Selasa 01 Oktober 2019, 13:15 WIB

Perawatan Intensif Bukan Penghalang Bayi dapat ASI

Eni Kartinah | Humaniora
Perawatan Intensif Bukan Penghalang Bayi dapat ASI

AFP/Mohammed Huwais
Bayi yang dirawat intensif di fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) tetap mendapat air susu ibu (AS).

 

TIDAK setiap bayi dilahirkan dalam kondisi sehat. Ada beberapa kondisi yang membuatnya harus langsung dirawat intensif di fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU) rumah sakit.

Misalnya, karena lahir prematur atau ada gangguan tertentu. Meski dirawat di inkubator dengan berbagai peralatan medis menempel di tubuh, idealnya bayi tetap harus diberi Air Susu Ibu (ASI), meski tidak dengan menyusu langsung. Kedekatan dengan orangtua juga sangat dibutuhkan si bayi.

“ASI dan interaksidengan ibu sangat dibutuhkan dalam proses perbaikan kondisi bayi di NICU. Hal ini sudah dibuktikan di berbagai penelitian, salah satunya pemberian ASI dengan cara oral therapy pada bayi yang belum dapat minum. Sayangnya belum banyak NICU yang mendukung terciptanya interaksi ini,” ujar dokter spesialis anak konsultan neonatal dari Rumah Sakit Siloam kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta, dr Naomi Esthernita F Dewanto SpA(K), beberapa waktu lalu.

Ketika kondisi bayi belum bisa memungkinkan untuk menyusu langsung, lanjut dr Naomi, yang perlu dilakukan ialah memerah ASI si ibu. Nantinya, hasil perahan di berikan pada bayi.  Dalam hal ini, dukungan dokter dan perawat rumah sakit sangat dibutuhkan untuk membantu ibu memerah ASI-nya.

“Kadang ibu risau karena merasa ASI-nya sedikit. Padahal, di waktu-waktu awal kelahiran bayi, produksi ASI memang masih sedikit. Yang harus diingat, ASI itu sangat dibutuhkan si bayi, jadi meski saat diperah ASI-nya hanya keluar 1 milliliter, itu sudah sangat bagus dan perlu diberikan pada bayi,” terang dr Naomi yang juga Ketua Tim NICU SHKJ itu.

Ia menambahkan, SHKJ menerapkan Family Center Care (FCC) NICU, yaitu ibu dan bayi berada di satu ruangan. “Dengan konsep ini, ibu tetap bisa dekat dengan bayi dengan pemberian sofa khusus di samping bayi. Konsep ini memungkinkan kita memberikan pelayanan yang komprehensif dan holistik dalam penanganan yang mengandalkan keluarga,” katanya.

Di negara maju, konsep ini sudah lama sekali diterapkan. Orang tua bisa berpartisipasi dalam merawat bayi selama perawatan di NICU seperti mengganti popok hingga melakukan kangaroo mother care (untuk bonding ibu ke bayi) untuk mendukung pemberian ASI eksklusif. Hingga saat ini, keberhasilan pemberian ASI eksklusif di NICU SHKJ mencapai 61%.

“Kami sangat mendukung pemberian ASI, sekalipun bayi masih dalam perawatan di NICU. Cakupan ASI yang diberikan juga harus tinggi karena ASI mengandung faktor pertumbuhan dan faktor imun yang tidak didapat di susu formula,” jelas dr Naomi.

Salah satu ibu dari salah satu pasien yang pernah dirawat di NICU SHKJ, Astra Dea Siamnungkalit, menuturkan pengalamannya.

“Di NICU SHKJ, ibu sangat difasilitasi untuk memberikan ASI melalui pengingat jadwal menyusui, penyediaan fasilitas mandi dan baju khusus NICU, hingga penyimpanan dan pemberian ASI perah. Komitmen seperti ini tidak saya temukan pada rumah sakit tempat saya melahirkan anak pertama saya. Semoga pelayanan dan komitmen yang baik ini dapat terus dilanjutkan,” tuturnya. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More