Selasa 01 Oktober 2019, 03:25 WIB

Operasional Sriwijaya Terseok-seok

Raja Suhud  | Ekonomi
Operasional Sriwijaya Terseok-seok

AFP
Maskapai Sriwijaya Air

 

OPERASIONAL maskapai ­Sriwijaya dan Nam Air makin tertekan sebagai buntut dari koflik berkepanjangan Garuda Group yang merupakan mitra kerja sama operasional dari Sriwijaya Air Group. 

Saat ini anak usaha Garuda Group, yakni PT Garuda Maintenance Facilities (GMF) Tbk, telah menghentikan kerja sama perawatan pesawat milik Sriwijaya Air Group. 

Direktur Operasi Sriwjaya Air Captain Fadjar Semiarto menjelaskan banyaknya utang yang menunggak juga menjadi alasan pemutusan kerja sama dengan anak usaha Garuda Indonesia untuk perawatan pesawat itu.

“Ya karena outstanding, tunggakannya besar, walaupun sudah dicicil juga tidak bisa dimitigasi, jumlahnya Rp800 miliar, berpotensi macet,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.

Ia menambahkan perusahaan pun sudah berada dalam rapor merah, yaitu dalam kondisi hazard, identification, and risk assessment sudah berstatus merah 4A. Seperti diketahui, tingkat paling parah ialah 5A. Kondisi tersebut, menurut Fadjar, sudah tidak memungkinkan bagi sebuah maskapai untuk meneruskan operasional penerbangan.

Karena itu, pihaknya mengajukan surat rekomendasi untuk menghentikan sementara operasional Sriwijaya Air Group hingga kondisi sudah kembali memungkinkan, terutama kondisi finansial perusahaan.

“Dari kondisi finansial yang saat ini sedang berefek kepada hampir semua aspek, baik dari sisi operasi, sisi ko-mersial, maupun sisi teknis, kemudian sumber daya manusia dan paling berat finansial,” tukasnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Teknik Romdani Ardali Adang mengatakan pihaknya juga merasa khawatir sejak putus kontrak dengan GMF karena perawatan pesawat tidak terjamin.

“Saya terus terang sejak putus dengan GMF sampai saat ini khawatir karena status cukup merah. Spare part saja tidak, oli saja, ban pun terseok-seok,” katanya.

Selain kepada GMF, Sriwijaya Air Group juga menunggak utang kepada BUMN lainnya, yaitu PT Pertamina, Angkasa Pura I dan II, Airnav Indonesia, serta lainnya dengan total Rp2,46 triliun terhitung pada Oktober 2018.


Mengundurkan diri

Fadjar mengatakan permasalahan di tubuh Sriwijaya ditengarai karena adanya dua kepemimpinan.  Hal itu tidak lepas dari konflik dengan Garuda Indonesia, dari komisaris hingga pemecatan tiga direksi Sriwijaya Air.

“Kalau ada dualisme kepemimpinan, sama saja satu kapal ada dua kapten, satu dirut yang di dalam akta dan satu dirut urusan kontigensi. Selama ini masalah terjadi. Ini membuat saya sulit berkoordinasi,” ujarnya. 

Akibat surat rekomendasi penghentian operasional Sriwijaya Air tidak direspons oleh dewan direksi, ia dan Romdani Ardali mengajukan pengunduran diri. 
“Kita pikirkan karena surat ini tidak direspons dan tetap melanjutkan penerbangan secara normal. Kami berdua mengundurkan diri untuk menghindari konflik kepentingan,” tandasnya. (*/E-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More