Senin 30 September 2019, 07:50 WIB

Jangan Sampai Sawit Indonesia cuma Sejarah

Atikah Ismah Winahyu | Humaniora
Jangan Sampai Sawit Indonesia cuma Sejarah

MI/Usman Iskandar
Ketua Bidang Agraria dan Tata Ruang Gapki Eddy Martono

 

UNTUK investasi sawit dari awal hingga bisa menghasilkan butuh biaya Rp70 juta per hektare. Khusus land clearing (pembersihan lahan) hanya sekitar Rp6 juta-Rp7 juta.

Dengan biaya hanya 10% dari investasi untuk land clearing, kami sendiri bingung kalau perusahaan berani membakar hanya untuk mengamankan biaya yang sedikit itu, sementara dendanya 1 hektare minimal bisa mencapai Rp500 juta.

Tentu Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) sangat mendukung langkah pemerintah, apabila perusahaan terbukti sebagai pelaku, dia harus ditindak.

Dari pengalaman yang telah terjadi selama ini, lahan yang dikelola pasti minim kebakaran. Jadi, sebaiknya lahan yang open access harus dikelola oleh masyarakat, apakah nanti ada kelembagaan atau kerja sama dengan perusahaan sebagai off-taker.

Apa pun faktanya sekarang sawit menjadi penopang ekonomi Indonesia dengan pemasukan sekitar Rp200 triliun-Rp300 triliun per tahun. Selain itu, 17 juta manusia Indonesia bergantung pada industri sawit dari onfarm dan offarm.

Kita pernah menjadi eksportir terbesar di dunia untuk rempah-rempah. Kita juga pernah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia. Jangan sampai nanti akibat penanganan industri sawit yang salah, kemudian ini hanya menjadi catatan sejarah.

Oleh karena itu, mari kita duduk dan selesaikan masalah ini bersama. (Aiw/x-8)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More