Kamis 03 Oktober 2019, 06:30 WIB

Harapan tidak Muluk-Muluk para Pengungsi Wamena

MI | Nusantara
Harapan tidak Muluk-Muluk para Pengungsi Wamena

MI/Lina Herlina
Annur, 48, (kiri) seorang ibu empat anak yang mengungsi dari Wamena, berada di rumah keluarganya di wilayah Paccerakkang, Kota Makassar

 

RAUT sedih tergambar jelas di wajah Annur, 48, ibu empat anak yang baru tiba di Makassar, kemarin. Ia bersama lebih dari 100 warga asal Sulawesi Selatan eksodus dari Wamena, Papua.

Setiba di Lanud Sultan Hasanuddin Makassar, Annur pun didata oleh petugas di Asrama Haji Makassar yang menjadi tempat pengungsian. Namun, ia memilih pindah ke rumah keluarganya di Paccerakkang, Kota Makassar.

Setelah mengumpulkan segenap kekuatan, Annur mencoba mengenang dan menceritakan apa yang terjadi di Kampung Kama, Wamena, Papua. Rumah panggung yang ia tempati selama 20 tahun habis dibakar sekelompok orang bertubuh besar tanpa seragam.

Hari itu masih pagi, Senin, 23 September 2019. Annur mengantar empat anaknya ke sekolah. “Anak saya satu SMA, satu lagi SMP, dan dua orang SD. Saya antar seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda bakal terjadi kerusuhan,” kenangnya.

Namun, ketika hari belum juga beranjak siang saat dia berada kembali ke rumah, tetangganya berteriak-teriak memanggil dengan menggunakan nama anak pertamanya.

“Mama Yoga, jemput anak sekolah, di sana ada demo, sekolah sudah hancur. Saya kira anak sekolah yang demo, ternyata bukan dan sekolah dibakar, saya pun bergegas di tengah kerusuhan untuk menyelamatkan anak-anak saya,” urainya.

Sepulang dari sekolah, rumah-rumah warga pun ikut dibakar. “Saya telepon suami saya, Ramlan Lewa, yang sedang berjualan di pasar. Dia suruh diam dan tidak keluar rumah, sementara rumah sudah dibakar orang tidak dikenal. Bahkan saya sempat tanya pendeta yang ada, dia juga tidak kenal itu pelaku, kayaknya bukan orang sini,” tutur Annur.

Pendeta itulah yang menyelamatkan Annur dan keluarganya. Setelah itu, ia mencari informasi dan melapor agar bisa keluar dari Wamena. Akhirnya setelah seminggu dilanda ketidakpastian, dia tiba di Bandara Wamena untuk terbang ke Jayapura, lantas mengungsi ke Makassar.

Meski kini dalam kondisi aman di Makassar, Annur mengaku masih bingung karena semua hartanya di Wawena ludes terbakar. “Yang penting pemerintah bisa bantulah. Saya mau anak saya empat orang ini bisa sekolah kembali. Kalau untuk pulang ke Papua nanti saja, saya takut kejadian yang sama.’’

Annur tidak sendirian. Ratusan bahkan ribuan warga pendatang yang tadinya hidup tenteram di Wamena bernasib sama.

Mereka masih dicekam ketakutan dan disandera trauma setelah menyaksikan kebiadaban orang-orang tak dikenal yang mengamuk di Wamena. Tak cuma memaksa ribuan orang eksodus, tindakan orang-orang biadab itu juga mengakibatkan sedikitnya 33 warga meregang nyawa.

Pemprov Sulsel memastikan bakal memfasilitasi warga asal Sulsel korban konflik di Papua yang akan melanjutkan sekolah. Pun demikian dengan pemerintah daerah lain yang warganya juga menjadi korban di Wamena.

“Kepala dinas sudah kita koordinasikan semua untuk memberikan kemudahan kepada pengungsi yang ingin melanjutkan sekolah,” tegas Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah.  (Lina Herlina/X-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More