Kamis 03 Oktober 2019, 03:30 WIB

Adaptasi Iklim Mendesak

Atikah Ismah Winahyu | Humaniora
Adaptasi Iklim Mendesak

(ANTARA/Muhammad Zulfikar)
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI Siti Nurbaya Bakar memberikan paparan terkait perubahan iklim di Gedung Manggala Wanabakti

 

SEDIKITNYA ada 55 kasus hewan laut yang terdampar sepanjang empat tahun terakhir di Tanah Air. Dari jumlah itu, temuan tahun ini merupakan yang terbanyak, berjumlah 30 kasus.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 20 kejadian dan selama 2019 telah ditemukan 9 hewan laut yang terdampar.

Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi mengatakan peningkatan jumlah kejadian hewan laut terdampar ini semakin menunjukkan adanya masalah serius di perairan yang turut dipicu oleh perubahan iklim.

"Perubahan ekosistem laut akibat perubahan iklim, polusi, eksploitasi berlebih, perubahan tata guna laut, dan masuknya jenis asing invasif yang berpotensi menyebabkan kepunahan menjadi hal yang patut disikapi serius," ujarnya, kemarin.

Kasus terdamparnya hewan laut terakhir terjadi pada 16 September 2019. Seekor hiu tutul tersesat di perairan dekat Pembangkit Listrik Tenaga UAP Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Pada Juli 2019, LIPI juga menerima laporan terdamparnya paus bongkok di Kecamatan Pasiran, Lumajang.

Tidak hanya laut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyampaikan perubahan iklim juga menimbulkan masalah serius di darat. Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia, ASEAN, hingga hutan Amazon di Brasil merupakan bencana akibat perubahan iklim ekstrem.

Terjadinya karhutla secara luas menyebabkan kepunahan flora dan fauna serta meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK) yang mengakibatkan bumi bertambah panas. "Kita di Indonesia, juga tidak luput dari kondisi ini," ucapnya saat membuka Festival Iklim 2019 di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, kemarin.

Sektor pertanian, kelautan, perikanan, kehutanan, lingkungan hidup, dan kesehatan merupakan sektor yang paling sensitif.

Aksi nyata

Siti menerangkan perubahan iklim yang ditandai terus meningkatnya suhu panas bumi menjadi perhatian dan isu besar di berbagai negara, termasuk Indonesia yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Hasil studi panel ilmiah memperkirakan temperatur rata-rata di wilayah Indonesia naik sebesar 0.5 - 3.92 derajat Celcius pada 2.100 dari kondisi base line pada 1981-2010 silam atau 38 tahun lalu.

Kondisi itu, kata Siti, menuntut semua pihak untuk beraksi nyata dalam menyikapi perubahan iklim ekstrem. Upaya adaptif diperlukan untuk meminimalkan korban jiwa, kerugian ekonomi, dan kerusakan lingkungan. "Yang paling penting ialah praktiknya," cetus Siti.

Menurut Siti, faktor utama yang memengaruhi perubahan iklim di Indonesia, yakni deforestasi serta penggunaan energi fosil.

Secara terpisah, Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, menagih komitmen perusahaan perkebunan untuk tidak membuka dan membersihkan lahan perkebunan dengan membakar. "Karhutla terutama di areal lahan gambut sangat sulit diatasi," sebutnya di sela pelantikan Pengurus Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia di Banjarmasin, kemarin. (Sru/DY/DW/RK/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More