Selasa 01 Oktober 2019, 13:00 WIB

Pemburu Ibu Hamil Risti Tekan Kematian Ibu dan Anak

Indriyani Astuti | Humaniora
Pemburu Ibu Hamil Risti Tekan Kematian Ibu dan Anak

MI/Indriyani Astuti
Penjual sayur yang juga kader untuk memburu para ibu hamil. Inovasi dari puskesmas Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur

 

PUSKESMAS Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mempunyai cara tersendiri dalam melakukan pendekatan terhadap ibu hamil agar mau memeriksakan kandungan mereka. Puskesmas itu melibatkan para pedagang sayur untuk mendata ibu hamil terutama mereka yang masuk kategori risiko tinggi.

Salah satu Koordinator Pemburu Ibu Hamil Risti di Desa Panjen, Kecamatan Sempu Khusnul Khotimah, 47, menuturkan sudah tiga tahun menjadi pemburu ibu hamil.

Ia berjualan sayur sambil mendata ibu hamil yang ada di wilayahnya dan membujuk mereka agar mau ke Puskesmas untuk memeriksakan kandungan.

"Kita melihat di lapangan banyak ibu hamil risti jauh dari jangkauan puskesmas. Tiap hari bertemu orang-orang belanja, kita jualan dan bisa membantu mereka agar periksa ke puskesmas," tutur Khusnul ketika ditemui pasar di Desa Panjen, Sempu, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (1/10).

Setelah memburu ibu hamil, Khusnul melaporkan kondisi mereka ke petugas puskesmas.

Baca juga: Menkes Berbelasungkawa untuk Tenaga Kesehatan Gugur di Wamena 

Ia menjelaskan satu pemburu menjangkau satu desa dan ada satu bidan pendamping.

Di satu Puskemas Kecamatan Sempu, ada 10 pemburu ibu hamil.  Para pemburu ibu hamil diberikan sosialisasi terlebih dahulu mengenai seperti apa kondisi risiko tinggi pada ibu hamil.

Ibu hamil yang masuk kategori risiko tinggi, terang Khusnul, berusia di atas 35 tahun atau di bawah 20 tahun, pernah melahirkan dengan operasi caesar, bayi dalam kandungannya posisi melintang atau sungsang, dan jarak kelahiran antara anak pertama dan kedua sangat dekat atau sangat jauh.

Dalam satu hari, saat menjajakan sayuran, ia mengaku bertemu dengan satu atau dua ibu hamil.

Selain itu, ada juga Laskar Sakinah yang dibentuk Puskesmas. Mereka membantu melakukan pemeriksaan ibu hamil hingg melahirkan sampai masa nifas. Selain itu, ada juga pendampingan kepada anak-anak dan ibu menyusui mengenai gizi.

Khusnul pernah mendapatkan ibu hamil risiko tinggi berusia 16 tahun. Umumnya mereka enggan dan malu-malu ketika didekati. Oleh karena itu, agar mereka mau melahirkan di fasilitas kesehatan, dilakukan pendekatan berbeda dengan mengajak mengobrol saat berbelanja sayuran.

"Kami berharap dengan memeriksakan kandungan dan melahirkan di fasilitas kesehatan, angka kematian ibu dan bayi turun," tukasnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More