Rabu 02 Oktober 2019, 10:45 WIB

Sriwijaya dan Garuda Berbaikan Lagi

Faustinus Nua | Ekonomi
Sriwijaya dan Garuda Berbaikan Lagi

ANTARA /MUHAMMAD IQBAL
Direktur Utama Citilink Juliandra (tengah), Direktur Utama GMF Tazar Marta Kurniawan (kiri) dan Komisaris Sriwijaya Air Jefferson Jauwena

 

GARUDA Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group kembali menyepakati komitmen kerja sama manajemen (KSM) yang sempat terhenti  akibat ketegangan kedua belah pihak beberapa waktu lalu.

Dengan terjalinnya kembali komitmen kerja sama itu, operasional Sriwijaya Air Group yang sempat terseok-seok kembali pulih.

Anak usaha Garuda, yakni PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk, akan kembali melakukan jasa perawatan bagi pesawat Sriwijaya dan Nam Air. Dengan demikian, pesawat-pesawat milik Sriwijaya Group yang sempat berhenti mengudara dapat terbang kembali.

Direktur Citilink Indonesia ­Juliandra Nurtjahjo  dalam konferensi pers di Tangerang, Banten, kemarin, menjelaskan ada  beberapa faktor  yang menjadi pertimbangan pihaknya kembali menjalin kerja sama dengan Sriwijaya.

Pertama terkait safety atau kelaikan pesawat-pesawat Sriwijaya yang perlu diperhatikan. Menurutnya, safety menjadi prioritas utama dalam dunia penerbangan.

Kemudian terkait kepentingan pelanggan. “Kepentingan pelanggan sangat menjadi pertimbangan kenapa kita berkomitmen lagi untuk melanjutkan kerja sama manajemen,” jelasnya.

Faktor ketiga yang jadi pertimbangan ialah ­bagaimana menyelamatkan aset Sriwijaya sebagai aset negara. Pihaknya ingin mendukung dan mendorong kondisi Sriwijaya untuk menjadi lebih baik lagi.
 
Faktor keempat, ia ­menyebutkan pihaknya ingin menciptakan ekosistem penerbangan di Indonesia yang sehat. Dengan mendukung Sriwijaya, banyak hal yang bisa diperbaiki untuk transportasi udara Indonesia yang lebih baik.

“Dari alasan-alasan tersebut kita berkomitmen melanjutkan kerja sama lagi, dimulai dengan dukungan operasional secara bertahap kepada pesawat-pesawat Sriwijaya Air,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I Jauwena menyambut baik upaya melanjutkan kerja sama manajemen tersebut. “Kita memulai lagi pelayanan dengan keselamatan penerbangan yang bisa kita capai,” ujarnya.

Menyehatkan

Saat ini, Sriwijaya Air ­mempunyai utang yang cukup besar. Selain kepada Garuda Indonesia Group, Sriwijaya Air Group juga menunggak utang kepada BUMN lain, yaitu PT Pertamina, Angkasa Pura I dan II, Airnav Indonesia, serta lainnya dengan total Rp2,46 triliun terhitung pada Oktober 2018.

“Apabila kerja sama ini ­lancar, Sriwijaya bisa sehat kembali.  Utang yang cukup besar bisa dibayar mengingat Sriwijaya Group mengoperasikan sekitar 55 pesawat dan sebagian besar merupakan milik sendiri. Hanya mungkin cashflow yang agak terganggu akhir-akhir ini,” ujar anggota ­Ombudsman RI Bidang Perhubungan dan Infrastruktur Alvin Lie ketika dihubungi.

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi langkah rujuk Garuda dan Sriwijaya.

Direktur Jenderal Perhubung­an Udara, Polana B Pramesti,  berharap krejasama itu mampu memulihkan kondisi operasional maskapai Sriwijaya Group dan mendukung industri penerbangan nasional. (Ant/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More