Kamis 03 Oktober 2019, 11:03 WIB

Pompeo Akui Terlibat dalam Percakapan Telepon Skandal Ukraina

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Pompeo Akui Terlibat dalam Percakapan Telepon Skandal Ukraina

AFP/Alberto PIZZOLI
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo

 

MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo secara terbuka mengakui untuk pertama kalinya bahwa ia terlibat dalam pembicaraan telepon pada 25 Juli ketika Presiden AS Donald Trump menekan presiden Ukraina untuk menyelidiki saingan politiknya dari Partai Demokrat Joe Biden.

"Saya mendengar percakapan telepon," kata Pompeo pada konferensi pers di Roma, Italia, dengan rekan sejabatnya, Luigi Di Maio, Rabu (2/10).

Pengakuan itu menyoroti upaya-upaya sebelumnya untuk mengelak dari penyelidikan pemakzulan Trump. Sejumlah figur ternama Departemen Luar Negeri AS tersorot dalam skandal ini.

Pompeo tidak mengatakan apakah menurutnya isi dari percakapan telepon 25 Juli tidak tepat atau menuntut pengaduan sebuah komunitas pengungkap rahasia intelijen, yang pengaduannya memicu penyelidikan pemakzulan.

"Pembicaraan telpon itu dalam konteks kebijakan Amerika tentang Ukraina. Yaitu membantu Ukraina memberantas korupsi di dalam dan luar pemerintahannya, dan membantu Ukraina saat ini membangun ekonomi agar berkembang pesat,” terang Pompeo.

Baca juga: Trump Mengaku Jadi Korban Kudeta

Pompeo mengatakan ia bangga bekerja dengan tim Departemen Luar Negeri Ukraina--termasuk mantan utusan khusus Kurt Volker, yang menghubungkan pengacara pribadi Trump, Rudy Giuliani, dengan seorang pembantu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

"Untuk membantu negara memerangi korupsi dan memerangi agresi Rusia."

Dalam wawancara 22 September dengan ABC News, Pompeo menangkis pertanyaan tentang keterlibatannya.

Ketika ditanya "apa yang Anda ketahui" tentang percakapan antara Trump dan presiden Ukraina, Pompeo mengatakan ia belum melihat keluhan pelapor.

Ia menekankan tentang bagaimana AS telah memberikan dukungan militer kepada pemerintah Ukraina dalam perjuangan melawan separatis yang didukung Rusia.

Trump mengecam penyelidikan pemakzulan terhadapnya sebagai sebuah 'kudeta' dan berkukuh ia tidak melakukan kesalahan apapun dalam pembicaraan telponnya dengan Zelenskiy.

"Dari yang terus-menerus saya pelajari setiap hari, saya sampai pada kesimpulan apa yang terjadi bukanlah pemakzulan, ini adalah kudeta," cuit Trump di Twitter.

Trump menyebut langkah para rivalnya sebagai upaya untuk mengambil kekuasaan dan pilihan rakyat, kebebasan mereka, Amandemen Kedua mereka, agama, militer, tembok perbatasan, dan hak-hak yang diberikan Tuhan sebagai warga negara AS.

Sementara para ketua komite di Dewan Perwakilan AS memperingatkan upaya-upaya untuk menghalangi penyelidikan pemakzulan adalah ilegal dan akan menjadi bukti penghalang penyelidikan pemakzulan. (AFP/VOA/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More