Rabu 02 Oktober 2019, 10:25 WIB

Segarnya Riau tanpa Asap

Rudi Kurniawansyah | Nusantara
Segarnya Riau tanpa Asap

MI/Rudi Kurniawansyah
TNI AU Tambah Dua Pesawat Dukungan Hujan Buatan di Riau (14/09)

 

KEMARIN, Pekanbaru dan sejumlah kabupaten di Riau tampil beda. Tanpa asap, yang ada hanya udara segar yang sehat.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Riau mencabut status Tanggap Darurat Pencemaran Udara akibat Kabut Asap Kebakaran Hutan dan Lahan. Status itu sempat diberlakukan sejak 23 September lalu.

“Dengan pencabutan status itu, berarti seluruh posko evakuasi dan rumah singgah bisa ditutup sementara,” ujar Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Ahmad Syah Harrofie.

Dia menuturkan pencabutan status tanggap darurat diputuskan setelah pihaknya memastikan kondisi kualitas udara dan perkembangan cuaca yang terus membaik di Riau. Dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi terus mengguyur wilayah ini sehingga kabut asap pun menghilang.

“Saat ini kondisi indeks standar pencemaran udara pada sejumlah daerah menunjukkan kualitas baik hingga sedang. Suasana lebih segar terasa di Pekanbaru, Siak, Kampar, Dumai, Bengkalis, dan Rokan Hilir selama tiga hari terakhir,” jelas Ahmad.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga menyatakan tidak ada titik api. Angin yang ber-embus dari barat daya ke timur laut juga membuat asap kiriman dari daerah lain tidak menumpuk di Riau lagi. Namun, meski asap menghilang, tim Satgas Pemadaman­ tetap bekerja. Mereka harus memastikan tidak ada lagi api di lahan gambut.

Sekolah lagi

Langkah serupa juga dilakukan Wali Kota Palangka Raya, Kalimantan­ Tengah, Umi Mastikah, yang daerahnya terus dihembalang asap dua bulan terakhir. “Status Tanggap Darurat Kebakaran Hutan dan Lahan tidak diperpanjang, dan berakhir pada 30 September,” tuturnya.

Udara pagi, siang, dan malam di Palangka Raya sudah berubah. Dari menyesakkan karena asap menjadi segar karena oksigen yang terhirup. “Kota Cantik ini sudah mulai membaik. Tim Satgas melakukan langkah pemulihan di berbagai bidang setelah Status Tanggap Darurat dicabut,” lanjut Umi.

Namun, lanjutnya, pemerintah kota tetap waspada terhadap potensi berulangnya kejadian kebakaran hutan dan lahan. “Kami bersyukur karena asap jauh sangat berkurang, jarak pandang dari ratusan meter menjadi beberapa kilometer dan anak-anak sekolah dari TK, SD dan SMP sudah bisa masuk sekolah lagi,” tandasnya.

Sementara itu, di Bangka Belitung, upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Jalan Lintas Timur Bangka terkendala ulah sejumlah orang. Seperti diungkapkan Kepala BPBD Bangka Belitung Mikron Angkasa, sekelompok warga itu meng-ancam tim stgas yang melakukan pemadaman.

“Petugas diancam orang tidak dikenal. Mereka mengancam akan melakukan tindakan kekerasan jika tim berani memadamkan api,” tambahnya.
BPBD sudah berkoordinasi dengan aparat TNI dan kepolisian. Dalam waktu dekat, pelaku akan segera ditangkap.

Saat kebakaran hutan dan lahan mereda di Kalimantan dan Sumatra, hutan di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah masih berkobar. Di NTT, hutan lindung Egon Ili Medo di Desa Blidit, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, seluas 20 hektare dilumat api.

Polres Kebumen juga meningkatkan patroli di kawasan hutan guna mencegah kebakaran. Pun di Temanggung, BPBD juga aktif mengeluarkan imbauan untuk tidak menyalakan perapian di kawasan hutan. (RF/PO/FB/LD/TS/SS/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More