Selasa 01 Oktober 2019, 19:10 WIB

1001 Cara Bicara, Komunikasi Terbuka Orangtua kepada Remaja

Rosmery Sihombing | Humaniora
1001 Cara Bicara, Komunikasi Terbuka Orangtua kepada Remaja

MI/Rosmery Sihombing
Rendahnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi (kespro) menjadi salah satu penyebab terjadinya kehamilan dan pernikahan remaja

 

RENDAHNYA pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi (kespro) menjadi salah satu penyebab terjadinya kehamilan dan pernikahan remaja yang masih tinggi di Indonesia. Kejadian tersebut tentu berdampak pada ketahanan keluarga.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan 33,5% remaja perempuan usia 15-19 tahun sudah hamil dan mengalami risiko kurang energi kronis. Kurangnya pengetahuan remaja tentang kespro tersebut salah satunya disebabkan sebagian besar orangtua hingga saat ini belum berani terbuka berbicara seksualitas kepada anak remaja mereka. Bahkan menganggap tabu.

Untuk itu, laman parenting dan referensi orangtua seputar kespro dan seksual, SKATA akan meluncurkan kampanye 1001 Cara Bicara, pada 24 Oktober 2019 di Jakarta.

Situs tersebut berada di bawah naungan Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

"1001 Cara Bicara berusaha untuk menjembatani missing link antara orangtua dan anak remaja. Selama ini orangtua sangat bersemangat untuk belajar parenting saat anak-anak mereka masih kecil. Namun berhenti saat anak semakin besar. Lalu, anak beranjak remaja dan orangtua menjadi bingung karena ternyata tantangannya cukup besar," jelas Dinar Pandan Sari, Demand Generation Officer di JHCCP, di salah satu rangkaian acara Konferensi Internasional I Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (ICIFPRH), di Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (1/10).

Padahal, lanjutnya, orangtua berperan penting dalam menyampaikan informasi yang akurat, memberikan motivasi, keterampilan sikap, dan menjadi role model dalam mempraktikkan perilaku yang dimaksud.

SKATA (melalui www.skata.info) berupaya untuk mengembalikan peran orangtua sebagai referensi pertama anak terutama soal edukasi seks dan kesehatan reproduksi.


Baca juga: 10 Tahun Gempa Sumbar, Siap Siaga Hadapi Bahaya


"Berbicara kespro sebenarnya merupakan landasan yang dapat menentukan masa depan sebuah bangsa. Sebab tidak hanya akan mempengaruhi kualitas kesehatan dan keluarga, tetapi juga secara tidak langsung berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu negara," tambahnya.

1001 Cara Bicara didesain menjadi sebuah program yang terkesan sederhana namun bisa berdampak luar biasa besar di kemudian hari. Melalui e-book, video tips singkat, dan berbagai produk serta aktivasi digital dan offline,diharapkan program tersebut dapat memberi inspirasi bagi orangtua untuk mencari cara yang tepat tentang bagaimana harus berkomunikasi dengan anak remaja,

Dalam simulasi yang diperagakan oleh bapak, ibu dan anak, tampak mereka bermain kartu.Setiap kartu yang diambil tertera tulisan. Salah satunya 'Pernahkah kamu membolos sekolah dan apa alasannya?. Siapun yang mengambil kartu itu harus menjawab, lalu jawaban itu ditulis dalam buku jurnal. Demikian seterusnya.

"Semuanya bisa diakses dengan mudah melalui situs online," tambah Dinar.

Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Pengembangan Program Bina Ketahanan Remaja BKKBN, Asep Sopari, mengatakan pihaknya mendukung sepenuhnya program 1001 Cara Bicara.

"Sebab kami sadar betul betapa krusialnya waktu yang dihabiskan bersama di dalam keluarga, termasuk pentingnya melekatkan hubungan emosional orangtua dengan anaknya. Sebab itu pada awal tahun ini kami telah meluncurkan Gerakan Kembali ke Meja Makan sebagai upaya untuk menguatkan kembali fungsi keluarga," tambahnya.

Menurut Dinar dan Asep program 1001 Cara Bicara akan menyasar komunitas-komunitas, media, dan rekanan BKKBN maupun JHCCP. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More