Senin 30 September 2019, 11:20 WIB

Jokowi yang Terpojok dan Sikap NasDem

Gantyo Koespradono, Dosen IISIP Jakarta | Opini
Jokowi yang Terpojok dan Sikap NasDem

MI/Caks
Gantyo Koespradono, Dosen IISIP Jakarta

TIDAK melakukan kesalahan konstitusional apa-apa, Presiden Joko Widodo terus digoyang elite politik dan kelompok yang mengaku paling suci dan bisa menyelesaikan semua permasalahan bangsa.

Digempur dengan berbagai aksi unjuk rasa dengan tuntutan yang tidak jelas, bahkan sudah kedaluwarsa, Presiden Jokowi hanya bisa diam dan terus bekerja untuk rakyatnya.

Orang bodoh sebenarnya dengan mudah bisa menebak apa sesungguhnya motivasi para dalang pengunjuk rasa yang memanfaatkan orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Ya, mereka hanya ingin membuat keonaran di negeri ini yang ujung-ujungnya pelantikan anggota DPR hasil Pemilu Serentak 2019--termasuk di dalamnya pelantikan presiden--gagal.

Untuk diketahui, pelantikan anggota baru DPR-RI akan dilakukan esok, Selasa (1/10) dan pelantikan presiden terpilih (Joko Widodo) pada 20 Oktober.

Buat saya, upaya menggagalkan agenda konstitusi bangsa tersebut, bukan saja tindakan bodoh, melainkan juga kejahatan yang amat keji. Mereka berniat makar.

Saya katakan kejahatan, sebab aksi mereka (diaktualisasikan dalam bentuk unjuk rasa) telah mengganggu ketenteraman rakyat Indonesia, terutama warga Jakarta dan sekitarnya.

Pagi ini, Senin (30/9) saya dihubungi seorang ibu yang akan menggelar resepsi pernikahan putranya di Gedung Manggala Wanabakti (di samping gedung DPR) pada 12 Oktober mendatang.

Si ibu galau setelah mendengar informasi jalan-jalan di sekitar gedung DPR akan ditutup hingga 20 Oktober mendatang.

"Nanti gimana kalau para tamu undangan nggak pada datang," katanya.

Namun, yang membuat lebih galau buat banyak orang, setidaknya saya, adalah partai-partai pendukung Jokowi di koalisi tidak bersuara membela Jokowi.

Kesan saya (semoga keliru), mereka tidak bergerak di barisan depan untuk membentengi Jokowi.

Sekadar mengingatkan partai-partai koalisi pendukung Jokowi adalah PDI Perjuangan, NasDem, Golkar, PKB, dan PPP.

Padahal, fakta tidak terbantahkan, kader-kader partai itu terpilih duduk di Senayan dan akan dilantik esok, juga lantaran partainya mengusung Jokowi.

Para pembela yang konsisten mendukung dan membentengi Jokowi justru para relawan, netizen, penulis, dan penggiat media sosial yang selama ini dicap sebagai "cebong".

Hampir setiap saat mereka tidak lelah memberikan ulasan-ulasan lewat tulisan mencerahkan agar bangsa ini semakin waras dan tidak terus terjerumus ke lembah kebodohan nan akut.

Ke mana parpol saat Jokowi diserang secara terstruktur, sistematis dan masif oleh para pecundang? Mana suara kalian?

Beruntung dalam situasi yang membuat saya pesimistis, Partai NasDem lewat ketua umumnya, Surya Paloh, bersuara saat dia memberikan pembekalan kepada 59 anggota terpilih DPR-RI yang akan dilantik besok.

Surya Paloh rupanya ikut galau ketika banyak pihak mendesak Presiden Jokowi agar segera mengeluarkan Perppu UU KPK. Padahal soal ini sebenarnya sudah selesai. Begitu pula soal RUU KUHP yang diputuskan ditunda pembahasannya.

Surya Paloh memahami, Presiden Jokowi dalam posisi yang jelas-jelas tidak nyaman ketika dihadapkan pada masalah tersebut. Sebab, jika salah langkah, justru membuat negeri ini semakin tidak kondusif.

Senang saya mendengar Paloh yang mengajak kader-kadernya di DPR agar terus membangun komunikasi dan dialog dengan berbagai pihak untuk menjaga keutuhan bangsa.

Paloh juga meminta anak buahnya agar tidak memberikan kesempatan kepada provokator politik dan kaum radikal di negeri ini yang ikut memperkuat (izinkan saya tafsirkan dengan istilah "menunggangi") barisan aksi mahasiswa yang dibungkus seolah-olah menentang UU KPK yang telah direvisi.

Para penunggang itu disebut Surya Paloh sebagai pihak yang punya agenda tersembunyi (hidden agenda).

Surya Paloh akhirnya menegaskan sikap partainya terhadap agenda konstitusi yang telah berjalan dengan baik, antara lain proses Pemilu Serentak 2019 yang di dalamnya ada pemilihan presiden dan wakil presiden.

Dia mengajak para kadernya di DPR dan masyarakat untuk terus mewaspadai hidden agenda yang diusung para provokator perusak bangsa.

"Tidak ada jalan lain. Kita tidak mungkin mundur. Kita hadapi tantangan itu dengan seluruh kemampuan apa pun yang kita miliki," tegas Paloh.

Secara bertanggung jawab, menurut Paloh, Partai NasDem akan terus mendukung hasil konstitusi (pemilu). NasDem tidak akan berkompromi dengan siapa pun yang akan menjatuhkan pemimpin (presiden) yang terpilih secara sah.

Semoga apa yang disuarakan Partai NasDem diikuti partai-partai koalisi yang telah mengantarkan Jokowi terpilih kembali sebagai presiden RI untuk periode 2019-2024. Jangan biarkan pecundang berkeliaran dan melakukan tindakan liar. Tindakan inkonstitusional!

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More