Rabu 02 Oktober 2019, 13:10 WIB

Toga Desa Gajah Mati Hidupkan Perekonomian Masyarakat

Dwi Apriani | Nusantara
Toga Desa Gajah Mati Hidupkan Perekonomian Masyarakat

MI/Dwi Apriani
Warga Desa Gajah Mati memamerkan produk herbal mereka yang sudah dikenal luas di luar Sumatra Selatan.

 

AGAR warga desa tetap bisa hidup dan memajukan perekonomian, salah satunya dengan mengelola potensi desa yang bernilai ekonomi. Hal itu dilakukan oleh masyarakat Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.

Sebagai upaya memajukan desa, masyarakat Desa Gajah Mati dibantu CSR (corporate social responsibility) dari SKK Migas Wilayah Sumbagsel dan PT Medco E&P Indonesia, mengolah aneka tanaman obat keluarga menjadi jalan keluar memakmurkan desanya.

Puluhan kepala keluarga di Desa Gajah Mati kini mulai menata masa depan dengan memanfaatkan tanaman obat menjadi bernilai ekonomi. Tanaman obat keluarga (toga) ini dimanfaatkan sebagai bahan masakan dan minuman, yang kemudian dijual ke pasar.

Kepala Desa Gajah Mati, Surianak mengatakan mayoritas warganya bekerja di bidang perkebunan dan pertanian. Sedangkan pengolahan toga menjadi penghasilan tambahan bagi mereka. Hampir sebagian besar masyarakat di desa tersebut, kini sudah menerapkan usaha tanaman obat keluarga.

"Sekarang masyarakat desa kami mulai membuat obat herbal dari tanaman obat keluarga yang ditanam sendiri di pekarangan rumah. Selain dimanfaatkan untuk membantu kesehatan masyarakat, toga yang sudah diolah dijual di pasar," terang Suriana kepada Media Indonesia, di sela-sela Media Field Trip dan pembukaan media kompetisi Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Wilayah Sumsel di Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi
Banyuasin, Rabu (2/10).

Ia menjelaskan, saat ini ada ratusan tanaman obat tersedia di desa tersebut. Mulai dari kumis kucing, cabe jawa, kunyit putih, remek daging, sosor bebek, sirih merah, keladi tikus, lidah buaya, jahe, daun iler, daun kelor, sambiloto, temulawak dan sebagainya.

"Alhamdulillah, obat herbal yang diolah masyarakat ini, bukan hanya membuat masyarakat sehat, namun juga mampu menambah perekonomian dan pendapatan masyarakat di desa ini," jelasnya.

Hebatnya lagi, kata Surianak, masyarakat juga memanfaatkan tanaman obat ini dalam produk makanan dan minuman sehari-hari. Ia mengaku, kemajuan masyarakat desa ini juga didukung SKK Migas dan PT Medco E&P Indonesia, yang  sudah membantu dalam penyediaan peralatan, hingga pelatihan-pelatihan.

"SKK Migas dan PT Medco E&P Indonesia membantu masyarakat desa kami mengembangkan usaha obat herbal ini. Sekarang desa kami pun menjadi terkenal dengan obat herbal dan dilirik oleh banyak pihak," jelasnya.

Ketua Kelompok Toga Kenanga sekaligus Koordinator Koperasi Wanita Herbal Bersatu, Yeni Lusmita mengatakan, obat herbal kini banyak diminati masyarakat. Hal ini yang menjadi peluang bagi masyakat di desa ini untuk mengembangkan usaha ini.

"Pengetahuan akan obat herbal awalnya tidak banyak diketahui masyarakat desa, karena itu kami menginisiasi dengan memulai pelatihan-pelatihan dan edukasi ke masyarakat desa kami. Dan alhamdulillah sekarang sudah mulai berkecimpung ke usaha ini," jelas Yeni Lusmita.

Masyarakat desa, baik kaum laki-laki dan perempuan awalnya hanya fokus bertani dan berkebun baik sawit maupun karet. Kini mereak sudah mulai  meniti usaha obat herbal.

"Sejak tahun 2000-an kami memulai usaha ini. Oleh karena obat herbal diminati banyak pihak membuat kami pun mencoba mengembangkannya. Kini bisa membantu menambah pendapatan masyarakat," jelasnya.

Tidak tanggung, satu kelompok bisa mendapatkan keuntungan hingga mencapai Rp10 juta per bulannya.

"Awalnya memang mereka (masyarakat desa) kurang antusias. Tapi setelah melihat prospeknya, akhirnya setelah pulang dari kebun, mereka  fokus mengolah obat herbal ini. Ada lebih dari 200 jenis tanaman obat yang diolah masyarakat desa kami," jelasnya.

Dalam pengembangan bisnis olahan herbal ini, ada pembagian kelompok sehingga masing-masing kelompok tidak sama. Ada kelompok pembuat teh herbal. Kelompok lain membuat sirup herbal hingga makanan dan minuman herbal lainnya.

"Kami dibantu oleh Medco E&P Indonesia dan SKK Migas untuk peralatan seperti alat pengemasan kapsul obat, teh, dan sebagainya. Ini yang membuat kami bisa dengan mudah mengolah dan memasarkan produk-produk obat herbal kami," kata Yeni lagi.

Adapun produk yang sudah banyak dihasilkan dan menjadi produk andalan seperti teh kunyit, teh jahe, serbuk minuman temulawak, sirup buah rosella, kunyit asem herbal, keripik daun iler, minyak kelapa virgin, keripik bayam, dan sebagainya. Harga jualnya pun beragam mulai dari Rp10.000 hingga Rp50.000 per kemasan.

Pasar produk herbal ini sangat terbuka lebar. Sedangkan biaya produksinya tidak begitu mahal. Penjualan produk herbal dari Desa Gajah Mati ini sudah sampai ke Lampung dan Jakarta. Juga dijual di supermarket di seputar Sumatra Selatan.

Kelompok-kelompok usaha ini pun akhirnya bisa ikut pameran di Palembang untuk menambah jaringan usaha. Yeni menerangkan, produk Desa Gajah Mati ini sudah mendapat lisensi herbalis pada 2015, juga perizinan dari dinas kesehatan dan BPOM. Di era milenial ini pun, warga desa Gajah Mati juga memasarkan produk mereka melalui pasar online.

Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagsel, Adiyanto Agus Handoyo menyambut baik usaha yang dilakukan warga Desa Gajah Mati. Menurutnya sejumlah KKKS di wilayah Sumsel tidak hanya fokus pada pertambangan migas, tapi juga pembinaan dan pengembangan masyarakat Ia menyebut, di Sumsel ini ada sekitar 20 KKKS yang bermitra dengan UMKM dan fokus pada pembinaan serta pengembangan masyarakat.

baca juga: Pemerintah Lakukan Langkah Cepat Pasca Gempa Maluku

"Sudah cukup banyak KKKS di wilayah kita yang melakukan pembinaan masyarakat. Biasanya KKKS ini melihat apa yang menjadi unggulan di desa yang berada di wilayahnya, tergantung keunikan dan apa yang bisa dikembangkan," tandasnya. (OL-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More