Selasa 01 Oktober 2019, 13:37 WIB

Batik Nitik Didaftarkan HKI

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
Batik Nitik Didaftarkan HKI

Mi/Usman Iskandar
Ilustrasi

 

MENYAMBUT hari batik nasional pada 2 Oktober, Paguyuban Batik Tulis Nitik Yogyakarta akan mendatarkan batik nitik untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Indikasi Geografis. Ketua Paguyuban Batik Tulis Nitik Yogyakarta, Afif Syakur mengatakan batik nitik akan menjadi motif batik pertama di Indonesia yang diajukan untuk memperoleh predikat produk indikasi geografis dari Kemenkumham RI.

Indikasi geografis adalah tanda yang menunjukkan daerah asal suatu produk karena faktor lingkungan geografis. Bisa karena faktor alam, faktor manusia, atau kombinasi keduanya yang memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada produk yang dihasilkan.

"Batik nitik memang layak menjadi salah satu produk indikasi geografis untuk DIY," jelas Afif usai bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Senin (30/09), di Komplek Kepatihan.

Ia berharap, nantinya batik nitik bisa lebih dikenal dan dipahami oleh masyarakat Indonesia maupun internasional. Batik nitik memiliki kekhasan, yaitu bentuk cantingnya yang khusus dan cara membatiknya juga khusus.

"Canting untuk membuat batik nitik ujungnya harus dibelah menjadi segi empat," jelas dia.

Cara membatiknya pun memiliki khas yang tidak dilakukan di tempat lain. Yaitu menyusun ribuan nitik dengan ketepatan ukuran dan jarak yang tepat sehingga membentuk ruang sudut dan bidang geometris yag sempurna.

Jika dilihat dari historisnya, batik nitik merupakan salah satu motif batik tertua di Yogyakarta yang diciptakan oleh kerabat Keraton Yogyakarta. Motif ini berkembang pada era Hamengku Buwono VII.

baca juga: Pemkab Pidie Siap Populerkan Kopi Liberika

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Aris Riyanto menambahkan, setelah terdaftar di HKI batik nitik bisa memperkaya khazanah batik tulis di DIY.

"Memperoleh HKI dari Kemenkumham berarti sejarah tentang batik nitik yang dulunya dikembangkan di Yogyakarta ini bisa diketahui lebih luas dan akan lebih menghargai," pungkas dia. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More