Kamis 03 Oktober 2019, 00:40 WIB

Denny Wirawan Hidupkan kembali Lombok lewat Tenun

Fetry Wuryasti | Hiburan
Denny Wirawan Hidupkan kembali Lombok lewat Tenun

MI/Adam Dwi
Perancang busana Denny Wirawan

 

PERANCANG busana Denny Wirawan, 52, berinisiatif mencari cara untuk turut berkontribusi menghidupkan kembali perekonomian Lombok Timur. Ia bercerita, dirinya jatuh cinta dengan tenun khas Lombok Timur saat berkeliling di sebuah pameran di Jakarta, tahun lalu. Denny mengoleksi kain-kain tenun tersebut. Tak lama, gempa bumi menggoncang Lombok. Hati Denny tergugah. Ia memutuskan menemui para penenun di sana yang merupakan lokasi gempa untuk menyemangati mereka agar berkreasi kembali dan mengemukakan gagasannya untuk mengolah tenun Lombok. Dia berkeliling daerah Pringgasela dan Kembang Kerang.

"Waktu saya ke sana, belum satu tahun pascagempa. Masyarakat bercerita, selama 6 bulan tidur di sawah memakai tenda dan tidak berani masuk ke rumah. Pekerjaan mereka terhenti," cerita Denny seusai peluncuran koleksi terbarunya bertajuk Pringgasela di Jakarta, Rabu (25/9).

Pringgasela dia pilih untuk diolah karena menggunakan pewarna berbahan alam. Berbeda dengan tenun Kembang Kerang yang mirip tenun ikat, berwarna kuat, dan cerah karena menggunakan bahan kimia.

Pringgasela juga istimewa karena masih menggunakan tekstur benang khas Lombok Timur, yakni tebal, dengan motif sederhana berupa garis vertikal dan horizontal.

Uniknya, untuk membuat pola pewarnaan di pada kain, para perajin lokal itu tidak membuat takaran-takaran tertentu. Hal itu membuat Denny kagum bahwa secara alami mereka mampu merancang sejak dalam pikiran tanpa menuangkan menjadi rumus takaran tertentu.

Pewarna alami menghasilkan kain tenun yang berwarna pastel yang pucat dan tidak terang. Denny mengolah kain tersebut dengan menempatkan motif silang dan diagonal untuk mengimbangi motif garis.

"Saya coba menabrakkan dengan motif dari daerah Lombok dengan teknik embroidery daerah lain. Treatment dari saya adalah penempatan badge. Tujuannya bukan untuk terlihat glamor, melainkan agar kain terlihat lebih hidup dan menonjol," terang Denny.

Karena ini kali pertama mengolah tenun Lombok, Denny berhati-hati agar tidak merusak tenun ketika dijahit sendiri maupun bersama kain lain.

"Kalau sekadar dikasih kain dipotong dijadikan baju banyak desainer yang bisa. Saya tidak ingin koleksi jadi alakadarnya. Saya ingin membuat batik atau tenun terlihat khasnya, tidak sekadar jadi pemanis atau cuma aksen yang seperti tempelan. Buat saya sangat penting apa yang mau kita angkat itulah yang harus sangat menonjol," jelasnya lebih lanjut.

Dia berharap, dengan diolah, kain tersebut menjadi cantik dan eksklusif karena setiap rancangan hanya diproduksi satu buah. Semakin bayak konsumen memesan, akan turut menggerakkan ekonomi daerah.


Peduli wastra

Denny telah meramaikan industri mode Indonesia selama 20 tahun dan meraih beragam prestasi dari sejumlah media dan ajang penghargaan fesyen. Dia dikenal dengan karya yang khas, yaitu berkreasi dan berinovasi dengan melakukan tabrak beberapa motif (clash pattern) dalam satu look dengan konsep padu padan yang bertumpuk (layering). Koleksi Denny Wirawan gabungan antara seksi, androgyny, dan mewah.

Kepedulian Denny Wirawan untuk ikut secara aktif melestarikan warisan wastra Nusantara telah membawa desainer papan atas ini melahirkan label Balijava sejak 2016 sebagai lini busana siap pakai (pret-d-porter) dan busana siap pakai madya (pret-d-porter deluxe).

Dalam koleksi lini etniknya ini, Denny banyak mengolah wastra Indonesia, seperti batik, jumputan (tie die), tenun (hand woven), dan ikat yang resmi hadir di tengah pencinta mode pada 2008. Pada 2019 ini, kali pertama dia merancang pakaian menggunakan bahan tenun Lombok Timur, saat sebelumnya menggunakan tenun Sumba.

Sebelumnya, Denny menggunakan materi batik Kudus untuk ready to wear dalam label Balijava. Koleksi itu mendapatkan sambutan positif hingga membawanya ke Fashion Gallery New York Fashion Week 2016. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More