Rabu 02 Oktober 2019, 13:20 WIB

Curhatan Kehidupan Lukas Graham

Fathurrozak | Weekend
Curhatan Kehidupan Lukas Graham

MI/Fathurrozak
Konser Lucas Graham di Kota Kasablanka, Jakarta, tadi malam.

KETENARAN Lukas Graham melalui single 7 Years beberapa tahun silam masih melekat hingga kini. Bisa dianggap sebagai antitesis 'fabrikasi' warga negara-negara Skandinavia memiliki kehidupan paling bahagia. Nyatanya kepiluan bocah bernama Lukas Graham Forchhammer, yang besar di kawasan kumuh di Copenhagen itu, jadi salah satu bukti penyintas kehidupan yang keras.

Berdasarkan penelitian terbaru dari peneliti pascadoktoral Ziggi Ivan Santini, peneliti senior Vibeke Jenny Koushede, yang berafiliasi dengan University of Sourthen Denmark, dan Chair of Public Healt University of Warwick, membantah gagasan Eropa Utara lebih bahagia dibandingkan Eropa Selatan. Mereka menerapkan dua skala 'Merasa Baik' (santai, optimis, atua energik) dan 'Berfungsi dengan Baik' (Berpikir jernih, menangani masalah, dan bersosialisai) kepada masyarakat Denmark.

Lalu mereka membandingkan tingkat kesehatan mental nasional orang Denmark dengan mereka yang tinggal di Islandia, Catalonia, Spanyol, dan Inggris. Hasilnya orang-orang di Catalonia memiliki skor yang jauh lebih tinggi dibandingkan di ketiga negara di wilayah Eropa utara.

Boleh jadi, skala yang ditetapkan kedua peneliti itu bisa menjadi acuan pertanyaan yang akan memunculkan jawaban bagaimana kondisi kesehatan mental Forchhammer. Forchhammer sempat hidup di bawah ambang kemiskinan, dan kini mencicipi ambang atas ekonomi.

The Purple Album bisa menjadi salah satu medium pembacaan pertumbuhan karya, yang secara pararel merefleksikan kehidupan mereka. The Purple Album memang terkesan menjadi suatu melankolia. Balada-balada kepedihan yang bertempo upbeat.

'Lukas Graham The Purple Asian Tour-Live in Jakarta 2019' merupakan kunjungan perdana band asal Denmark ini ke Jakarta, setelah menyambangi Thailand. Dengan sedikit mencibir dirinya, sang vokalis band Lukas Graham, menyebut Indonesia hanya sebagai impian.

"Selayaknya anak kecil dari keluarga kaya, Indonesia jadi salah satu destinasi liburan, dengan Balinya. Sementara saya dulu yang tumbuh di lingkungan yang warganya jarang punya toilet sendiri, hanya bisa berangan-angan dengan ayah saya untuk bisa ke sini," ceritanya di sela membuka konser yang dilaksanakan di The Kasablanka Hall, Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Selasa (1/10) malam.

Konser dalam rangkaian promo album ke tiga mereka ini menyerukan pesan Forchhammer, di mana manusia pada dasarnya tumbuh dan terus melaju. The Purple Album yang memiliki 10 single, salah satunya Lullaby, yang Forchhammer tulis dua minggu setelah memiliki putri, dan berpikir bagaimana ia menjadi seorang ayah saat ini, dan kelak.

Secara teknis, visual panggung, dan tata audio, tidak ada yang minor dari konser ini. Band yang juga mencomot nama sang vokalis untuk menjadi nama grup musik mereka ini, membawa pesan, bahwa mereka yang mungkin saja dulunya ialah datang dari kelas proletar, kini berada pada titik menuju kulminasi karier juga masih menghadapi problematika kemanusian mereka. Persoalan Forchhammer yang curhat bahwa ia juga toh tetap harus menghasilkan uang demi tugasnya menjadi bapak. Sehingga tidak menyusahkan kehidupan anaknya pada kemudian hari.

Bisa dikatakan, konser ini juga beresonansi pada spektrum yang memberikan dorongan bagi para pendengarnya untuk merawat, menjaring celah, dan mengempa kecakapan personal, sosial, dan kreativitas sebagai upaya kita untuk turut andil peran dalam suatu masyarakat. Energi positif yang ditularkan Lukas Graham ialah seruan kita untuk tetap 'merasa baik' ; berpikir jernih menangani problematika dan cakap bersosialisasi.

Lukas Graham total membawakan 18 lagu dari ketiga albumnya termasuk dari dari trek album baru seperti Lullaby, Love Someone, Say Yes, Hold My Hand, dan tentunya ditutup dengan emosional dengan 7 Years oleh para penonton yang hadir. Konser dibuka Gisella Anastasia ditemani Gempita Nora Marten di atas panggung untuk ikut bernyanyi. (the conversation/M-3)

Baca juga : 1 Dekade Hari Batik, Desainer Buat Produksi Batik Ekologis

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More