Selasa 01 Oktober 2019, 01:10 WIB

Indro Warkop Trauma Peristiwa G30S

Zubaedah Hanum | Hiburan
Indro Warkop Trauma Peristiwa G30S

MI/Sumaryanto
Komedian Indro Warkop

 

KOMEDIAN Indro Warkop, 61, menyimpan kenangan buruk saat Gerakan 30 September (G30S) terjadi di Jakarta, pada 1965 silam. Karena itu ia mengaku tak mau mengingat peristiwa itu, apalagi memperingatinya secara khusus.

Indro menuturkan, ketika peristiwa G30S terjadi, Indro baru berusia tujuh tahun dan tinggal di Komplek Prambors (Jalan Prambanan, Mendut dan Borobudur), Jakarta. Ayah Indro adalah Inspektur Jenderal Moehammad Oemargatab yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Pengawasan Keamanan Negara yang kini menjadi Intelkam Polri (DPKN). 

Komplek perumahan dimana Indro tinggal juga didiami oleh salah satu korban G30S, yakni Letnan Jenderal Angkatan Darat MT Haryono. "Kami dengar karena subuh-subuh suara tembakannya," ujar pemilik nama Indrodjojo Kusumonegoro itu seperti dikutip dari Antara, kemarin.

Selain MT Haryono, wilayah itu juga dihuni sejumlah petinggi Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), Angkatan Udara (AU), polisi dan duta besar negara asing. Setelah menerima kabar mengenai G30S terjadi, penjagaan di kawasan tinggal Indro diperketat. 

"Pasukan ada di rumah saya, panser saja ada tiga. Rata-rata di kompleks Prambors itu ada empat Jenderal Angkatan Darat, ada empat Jenderal Polisi, empat Jenderal Angkatan Udara, Angkatan Laut. Kebetulan semua empat. Empat duta besar," beber pentolan anggota Warkop DKI itu.

Saking ketatnya penjagaan, Indro sampai ikut masuk ke dalam mobil Jeep demi keamanan. Para pejabat saat itu dilarang mengenakan pakaian dinas masing-masing. Hanya sebuah pita yang perlu mereka pasang di pakaian sebagai penanda.

"Saya lihat tukar-tukar sandi, jam malam. Mulai jam 6 malam enggak boleh keluar. Saya ikut ke dalam Jeep. Pejabat ada di panser kecil. Menegangkan," seru laki-laki kelahiran Jakarta, 8 Mei 1958 itu.

Terlepas dari siapa dalang kejadian G30S dan tujuannya, Indro menilai gerakan itu kudeta dan dia sama sekali tidak ingin memperingatinya. "Tiga puluh September, peristiwa itu ada. Saya tidak ingin memperingati itu. Kalau buat saya ya kudeta. Lepas dari siapa yang digunakan, PKI kah atau siapakah," tegas laki-laki yang hobi mengendarai motor Harley Davidson itu.


Hidupkan warkop

Meski telah lama ditinggal oleh dua pendahulunya, Dono dan Kasino, Indro tak mati angin. Ia tetap melestarikan film-film Warkop DKI, grup lawak legendaris Indonesia di era 1980 yang tadinya bernama Warkop Prambors. "Banyaknya remake film trio komedinya ialah cara saya melestarikan Warkop DKI," ucapnya, beberapa waktu lalu.

Setelah sukses dengan sejumlah remake film Warkop DKI, yaitu Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) dan Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 (2017), kini muncul Warkop DKI Reborn (2019) yang diperankan Adipati Dolken sebagai Kasino, Aliando Syarief sebagai Dono, dan Randy Nidji sebagai Indro. 

Tidak hanya film. Indro juga ingin menghidupkan lagi kebiasaan berdiskusi di warung-warung kopi sebagai cara untuk menyelesaikan masalah dan mencegah konflik. "Saya mau menghidupkan itu budaya warkop (warung kopi), mau buka komunikasi lagi karena di warkop enggak ada berantem. Di bar ada berantem di warkop enggak. Kita kan semua dulunya aktivis, saya mahasiswa akhirnya nyemplung ke aktivis," cetusnya.

Menurut Indro, warung kopi adalah tempat yang paling tepat untuk membahas banyak hal. Bahkan, ia pun menyarankan anggota DPR banyak mengobrol bersama masyarakat di warung kopi. "Di situlah komunikasi terjadi, ngobrol sama temen-temen," kata mantan penyiar Radio Prambors (1976-1980) itu. (H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More