Selasa 01 Oktober 2019, 10:41 WIB

Gelombang Unjuk Rasa Menuntut Presiden Haiti untuk Mundur

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Gelombang Unjuk Rasa Menuntut Presiden Haiti untuk Mundur

AFP/Chandan Khanna
Ratusan demonstran turun ke jalan menuntit Presiden Haiti Jovenel Moise di Port-au-Prince, Haiti.

 

RATUSAN pemrotes berunjuk rasa di Haiti, Senin (30/9), menanggapi seruan oleh oposisi dan militan antikorupsi agar turun ke jalan dan membangun penghalang jalan untuk memaksa Presiden Jovenel Moise mengundurkan diri.

Di Port-au-Prince, polisi menembaki pengunjuk rasa yang mencoba membakar sebuah kantor polisi di lingkungan Aeroport Carrefour, melukai seorang reporter radio setempat. Para pengunjuk rasa berhasil membakar mobil polisi.

Di kota selatan Les Cayes, pengunjuk rasa membakar kantor polisi yang terletak di bagian selatan kota. Kantor lokal perusahaan listrik nasional EDH dijarah.

Di Fort Liberte, ratusan turun ke jalan lebih awal. Beberapa mengusung peti mati terbungkus kain putih, dihiasi dengan salib hitam dan kata-kata, 'Selamat tinggal Jovenel,' ditulis dengan spidol hitam di sisi-sisinya.

Kelompok Tet Ansanm pou Rebati Ayiti (Serikat untuk Membangun Kembali Haiti), yang mencakup berbagai organisasi oposisi, Minggu, menyerukan protes.

"Jovenel Moise bukan lagi presiden; rakyat telah memecatnya, tetapi rakyat harus tetap dimobilisasi. Penghalang jalan harus lebih tinggi dan mobilisasi harus lebih tinggi sampai kita menetapkan pemerintahan sementara," kata pengacara Andre Michel, anggota dari partai Democratic and Popular Sector.

Mengacu pada protes Jumat lalu yang dianggap oposisi sebagai keberhasilan nasional, Michel mengatakan, "Pada 27 September 2019, orang-orang memecat Jovenel Moise sebagai presiden mereka ... Jovenel Moise adalah presiden dalam persembunyian .... dia tidak lagi memimpin negara."

Moise tidak pernah terlihat atau terdengar sejak dia menyampaikan pidato nasional pada 25 September lalu, saat dia berusaha menenangkan negara yang geram dan memperluas rekonsiliasi ke oposisi.

Protes terbaru berasal dari keputusan pemimpin Haiti lebih dari setahun yang lalu yang mengakhiri subsidi bahan bakar, sebuah langkah yang datang atas permintaan Dana Moneter Internasional (IMF).

Moise telah membatalkan keputusannya setelah meletusnya kekerasan, namun frustrasi telah meningkat karena ketidakmampuannya untuk memperbaiki ekonomi dan mengakhiri korupsi.

Alih-alih, Moise telah membuat geram para oposisi dan pengunjuk rasa dan memicu protes yang paling merusak dan keras hingga saat ini.

Ditanya apakah Moise bersembunyi, penasihat presiden, Cange Mackenson, mengatakan kepada stasiun radio lokal bahwa presiden memiliki kendali atas negara dan 'mencerminkan seorang pelatih yang baik'.

Pada Minggu malam, serangkaian dekrit dikeluarkan oleh pelaksana tugas Perdana Menteri Jean Michel Lapin yang mengumumkan penunjukan kabinet baru untuk memimpin berbagaill kementerian, termasuk keuangan, perencanaan publik, migrasi, warga Haiti yang tinggal di luar negeri, dan pariwisata. Langkah ini mengikuti perombakan di kementerian dalam negeri dan peradilan.

Konferensi Para Uskup Katolik telah mengeluarkan pernyataan yang meminta presiden untuk menghadapi konsekuensi dari akibat tidak bertanggung jawabnya.

"Apakah ada kekerasan yang lebih buruk daripada hidup dengan rasa tidak aman yang terus-menerus? Apakah ada kesengsaraan yang lebih buruk daripada kesengsaraan yang menghilangkan semua harapan? Tidak seorang pun boleh pasrah menerima kesengsaraan, kemiskinan, dan kekerasan sebagai cara hidup," kata pernyataan itu.

"Para pejabat di tingkat pemerintahan tertinggi harus bertanggung jawab untuk menjamin negara dan lembaga-lembaganya dapat berfungsi dengan baik. Mereka secara moral bertanggung jawab atas keamanan dan kesejahteraan rakyat, yang pertama adalah presiden," tambahya.

Asosiasi seniman dan aktor juga mengecam krisis politik. Sebuah pernyataan yang dikeluarkan Minggu (29/9) menyebut korupsi dan impunitas sebagai penyebab utama.

Sementara itu, Republik Dominika dilaporkan memperkuat perbatasannya dengan Haiti, menambahkan lebih dari 1.000 tentara untuk meningkatkan keamanan untuk mengantisipasi protes yang direncanakan. (VOA/AFP/0L-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More