Senin 30 September 2019, 15:45 WIB

Rebranding BKKBN Sentuh Milineal dan Nilai Kesolidan Keluarga

Rosmery Sihombing | Humaniora
Rebranding BKKBN Sentuh Milineal dan Nilai Kesolidan Keluarga

MI/Rosmery Sihombing
Sambutan kepala BKKBN dalam pembukaan konferensi

 

INDONESIA tetap berkomitmen menjadi pionir dalam keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi di tingkat global, namun dengan mengangkat tema berbeda, yakni nilai-nilai kekeluargaan atau kesolidan yang masih melekat di masyarakat Indonesia.

"Kalau dulu kesuksesan kita itu mengangkat isu alat kontrasepsi, dan menurunkan angka kelahiran total ( total fertility rate/TFR). Kita berhasil menurunkan TFR dari 5,6 menjadi 2,6 dan saat ini 2,4. Itu sukses luar biasa. Tetapi kalau kita mau sukses dua kali tentu tidak dengan tema yang sama," ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, SpOG, usai membuka Konferensi Internasional Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (International Conference Indonesia Family Planning and Reproduktive Health/ICIFPRH), di Sleman Yogyakarta.

Untuk itu, lanjutnya, BKKBN akan merebranding ekosistemnya, tidak lagi top down, meski spiritnya tetap sama. Menurutnya masih solidnya keluarga di Indonesia, menjadi homebase karena ada filosofi asih, asuh dan asah di sana.

"Konsep re-branding itu akan selesai Desember tahun ini. itu akan menjadi kekuatan kita, karena tidak zamannya lagi one man one vote. Dan kalau bicara kualitas sumber daya manusia, sebetulnya itu masa kesempatan biologis di 1000 hari pertumbuhan janin. BKKBN akan fokus di situ. Konkritnya menjaga dari awal variabel-variabel yang menyebabkan stunting, autisme, dan lainnya," ujar Hasto lagi.

Dalam me-rebranding itu, tambahnya, BKKBN juga mulai bekerja menyentuh kaum milenial yang jumlahnya 35% dari jumlah penduduk. Dengan begitu kaum milenial punya images yang baik soal KB.

"Saya mau me-rebranding BKKBN tidak hanya di masalah jargon, tetapi mindset nya juga. BKKBN juga akan meluncurkan Indeks pembangunan keluarga (family development index/FDI) pada 2020. Bappenas sudah tahu dan menentukan angkanya," ujarnya.

Namun, Hasto mengakui agak 'kebakaran jenggot juga' soal terus meningkatnya angka perceraian di Indonesia. Menurutnya, omong kosong kalau ingin membangun SDM unggul, tetapi banyak anak-anak berasal dari keluarga broken home.

"Ini tugas berat. Karena saya pergi ke beberapa derah yang pertama saya tanya apakah tingkat peceraiannya tinggi. Ternyata memang tinggi," pungkasnya.

Sementara itu, dalam sambutannya di hadapan 800 peserta konferensi dari dalam dan luar negeri, Hasto mengatakan, berinvestasi dalam keluarga berencana adalah investasi kunci yang diperlukan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan memastikan kesehatan generasi masa depan.

"Di ICIFPRH ini, kami bertemu untuk membahas tonggak penting untuk mendapatkan visi, yakni memastikan akses ke alat dan layanan keluarga berencana sehingga perempuan diberdayakan untuk menentukan apakah dan kapan ingin memiliki anak, supaya bermanfaat bagi masyarakat, ekonomi dan negara secara keseluruhan," ujarnya.

Hadir dalam konferensi Rektor UGM Yogyakarta Prof Ir Panut Mulyono, Direktur Regional untuk Asia dan Pasifik, UNFPA, Bjorn Andersson, Kepala Perwakilan Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP) Indonesia Fitri Putjuk,Amala Rahmah, Kepala Perwakilan Rutgers WPF Indonesia, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Prof dr Siswanto Agus Wilopo, selaku ketua panitia penyelenggara mengatakan, konferensi internasional tersebut bertujuan menggaungkan kembali peran dan kesuksesan Indonesia.

"Cuma yang kali ini kami juga menekankan pentingnya menyentuh kalangan remaja, karena bila ingin membangun SDM unggul seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, kita harus memperhatikan kaum remaja. Dan mindset nya juga harus digeser, yakni melihat KB bukan cuma pertumbuhan penduduk, tetapi juga human capital yang produktif," jelasnya.

Di tempat yang sama, Prof Meiwita Budhiharsana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, yang juga Ketua dari Komite Ilmiah ICIFPRH menekankan, kesuksesan KB Indonesia, karena partisipasi perempuan.

"BKKBN berhasil mendidik Kaum perempuan yang bisa merencanakan kehamilan.

Di konferensi ini diharapkan ada jalan yang jelas, yakni zero kematian ibu, zero tidak mendapatkan kebutuhan alat Kontrasepsi, dan zero kekerasan terhadap perempuan berbasis jender," ujarnya.

Konferensi diselenggarakan oleh 10 konsorsium, terdiri dari UNFPA, Rutgers Indonesia, Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pusat Kesehatan Reproduksi Universitas Gadjah Mada, ThinkWell, Yayasan Cipta, Yayasan Kesehatan Perempuan, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia. Konferensi ini diselenggarakan sebagai satu kemitraan antara Kementerian Kesehatan Indonesia bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (OL-4)

INDONESIA tetap berkomitmen menjadi pionir dalam keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi di tingkat global, namun dengan mengangkat tema berbeda, yakni nilai-nilai kekeluargaan atau kesolidan yang masih melekat di masyarakat Indonesia.

"Kalau dulu kesuksesan kita itu mengangkat isu alat kontrasepsi, dan menurunkan angka kelahiran total ( total fertility rate/TFR). Kita berhasil menurunkan TFR dari 5,6 menjadi 2,6 dan saat ini 2,4. Itu sukses luar biasa. Tetapi kalau kita mau sukses dua kali tentu tidak dengan tema yang sama," ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, SpOG, usai membuka Konferensi Internasional Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (International Conference Indonesia Family Planning and Reproduktive Health/ICIFPRH), di Sleman Yogyakarta.

Untuk itu, lanjutnya, BKKBN akan merebranding ekosistemnya, tidak lagi top down, meski spiritnya tetap sama. Menurutnya masih solidnya keluarga di Indonesia, menjadi homebase karena ada filosofi asih, asuh dan asah di sana.

"Konsep re-branding itu akan selesai Desember tahun ini. itu akan menjadi kekuatan kita, karena tidak zamannya lagi one man one vote. Dan kalau bicara kualitas sumber daya manusia, sebetulnya itu masa kesempatan biologis di 1000 hari pertumbuhan janin. BKKBN akan fokus di situ. Konkritnya menjaga dari awal variabel-variabel yang menyebabkan stunting, autisme, dan lainnya," ujar Hasto lagi.

Dalam me-rebranding itu, tambahnya, BKKBN juga mulai bekerja menyentuh kaum milenial yang jumlahnya 35% dari jumlah penduduk. Dengan begitu kaum milenial punya images yang baik soal KB.

"Saya mau me-rebranding BKKBN tidak hanya di masalah jargon, tetapi mindset nya juga. BKKBN juga akan meluncurkan Indeks pembangunan keluarga (family development index/FDI) pada 2020. Bappenas sudah tahu dan menentukan angkanya," ujarnya.

Namun, Hasto mengakui agak 'kebakaran jenggot juga' soal terus meningkatnya angka perceraian di Indonesia. Menurutnya, omong kosong kalau ingin membangun SDM unggul, tetapi banyak anak-anak berasal dari keluarga broken home.

"Ini tugas berat. Karena saya pergi ke beberapa derah yang pertama saya tanya apakah tingkat peceraiannya tinggi. Ternyata memang tinggi," pungkasnya.

Sementara itu, dalam sambutannya di hadapan 800 peserta konferensi dari dalam dan luar negeri, Hasto mengatakan, berinvestasi dalam keluarga berencana adalah investasi kunci yang diperlukan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan memastikan kesehatan generasi masa depan.

"Di ICIFPRH ini, kami bertemu untuk membahas tonggak penting untuk mendapatkan visi, yakni memastikan akses ke alat dan layanan keluarga berencana sehingga perempuan diberdayakan untuk menentukan apakah dan kapan ingin memiliki anak, supaya bermanfaat bagi masyarakat, ekonomi dan negara secara keseluruhan," ujarnya.

Hadir dalam konferensi Rektor UGM Yogyakarta Prof Ir Panut Mulyono, Direktur Regional untuk Asia dan Pasifik, UNFPA, Bjorn Andersson, Kepala Perwakilan Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP) Indonesia Fitri Putjuk,Amala Rahmah, Kepala Perwakilan Rutgers WPF Indonesia, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Prof dr Siswanto Agus Wilopo, selaku ketua panitia penyelenggara mengatakan, konferensi internasional tersebut bertujuan menggaungkan kembali peran dan kesuksesan Indonesia.

"Cuma yang kali ini kami juga menekankan pentingnya menyentuh kalangan remaja, karena bila ingin membangun SDM unggul seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, kita harus memperhatikan kaum remaja. Dan mindset nya juga harus digeser, yakni melihat KB bukan cuma pertumbuhan penduduk, tetapi juga human capital yang produktif," jelasnya.

Di tempat yang sama, Prof Meiwita Budhiharsana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, yang juga Ketua dari Komite Ilmiah ICIFPRH menekankan, kesuksesan KB Indonesia, karena partisipasi perempuan.

"BKKBN berhasil mendidik Kaum perempuan yang bisa merencanakan kehamilan.

Di konferensi ini diharapkan ada jalan yang jelas, yakni zero kematian ibu, zero tidak mendapatkan kebutuhan alat Kontrasepsi, dan zero kekerasan terhadap perempuan berbasis jender," ujarnya.

Konferensi diselenggarakan oleh 10 konsorsium, terdiri dari UNFPA, Rutgers Indonesia, Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP), Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pusat Kesehatan Reproduksi Universitas Gadjah Mada, ThinkWell, Yayasan Cipta, Yayasan Kesehatan Perempuan, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan Lembaga Demografi Universitas Indonesia. Konferensi ini diselenggarakan sebagai satu kemitraan antara Kementerian Kesehatan Indonesia bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More