Rabu 02 Oktober 2019, 00:00 WIB

Ibu Malanutrisi Berisiko Lahirkan Bayi Sumbing

MI | Humaniora
Ibu Malanutrisi Berisiko Lahirkan Bayi Sumbing

Ilustrasi
Ibu Malanutrisi Berisiko Lahirkan Bayi Sumbing

 

SETIAP tahunnya lahir 4,2-4,8 juta bayi di Indonesia, dan satu di antara 500 bayi itu terlahir dengan celah pada bibir (sumbing). Sayangnya, masih banyak orangtua yang tidak paham penanganan apa yang diperlukan untuk menghadapinya.

Padahal jika dibiarkan, penderita bibir sumbing bisa mengalami gangguan berbicara dan itu jelas memengaruhi­ kehidupan sosialnya di masa depan. Hal itu ditegaskan Kepala Departemen Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi  RSCM-FKUI Luh Karunia Wahyuni dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (24/9).

Bibir sumbing adalah kelainan bawaan yang terjadi pada bayi yang ditandai dengan adanya celah pada bibir dan langit-langit mulut. Bibir sumbing memiliki sebab multifaktorial, salah satunya karena tidak tercukupinya nutrisi ibu hamil. “Bisa juga disebabkan karena selama kehamilan, ibu sering sakit dan pernah terkena infeksi. Lalu, ada juga faktor genetik dan konsumsi obat di luar rekomendasi dokter.”

Setiap tahunnya sekitar 8.000 bayi lahir dengan bibir sumbing. Menurut Luh, angka kasus bibir sumbing terus meningkat. Ketika mengetahui anaknya sumbing, kata Luh, orangtuanya  mesti menguatkan mentalnya dan mencari tahu penanganannya secara medis.

Pasalnya, jika kondisi tersebut dibiarkan akan terjadi komplikasi insufisiensi velofaringeal, yaitu terdapat gangguan pada bagian belakang tenggorok yang berdampak mengganggu aktivitas berbicara atau makan. “Gangguan bicara itu seperti suara sengau dan artikulasi yang tidak jelas. Lalu, makan tentu akan berkurangnya asupan nutrisi,” imbuhnya


Bukan diturunkan

Gangguan bicara anak tidak hanya disebabkan bibir dan lelangit sumbing,  tetapi juga terdapat faktor lain yang bisa muncul dari lingkungan­ terdekatnya.
Luh menyatakan, kemampuan bicara seseorang adalah proses belajar dan bukan diturunkan sejak lahir. Maka, peran yang sangat penting dari perkembangan komunikasi anak ialah orangtuanya.

Untuk dapat berbicara, sergahnya, seorang anak harus memenuhi prasyarat penting, di antaranya pendengaran yang baik, atensi (tatapan mata), dan struktur bibir dan rongga mulut (cleft) yang baik.
Semua unsur tersebut harus diperhatikan orangtua sejak anak lahir, bahkan mulai dari kandungan.
“Pada kasus cleft yang terganggu maka yang terganggu itu bicaranya karena struktur di bibir bisa juga di langit-langit belakang dan depan bermasalah. Ini masalah anatomis yang perlu juga dikoreksi untuk perbaikan bicara,” jelasnya.

Jika ada gangguan pendengaran harus ditangani THT, dan jika tidak, mau tidak mau kontak mata berarti masalahnya bukan hanya di bibir dan langit-langit, melainkan juga ada masalah lain. “Kalau anak ini tidak paham diajak ngomong tidak mengerti dan kesulitan analisis, mungkin kognitifnya yang bermasalah,” rincinya.

Koordinator UPK Cleft Craniofacial Center RSCM Kristaninta Bangun menambahkan, gangguan bicara karena bibir dan lelangit­ sumbing banyak terjadi di Asia, khususnya ras kaukus Asia. “Selain sumbing juga came (kondisi rahang tidak seimbang atau lebih ke depan), sedangkan kalau Eropa itu kurang, dan itu disebabkan gen kita yang sampai saat ini belum sampai ke sana,” ungkapnya.

Kondisi itu tidak bisa dihindari tetapi ibu hamil bisa memperkecil potensi tersebut dengan rajin mengonsumsi­ vitamin B kompleks dan makanan bernutrisi. (Sru/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More