Senin 30 September 2019, 08:35 WIB

Land Clearing belum Tentu oleh Perusahaan

Atikah Ismah Winahyu | Humaniora
Land Clearing belum Tentu oleh Perusahaan

ANTARA FOTO/Ujang Zaelani
Waka Dewan Minyak Sawit Delima

 

PRODUKSI sawit kita sudah mencapai 40 juta ton, bahkan mendekati 50 juta ton per tahun. Sawit menyumbang sekitar Rp250 triliun setiap tahunnya.

Jadi, kalau bilang komoditas pertanian, sawit adalah penyumbang devisa terbesar dan banyak hak positif lainnya yang ditimbulkan oleh sawit.

Tapi setiap kali ada asap, pasti ada yang bertanya, ini penyebabnya sawit? Kemudian ada statement yang menyebutkan bahwa 92% asap penyebabnya ialah human error. Pertama, karena land clearing. Kedua, penebangan. Padahal 400 ribu hektare setiap tahun adalah punya petani.

Kemudian ada juga data yang mengatakan 80% titik sebenarnya ada di titik konsesi. Saya sependapat kita harus kembalikan (ke masyarakat), tapi kita juga harus tahu bahwa lahan gambut kita dianugerahi untuk dimanfaatkan. Eropa memanfaatkan lahan gambut dengan baik, dengan teknologi dan inovasi.

Intinya land clearing bukan hanya untuk sawit. Hal yang paling banyak harus kita siapkan ialah bagaimana kita memberikan aturan, pencegahan, alat, dan lainnya. Tapi harus jelas dilakukan oleh siapa, bagaimana, di mana, dan kapan. Juga bagaimana kita mengawasinya.

Rekomendasi kami harus ada amunisi. Pertama, berupa inovasi dan teknologi. Kemudian 42% pemilik lahan ialah small holders (rakyat). Bisa jadi mereka tidak punya alat untuk land clearing, akhirnya menggunakan cara ini yang memang sudah turun-temurun. Barangkali ini yang harus kita fasilitasi dan berikan pendampingan. Kemudian, siapa yang berhasil melindungi harusnya mendapat insentif. Seluruh stakeholder terkait harus bersatu, tapi pemerintah harus di depan. (Aiw/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More