray dada dan hingga CT scan jantung. (Ind/H-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More