Rabu 02 Oktober 2019, 22:10 WIB

12 Akademisi Raih Penghargaan Tertinggi dari Kemenristekdikti

Muhammad Syahrul Ramadhan | Humaniora
12 Akademisi Raih Penghargaan Tertinggi dari Kemenristekdikti

Ist
Dirjen SDID Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, memberikan penghargaan salah seorang peraih Academic Leader Award 2019.

 

KEMENTERIAN Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) kembali menggelar Academic Leader Award 2019. Sebanyak 12 akademisi yang terdiri atas tiga rektor, satu Kepala Lembaga Layananan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti), dan delapan dosen meraih penghargaan bergengsi tahunan ini.
 
Academic Leader Award tahun ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Selasa (1/10) malam. Penghargaan Academic Leader 2019 diberikan untuk para akademisi, khususnya dosen yang telah berkontribusi dalam kemajuan dunia pendidikan tinggi di Tanah Air.
 
Anugerah ini terbagi dalam dua kategori, yaitu kategori dosen berdasarkan bidang keilmuan yang diampu, dan kategori dosen dengan tugas tambahan sebagai pimpinan perguruan tinggi.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, mengatakan, kemampuan kepemimpinan menjadi modal utama bagi rektor untuk memimpin perguruan tinggi. Terlebih, saat ini Indonesia tengah mengejar target Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.
 
"SDM unggul tidak akan ada tanpa perguruan tinggi yang berkualitas. Perguruan tinggi berkualitas ada karena dosen-dosen yang andal. Untuk membentuk iklim akademik yang kondusif, tentu dibutuhkan kepemimpinan yang baik pula," tutur Ghufron di sela-sela acara.
 
Penghargaan ini, lanjut Ghufron, mendorong agar dosen fokus kepada bidang keilmuannya sehingga menjadi panutan bagi rekan sejawatnya. Menurut mantan Wakil Menteri Kesehatan ini, tak sedikit dosen yang justru lebih mengejar karier untuk jabatan struktural.
 
Padahal, tugas pokoknya adalah menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pengembangan keilmuan, meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

"Kesadaran untuk karier akademik dan pemimpin di bidang keilmuannya kami bangun melalui apresiasi malam ini. Bagi para rektor kami lihat mereka yang mampu membawa perubahan dan lompatan bagi kemajuan institusinya," sebut Ghufron.
 
Akademisi yang mendapat anugerah Academic Leader Award 2019 untuk dosen di bidang kependidikan Didi Suryadi dari Universitas Pendidikan (UPI) Bandung.

Dosen Matematika Pendidikan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan ini mengembangkan Didactical Design Reasearch untuk peningkatan kualitas pendidikan. Ini sudah diaplikasikan di program studi Matematika dan prodi lainnya di FMIPA UPI dan beberapa perguruan tinggi lain, bahkan Gunma University Jepang juga sudah mengaplikasikan DDR ini.
 
Kemudian di bidang kemaritiman diberikan kepada dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Ketut Buda Artana. Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS ini mengembangkan inovasi teknologi yang diberi nama Automatic Identification System Institut Teknologi Sepuluh Nopember (AISITS).
 
Pada bidang pertanian, anugerah diberikan kepada Siti Subandiyah, dosen Universitas Gadjah Mada. Dosen Departemen Hama ini mengembangkan pendekatan bioteknologi dalam pengendalian penyakit-penyakit pada jeruk dan pisang.
 
Di bidang kesehatan ada Daryono Hadi dari Institut Teknologi Bandung. Pengembangan porfirin dan turunan klorofil sebagai kandidat antikanker dan ligankit radiofarmaka. Bidang seni dan kebudayaan dianugerahkan kepada Juju Masunah dari UPI Bandung dengan gelaran Bandung Isola Performing.
 

Baca juga: Aspikom Siap Cetak SDM Unggul


Di bidang ilmu sosial dan humaniora, dianugerahkan kepada dosen Universitas Gadjah Mada, Mahfud Solihin. Dosen Fakultas Ekonomi ini mengembangkan inovasi mengajar etika bisnis dalam bentuk aplikasi dan augmented reality. Bidang sains dianugerahkan kepada Khairulrijal dari ITB.
 
Terakhir dari bidang teknologi dianugerahkan kepada Slamet Budijanto dari IPB, dosen bidang Teknologi. Dengan inovasi pengembangan vehicle diversifikasi pangan bersumber pangan lokal untuk penguatan kedaulatan pangan.
 
Sementara untuk kategori dosen dengan 'tugas tambahan' untuk pemimpin PTS dianugerahkan kepada Agustinus Putra Irawan dari Universitas Tarumanagara. Dengan inovasi pengembangan komposit serat alam ramah lingkungan, dan berlimpah sebagai bahan socket prosthesis atas lutut bagi pasien amputasi alat gerak bawah, untuk menggantikan bahan komposit serat fiberglass yang tidak dapat didaur ulang.
 
Sebagai rektor juga berhasil mengangkat akreditasi Untar dari B menjadi A, selain itu juga mengalami peningkatan peringkat Kemenristedikti dari 84 menjadi 34.
 
Untuk kategori dosen dengan 'tugas tambahan' untuk Pemimpin PTN Badan Layanan Umum (BLU) dianugerahkan kepada Ellen Joan Kumaat Universitas Samratulangi (Unsrat). Sejak menjadi rektor pada 2014, Ellen mengembangakan tata kelola sumber daya manusia, sumber daya inovasi dan sumber daya keuangan dan meningkatkan akreditasi universitas dari B menjadi A, serta peringkat universitas dari 70 menjadi 27.
 
Kemudian kategori dosen dengan 'tugas tambahan' untuk Pemimpin PTN BH dianugerahkan kepada Rektor UGM, Panut Mulyono. Inovasi birokrasi dalam rangka meningkatkan layanan prima melalui sistem informasi dan penguatan tata kelola.
 
Panut berhasil mengangkat UGM ke peringkat dua nasional pada 2019. Mahasiswa dan dosen yang dipimpin juga mendapatkan penghargaan nasional maupun internasional. Serta membawa UGM dua kali berturut-turut menjuarai Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas).
 
Selanjutnya, untuk kategori Pemimpin Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) dianugerkah kepada Suprapto dari LL-Dikti Wilayah VII Jawa Timur. Jumlah profesor di wilayah kerja naik dari 109 menjadi 148, jumlah rektor naik dari 1.124 menjadi 2.096. Jumlah perguruan tinggi terakreditasi dari 133 menjadi 230. (Medcom/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More