Selasa 01 Oktober 2019, 04:00 WIB

Gegap Gempita Jelang Piala Citra 2019

Galih Agus Saputra | Weekend
Gegap Gempita Jelang Piala Citra 2019

MI/M Irfan
Pemenang Piala Citra 2018 kategori Aktor Terbaik, Gading Marten, menjadi juru bicara Piala Citra tahun ini.

Komite Festival Film Indonesia (FFI) kembali meluncurkan Piala Citra 2019, di Jakarta, Senin, (23/9). Penghargaan itu merupakan ikhtisar bersama insan perfilman Indonesia dalam mencari, memilih, sekaligus mempromosikan karya anak bangsa terbaik sepanjang tahun, yang diharapkan dapat menjadi representasi pencapaian tertinggi terkait dunia perfilman nasional.

Masih sama seperti tahun sebelumnya, pada kesempatan ini Komite FFI menggelar Piala Citra dengan tema besar #FilmBagusCitraIndonesia. Komite telah menyiapkan serangkaian acara untuk memeriahkan acara tersebut mulai dari, seleksi film yang berhak mengikuti seleksi dan mendapatkan nominasi, pemutaran film, temu sapa, hingga malam puncak acara atau serah terima penghargaan.

Adapun film yang hendak dipilih untuk mengikuti seleksi FFI 2019 sendiri merupakan karya yang telah tayang di bioskop tanah air, pada periode 1 Oktober 2018 - 30 September 2019. Pada Oktober mendatang, FFI juga bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan RI di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN), dimana kegiatan pemutaran film, temu sapa, serta realisasi pengembangan pendanaan akan dilaksanakan pada kesempatan tersebut.

Pemutaran film PKN, nantinya akan diisi karya yang menjadi nominasi Piala Citra pada 2015 – 2018. Sementara dalam temu sapa akan dilaksanakan acara bincang mengenai film dari para sineas serta pemain film yang berkompetisi di FFI tahun ini. Adapun pengumuman nominasi FFI 2019 sendiri akan dilakukan pada November mendatang.

Setelahnya, akan dilakukan pemutaran film nominasi Piala Citra 2019 dan akan ada temu sapa kembali di tiga hingga lima kota di Indonesia yang memiliki bioskop dan sekolah seni. Ketua Komite FFI Periode 2018-2020, Lukman Sardi mengatakan bahwa kali ini FFI ingin merangkul insan perfilman yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Dalam realisasinya ia hendak menggandeng pemerintah daerah, yang mana hal itu dapat menjadi bagian penting bagi pertumbuhan kualitas perfilman di Indonesia.

"Industrinya memang ada di Jakarta, tetapi kelengkapan unsurnya tidak hanya ada di Jakarta. Oleh karena itu, dari sini diharapkan dapat memancing aktor-aktor di setiap daerah atau mungkin nanti juga dapat memunculkan, misalnya, kota film, sekaligus meningkatkan ketertarikan atau keterikatan (engagement) masyarakat dengan film Indonesia," tutur Ketua Komite FFI 2018-2020 Lukman Sardi.

Ia menambahkan, "Kita selama ini sebenarnya sudah dekat dengan penonton di manapun mereka berada, tapi kembali lagi, ini soal film Indonesia yang begitu banyak dan ini hanya baru beberapa persennya saja. Maka dari itu harus menjadi tanggungjawab kita bersama di berbagai daerah sehingga bisa saling bahu membahu memberikan sebuah karya untuk Indonesia."

Lukman selanjutnya juga mengatakan bahwa Piala Citra 2019 akan dimeriahkan dengan pemutaran film di sejumlah ruang stasiun MRT. Hal itu dipercaya dapat melekatkan posisi Piala Citra di hati masyarakat, yang kemudian juga diperkuat dengan adanya juru bicara Piala Citra 2019 yaitu Laura Basuki, Tara Basro, Chicco Jericho, dan Gading Marten. Sejumlah nama tersebut dipilih sebagai duta karena mereka adalah peraih penghargaan dalam perhelatan Piala Citra di tahun-tahun sebelumnya.

Kategori Baru

FFI yang pada kesempatan ini menjadi momenteum perayaan ke-39 diharapkan semakin kukuh posisinya sebagai otoritas kualitas film Indonesia. Oleh karena itu, Komite FFI telah menetapkan tiga kriteria yang digunakan sebagai dasar penilaian yaitu 'gagasan dan tema', 'estetika', serta 'profesionalisme'.

Selain itu, Ketua Komite Pemilihan dan Penilaian FFI 2019, Nia Dinata juga menambahkan bahwa pada kesempatan ini komite telah menentukan sejumlah daftar atau kategori film untuk FFI 2019 mulai dari 'Film Cerita Panjang', 'Cerita Pendek', 'Dokumeter', hingga 'Animasi'.

Baik film pendek, dokumenter, atau animasi Indonesia, kata Nia, tidak boleh luput dari perhatian komite, karena dewasa ini tumbuh kembangnya amat pesat. Sudah banyak seniman maupun karyanya yang melalang buana bahkan mendapat penghargaan di kancah film internasional.

"Mungkin selama ini dilewatkan dalam proses kurasi FFI di tahun-tahun sebelumnya. Maka dari itu, mulai sekarang kita akan menjalin kerjasama dengan institusi atau organisasi festival di aras lokal selain FFI," imbuhnya, yang turut hadir dalam konferensi pers peluncuran Piala Citra 2019 di The Tribata, Jakarta.

Adapun organisasi festival dalam negeri selain FFI yang dimaksud Nia itu sendiri, diantaranya adalah Minikino, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), BoemBoe Forum, Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, In-Docs, SoDoc, HelloFest, dan UCIFEST. Beberapa orang dari organisasi tersebut, nantinya akan dipercaya untuk masuk tim seleksi Piala Citra 2019 dan membuat daftar pendek yang akan dinilai oleh asosiasi profesi maupun komunitas film.

Tim seleksi FFI 2019 juga didukung oleh sejumlah kurator dari berbagai profesi yaitu akademisi hingga jurnalis. Mereka ikut menyeleksi seluruh film yang lulus sensor dan ditayangkan di bioskop Indonesia, lalu mengerucutkannya menjadi daftar pendek berisi sekitar 30-50 film. Pemilihan pemenang pada gilirannya akan dilakukan dengan mekanisme pemungutan suara (voting) anggota FFI yang mengonfirmasikan diri untuk ikut voting tahun ini. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More