Senin 30 September 2019, 05:35 WIB

Komnas HAM Kawal Kasus Kendari

Cahya Mulyana | Politik dan Hukum
Komnas HAM Kawal Kasus Kendari

MI/Rommy Pujianto
Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik

 

KETUA Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik,­ menegaskan pihaknya akan mengivestigasi kasus kematian dua mahasiswa di Kendari. Hasilnya akan menjadi pembanding atas penyelidikan dan penyidikan kepolisian.

“Polri bilang segera menyelidiki. Kami akan monitor, bandingkan, dan uji dengan data lain,” terangnya kepada Media Indonesia, kemarin.

Menurut dia, sampai saat ini Komnas HAM belum memiliki rekomendasi karena baru membentuk tim investigasi dengan berkoordinasi dengan Polri. “Belum ada rekomendasi, tunggu tim ke lapangan. Kami pun mendesak Polri mengusut tuntas: siapa dan bagaimana penembak­an bisa terjadi,” katanya.

Dalam demonstrasi menolak revisi undang-undang kontroversial di depan Kantor DPRD Sulawesi Tenggara di Kendari, Kamis (26/9), mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Haluoleo (Unhol), La Randi, 21, meninggal terkena peluru tajam. Jumat (27/9), korban meninggal bertambah, yaitu Muh Yusuf Kardawi, 19, mahasiswa D-3 jurusan teknik, setelah dirawat intensif pascaoperasi di RSU Bahteramas Kendari.

Ketua Ombudsman Republik Indonesia, Amzulian Rifai, menyayangkan jatuhnya korban jiwa dalam aksi demonstrasi di kantor DPRD Sulawesi Tenggara di Kendari. 

Ombudsman meminta investigasi terhadap kasus ini dilakukan secara transparan sehingga dapat dipercaya oleh publik. “Harus dibuat mekanisme investigasi terbuka, menutup ruang kecurigaan, agar ada trust dari publik dan ini juga untuk kepentingan institusi Polri,” ujarnya.

Amzulian berharap Komnas HAM dan Lembaga Perlindung­an Saksi dan Korban (LPSK) dapat berfungsi secara baik. “Ombudsman tentu pula menjalankan perannya sebagai pengawas eksternal bagi seluruh kementerian dan lembaga,” pungkasnya.


Belum kondusif

Situasi di kampus Unhol hingga kemarin belum kondusif. Mahasiswa memblokade jalan masuk ke kampus sehingga kendaraan yang akan masuk ke kampus harus berbelok arah.

Warga yang bertempat tinggal di permukiman dekat kampus mulai resah atas pemblokadean itu. “Kita harus berputar untuk bisa mencapai tujuan karena ini jalan satu-satunya yang dekat dan strategis,” ungkap Udin, warga BTN Kendari Permai.

Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi, menyatakan pemda, Polda Sultra, dan TNI akan bernegosiasi dengan mahasiswa. “Kita masih mencari siapa yang akan memediasi. Pemerintah akan membentuk tim yang terdiri atas pemerintah daerah, polisi, dan TNI,” ujar Ali yang telah menyantuni keluarga kedua mahasiswa.

Di sisi lain, Wakapolri Komjen Ari Dono Sukamto mengatakan pihaknya telah menginvestigasi lokasi tewasnya Randi. Hasilnya tim gabungan Polri dan Polda Sultra itu telah menemukan tiga selongsong peluru. 

“Semua bukti, baik dari lokasi kejadian maupun keterangan saksi, akan dibawa ke Jakarta untuk diselidiki,” kata Wakapolri saat berada di Kendari, Sabtu (28/9).
Kabid Humas Polda Sultra AKB Hery Goldenhart mengatakan pihaknya tidak menggunakan peluru tajam dan peluru karet saat mengamankan aksi unjuk rasa. “Tinggal menunggu hasil investigasi dari tim Inafis Mabes Polri,” ujarnya. (HM/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More