Senin 30 September 2019, 09:20 WIB

Kedepankan Pencegahan dan Kesadaran Diri

Dero Iqbal Mahendra | Humaniora
Kedepankan Pencegahan dan Kesadaran Diri

Riskesdas/KementeriaN Kesehatan/WHO/MI/Seno
Grafis Jantung.

 

PENYAKIT jantung masih menjadi penyakit penyebab kematian kedua terbanyak di Indonesia setelah stroke berdasarkan data Sample Registration System (SRS) 2014. Meski bukan merupakan penyakit menular, pola hidup yang tidak sehat dan kurang olahraga menjadi pemicu meningkatnya penderita penyakit jantung.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Cut Putri Arianie dikutip sehatnegeriku.kemkes.go.id menyebutkan, dari data Riskesdas 2013, penderita penyakit jantung 0,5% dari jumlah penduduk Indonesia, sedangkan berdasarkan Riskesdas 2018 menjadi 1,5%.

Menurutnya, hal tersebut dilatarbelakangi oleh banyak perubahan transisi di masyarakat sehingga mendorong perubahan jumlah penderita sakit jantung.

Senada dengan itu, dokter spesialis penyakit jantung Radityo Prakoso menilai kemajuan teknologi modern membuat segala sesuatu kebutuhan menjadi terfasilitasi tanpa perlu banyak melakukan aktivitas.

"Beli apa pun semua datang langsung ke pembeli sehingga geraknya menjadi kurang. Dengan kemajuan teknologi modern hari ini semua hal menjadi terfasilitasi. Jadi, kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan kematangan intelektual sehingga menyebabkan munculnya penyakit-penyakit degeneratif, salah satunya penyakit jantung," tutur Radityo ketika dihubungi, Sabtu (28/9).

Masyarakat, lanjutnya, menganggap semua kemajuan itu sebagai keuntungan bagi dirinya karena aktivitas menjadi semakin mudah. Orang menjadi semakin sibuk dan tidak memiliki waktu untuk berolahraga.

"Dengan begitu sudah bisa diramalkan angka penderitanya pun akan naik," ujar Radityo.

Di sisi lain, penyakit jantung menjadi salah satu penyakit yang berkontribusi kepada kerugian negara secara ekonomi. Menilik data BPJS Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan biaya kesehatan untuk penyakit jantung dari tahun ke tahun.

Pada 2014 penyakit jantung menghabiskan dana BPJS Kesehatan Rp4,4 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp7,4 triliun pada 2016, dan masih terus meningkat pada 2018 sebesar Rp9,3 triliun.

"Hal ini menunjukkan besarnya beban negara terhadap penanggulangan penyakit jantung yang harusnya dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko," jelas Cut.

Penyakit jantung koroner sendiri terdiri atas penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala, angina pektoris stabil, dan sindrom koroner akut. Pada penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala biasanya diketahui dari skrining, sedangkan angina pektoris stabil didapatkan gejala nyeri dada bila melakukan aktivitas yang melebihi aktivitas sehari-hari.

Lebih lanjut Cut juga mengungkapkan dalam penyakit tidak menular, salah satunya penyakit jantung, banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya sakit. Dari 10 orang penderita hanya 3 orang yang memang terdeteksi, selebihnya tidak mengetahui karena tidak ada gejala sampai terjadinya komplikasi.

Untuk itu, peringatan Hari Jantung Sedunia 2019 mengangkat tema global My heart, your heart. Adapun tema nasional, yakni Jantung sehat SDM unggul.

Melalui tema tersebut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengajak masyarakat melakukan perubahan kecil dalam hidup, membuat sebuah janji sederhana untuk kesehatan jantung.

"Penyakit jantung ini bisa dicegah ketika itu ada di faktor risiko dengan mengubah perilaku. Faktor risiko berupa merokok, kurang aktivitas fisik, tidak mengonsumsi makanan yang mengandung gula, garam, lemak berlebihan, kemudian ada juga faktor genetik untuk penyakit jantung ini," ucapnya.

Oleh sebab itu, Cut menegaskan hal terpenting bagi seseorang untuk mencegah terkena penyakit jantung ialah dengan mengubah pola hidupnya dan hal tersebut harus berdasarkan kesadaran untuk hidup secara lebih sehat.

“Kalau orang merokok berhentilah merokok, yang malas bergerak aktivitas fisiklah minimal 30 menit per hari, dan mengendalikan asupan gula, garam, lemak, jangan berlebihan,” ungkap Cut.

 

Momentum

Peringatan Hari Jantung Sedunia, menurut Radityo, menjadi momentum untuk mengedepankan pencegahan dan kesadaran diri masyarakat akan bahaya penyakit jantung.

Pencegahan itu sendiri menurutnya harus dimulai sejak usia dini, misalnya, dengan kampanye bahaya rokok sebagai bahaya yang terus mengancam.

Media kampanyenya pun menurutnya dapat menggunakan teknologi modern maupun permainan dan pelajaran informal.

"Menyambut hari jantung ini ialah dengan mengedepankan pencegahan dan promosi dimulai dari generasi muda, yakni anak-anak. Kita memulai dari yang memang belum sakit," terang Radityo.

Sementara itu, dari sisi orang tua dan dewasa lebih pada kampanye gaya hidup sehat dan yang telah terkena serangan jantung lebih dikedepankan pendekatan disability limitation, dengan kata lain mengurangi atau menghilangkan disabilitasnya.

"Jadi lebih kepada agar tidak kembali masuk rumah sakit dan bisa terus produktif, itu tugas dari dokter," pungkas Radityo. (S-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More