Senin 30 September 2019, 08:20 WIB

Lahan Gambut sudah Telanjur Dimanfaatkan

Indriyani Astuti | Humaniora
Lahan Gambut sudah Telanjur Dimanfaatkan

ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma
Sekretaris BRG Hartono

 

SEBAIKNYA gambut tidak dikeringkan atau dimanfaatkan untuk budi daya tanaman yang aslinya dari lahan kering. Gambut akan terdekomposisi dan menghasilkan emisi. Gambut yang terdekomposisi membuat tanahnya ambles. Lama-kelamaan kita akan kehilangan wilayah karena kebanjiran.

Terakhir, gambut kering mudah terbakar. Ada beberapa perspektif dari aktivis lingkungan, gambut tidak boleh dikeringkan. Sebaliknya, dari rekan-rekan advokasi, mereka pro dengan pemanfaat-an gambut, tapi oleh masyarakat. Jangan semuanya oleh korporasi.

Gambut memang sumber daya yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Artinya tidak semuanya dilindungi, tetapi bisa dimanfaatkan. BNPB telah menyampaikan bahwa gambut harus dibiarkan basah sesuai ekosistem alami.

Namun, masalahnya, sudah hampir 11 juta hektare lahan gambut telanjur dimanfaatkan oleh masyarakat maupun korporasi. Pemanfaatan yang dilakukan, terus terang, banyak menabrak ketentuan. Pada 1990 sudah disebutkan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter mestinya ditetapkan sebagai gambut lindung. Itu bunyi Keppres No 32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

Kalau kita lihat, berapa juta hektare gambut dalam yang telanjur dimanfaatkan, airnya dikeringkan dengan dibuat kanal-kanal.

Oleh karena itu, ketika 2015 terjadi kebakaran besar, atas desakan pemerhati lingkungan dan para ahli, seharusnya gambut ini dilindungi. Oleh karena itu, Presiden membuat Badan Restorasi Gambut. Tugasnya mengoordinasi dan memfasilitasi.

Kawasan gambut sudah terbagi habis oleh para stakeholder. Kawasan hutan menjadi tanggung jawab KLHK dan pemerintah provinsi. Di luar kawasan hutan, restorasi gambut bisa oleh masyarakat atau perusahaan sebagai pemegang HGU.

Presiden menargetkan BRG merestorasi kawasan gambut seluas 2 juta ha. Setelah dipetakan, gambut di kawasan konservasi menjadi tanggung jawab KLHK, sedangkan gambut di kawasan hutan lindung dan hutan produksi oleh pemda, dan ada gambut di kawasan masyarakat. Karena ketentuan dalam UU, area gambut di area konsesi menjadi tanggung jawab pemilik konsesi.

Tugas BRG bersama KLHK memastikan pemilik konsesi melakukan restorasi. Adapun restorasi lahan gambut yang rusak di luar area konsesi dilakukan oleh masyarakat, dan BRG yang memfasilitasi. Pada kawasan gambut yang terdegradasi, kita membangun sekat kanal. (Ind/X-11)

Baca Juga

Ilustrasi

Waspada Dampak Psikologis Pandemi, Dari Cemas hingga Bunuh Diri

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 02 Juni 2020, 22:14 WIB
Pandemi menciptakan dampak berganda dari sisi psikologis, selain ancaman penyakit yang menimbulkan rasa cemas dan panik, ada yang dilanda...
MI/Pius Erlangga

MUI Racik Tata Cara Ibadah di Masjid Saat Kenormalan Baru

👤Candra Yuri Nuralam 🕔Selasa 02 Juni 2020, 21:53 WIB
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sedang meracik tata cara salat di masjid saat masa kenormalan baru. Ada tiga hal yang...
Dok Festival Film Tari Indonesia.

Pendaftaran Festival Film Tari Indonesia Telah Dibuka

👤Retno Hemawati 🕔Selasa 02 Juni 2020, 21:25 WIB
FESTIVAL Film Tari Indonesia membuka kesempatan bagi khalayak umum untuk membuat karya film tari dengan tema...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya