Senin 30 September 2019, 06:00 WIB

Intelektual Dader  

Mathias S. Brahmana  Wartawan Media Indonesia  | Opini
Intelektual Dader  

MI
Mathias S. Brahmana  Wartawan Media Indonesia 

HARI ini badan terasa lelah. Setujulah kalau orang bilang INLM (I No Like Monday). Bermula dari ronda Minggu malam, kurang jam tidur, kepala melayang-layang. Sepertinya tidak prima untuk memulai kembali hari baru sebagai seorang pekerja. 

Terkadang iri juga melihat tetangga yang tidak punya pekerjaan tetap namun kesejahteraannya lengkap. Imajinasinya begini. Dia tidak terikat mesti ke kantor. Tapi rumahnya di huk.Tiga dijadikan satu. Dua lantai lagi. Hansip tatkala ronda dan melintas di depan rumah itu sering latah bilang ya ampuuunnnnn…
 
Dia ternganga melihat rumah sementereng itu. Dipergagah dengan ornamen bahan bangunan kerajaan, menunjukkan kemegahan sekaligus kekuasaan yang tidak pernah hadir dalam mimpinya sebagai seorang hansip. Hansip itu kenal siapa pemiliknya.  

Lima tahun lalu orang itu bukan siapa-siapa. Dulu sering ikut ronda. Hansip senang kalau dia ikut ronda sebab bacotnya tahu segala cerita. Dari perang Timur Tengah hingga bencana asap. Padahal pekerjaannya tak tentu arah, terkadang jualan buah, peralatan dapur, seragam anak sekolah, hewan kurban, dan macam-macam. 

Hansip pernah nyindir, apa saja dijual asal jadi duit. “Negara ini pun akan dijual asal dapat uang,” cetus sang hansip waktu itu. Dia hanya tertawa. Enggak marah disebut halal baginya menjual negara. Mungkin karena menganggap tudingan itu hanya candaan belaka. 

Dan, di luar prasangka, ramalan hansip seolah menjadi nyata. Apa yang engkau perkatakan bisa terjadi. Sejak adanya demo berjilid-jilid dalam tiga empat tahun terakhir, tetangga yang sebutannya si burung perkutut itu telah berubah menjadi burung merak. 

Jika dulu kerjanya keluyuran, jual bualan agar dapat makan, sekarang kepak-kepakkan sayap. Keindahan bulu burung meraknya laksana bertabur intan berlian, kemilau nan jumawa. Ya ampuuunnnn…

Apakah semua itu hasil menjelek-jelekkan negara? Tidak mungkinlah! Dia kan cuma penjual jasa. Mau massa berapa? Dia bisa siapkan segera. Tujuan demonya apa, baginya urusan kedua. Ada uang ada barang. Mau bela seseorang atau menyerang pemerintah, urusan belakang. 

Pernah dia sesumbar bilang selesai demo di Bundaran HI, satu unit mobil mewah sudah di tangan. Waw tidak mungkin. Kalau setiap demo bayaran jasanya sebanding dengan harga satu unit mobil mewah, bila berjilid-jilid, bukan hanya tiga rumah dia bisa jadikan satu, sekeliling rumah pun pada akhirnya akan menyatu. 

Tentu tetangga sekomplek gundah karena khawatir bakal digusur. Bukan tidak mungkin perkutut punya ide gila mendirikan komplek sendiri dengan sebutan Cluster Merak. Biar enggak jauhan dengan aktor intelektual demo, para kordinator lapangan, dan pengerah massa. 

Uang baginya bukan masalah. Siapa di Jakarta ini yang bisa melawan uang? Hanya sahabat Tuhan. Mungkin itulah sebabnya Amerika Serikat merasa sangat penting menuliskan In God We Trust pada mata uangnya. 

Hanya pada Tuhan kita percaya. Kuasa uang berbisa luar biasa. Kalau uang berbicara, iman bisa menjadi amin. Kata tidak bisa jadi siyaaap. Banyak yang lebih memilih menjadi pengikut uang ketimbang ikut Tuhan. 

Bayangkan, jika setiap demo jasanya satu mobil mewah. Hari ini, tanggal 30 September hingga pelantikan presiden pada 20 Oktober, intelektual dader akan pesan demo berjilid-jilid. 

Meminjam istilah kepolisian, intelektual dader (dalang) berkepentingan demo besar-besaran di depan Gedung DPR. Jangan sampai ada pelantikan di bulan Oktober. Kepung Gedung MPR/DPR. Lipatkan jumlah massa. “Jangan kasi kendor, aku yang membuatmu menjadi merak,” kata ular kepada perkutut. 

Jadilah pengerahan massa habis-habisan. Kalau jumlah massa lipat 10, jasa juga 10 kali lipat. Hukum bisnis berlaku. Besaran permintaan sejajar dengan pembayaran. Kalau 10 kali demo saja hingga tanggal 20 Oktober, perkutut ini bakal meraup 100 setara mobil mewah. 

Para tetangga sekomplek sudah bisa membayangkan bila saat itu akan tiba. Hansip yang terlelap di pos ronda, ketika terbangun pagi hari akan menyaksikan semua jenis mobil mewah parkir mengelilingi rumah si perkutut. Kebiasaan latahnya akan kumat. Ya ampuuunnnnn…..

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More