Kamis 03 Oktober 2019, 02:45 WIB

Robohnya Koperasi Kami

Kristiadi | Nusantara
Robohnya Koperasi Kami

MI/Adi Kristiadi
Koperasi Mitra Batik mati suri hingga aset bangunan Koperasi MitraBatik disewakan

 

MITRA Batik. Nama itu sangat lekat di hati warga Tasikmalaya, Jawa Barat. Terpatri sebagai nama jalan utama di 'Kota Pesantren', Mitra Batik sejatinya adalah nama koperasi yang paling sohor di era 1950-an.

Berdiri pada 17 Januari 1939, Koperasi Mitra Batik dirintis sembilan pengusaha batik Tasikmalaya. Saat menjadi koperasi terbesar di Indonesia pada 1947, Mitra Batik menjadi tuan rumah kongres koperasi pertama.

Sempat memiliki sebuah pabrik tenun di atas lahan seluas 3,5 hektare, kini Koperasi Mitra Batik mati suri. Lahan pabrik sudah dijual dan bangunan heritage yang jadi kantor koperasi pun disewakan kepada salah satu perusahaan yang mengelola toko serbaada.

"Mati suri, karena 400 anggota yang tercatat di koperasi sudah tidak aktif dan tidak melanjutkan usaha mereka di bidang batik. Hanya ada 5 pengusaha yang masih menjalankan produksi," ungkap Deden Supriadi, salah satu anggota Koperasi Mitra Batik, kemarin.

Upaya menjadikan koperasi ini sebagai lembaga keuangan mikro terbentur dana. Dari setoran modal awal Rp500 juga, seperti yang disyaratkan Otoritas Jasa Keuangan, para anggota koperasi hanya mampu menyediakan total dana Rp10 juta-Rp20 juta.

"Ada beberapa faktor yang membuat Koperasi Mitra Batik tidak mampu bertahan. Salah satunya karena sebagian anggota sudah tua dan tidak menekuni usaha batik lagi. Selain itu, tentu saja kurangnya dorongan dari pemerintah," lanjut Deden.

Tidak semua anggota Koperasi Mitra Batik yang gulung tikar. Mereka hanya beralih profesi dari produsen batik menjadi perajin bordir, alas kaki, kelom, payung, konveksi, dan kerajinan tangan lainnya. Saat ini, mereka hanya bergabung dalam Komunitas Perajin Ekonomi Kreatif Tasikmalaya (Kopektas) sejak 2017.

"Jika didorong lagi, bukan tidak mungkin Koperasi Mitra Batik bisa bangkit lagi. Di Tasikmalaya, Mitra Batik tidak sendiri, karena sejumlah koperasi juga sudah mati," keluh Deden.

 

Berguguran

Meski digadang-gadang menjadi soko guru perekonomian Indonesia, nasib koperasi di banyak daerah juga tersendat. Di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Dari 1.457 koperasi yang terdaftar, hanya 446 koperasi atau 30% saja yang masih aktif. Sisanya, sebanyak 1.011 koperasi hanya tinggal papan nama.

"Kami berusaha semaksimal mungkin membina koperasi yang masih aktif. Pemerintah kabupaten terus mendorong mereka untuk bisa terus bertahan di tengah fenomena banyak koperasi yang gulung tikar," aku Kepala Bidang Koperasi, Dinas Perdagangan, Perindustrian dan KUMKM Cianjur, Yudi Adi Nugroho.

Pembinaan dilakukan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengurus, serta pengawas pada setiap koperasi. "Dengan berbagai diklat itu diharapkan para anggota, pengurus, maupun pengawas bisa mejalan-kan peran dan fungsi mereka. Ini sebagai upaya meningkatkan kualitas SDM sehingga bisa menjalankan koperasi dengan baik dan benar," ujar Yudi.

Banyak faktor penyebab banyaknya koperasi gulung tikar. Ia mencontohkan lemahnya peran organisasi koperasi, pengawasan, kelembagaan, maupun kepengurusan.

"Koperasi yang sudah tak aktif betul-betul tidak ada aktivitasnya lagi. Sementara yang aktif masih rutin melaksanakan rapat anggota tahunan maupun menjalankan usaha," bebernya.

Sebetulnya, lanjut Yudi, animo masyarakat membentuk kopera-si relatif cukup tinggi. Namun, untuk menuju koperasi yang berkualitas bukan hal yang mudah dicapai. (BB/BK/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More