Minggu 29 September 2019, 18:45 WIB

Tekad Pembatik Disabilitas Berbekal Kejujuran

Bagus Suryo | Nusantara
Tekad Pembatik Disabilitas Berbekal Kejujuran

MI/Bagus Suryo
Pembatik disabilitas Edi Supriyanto

 

HARI masih pagi, Edi Supriyanto, 42 dan Mariani, 41, warga Desa Cempokomulyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, bergegas menuju Sanggar Batik Seng.

Pasangan suami istri penyandang disabilitas itu saban hari mengambil garapan kain batik sebelum proses pewarnaan. Keduanya mengendarai motor yang dimodifikasi khusus beroda tiga menuju sanggar yang berada di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. 

Dua tahun lalu, pengelola sanggar mengantar kain bermotif ke rumah para penyandang disabilitas. Kini, mereka sudah mandiri. Kain garapan pun diambil sendiri dan dikerjakan di sanggar. Tekad keduanya tak surut meski sering kena tipu.

Sesampai di sanggar batik, Edi Supriyanto dan Mariani bertemu dengan penyandang disabilitas lainnya, yaitu Luluk, warga Desa Kesamben, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Di sekitar bendungan Sengguruh, para pembatik berkarya menghasilkan motif, baju dan souvenir. Di bangunan sanggar terbuat dari bambu berukuran sekitar 40 meter persegi tersebut sudah dilengkapi instalasi pengolah air limbah (IPAL) sehingga ramah lingkungan.

Luluk mencanting kain yang sudah disiapkan bersama Mariani. Keduanya telaten menorehkan cairan lilin ke kain katun putih yang sudah ada motifnya. Pelan tapi pasti, ujung canting digoreskan ke kain katun warna dasar putih lengkap dengan motif yang sudah dibuat oleh Wiwik.

Baca juga:  Sahabat Lestari Fasilitasi SIM Kaum Disabilitas

Tak lama mencanting, kain berukuran dua meter itu pun penuh warna. Sedangkan ibu-ibu lainnya di pelataran sanggar melakukan pewarnaan dan menjemur kain. Menurut Wiwik, usaha batik ini dikembangkan bermodal Rp20 juta, secara bertahap sampai kini bisa memproduksi 100 batik per bulan.

Demikian juga dengan Luluk. Pembatik dari lereng Gunung Kawi itu rutin menerima order mencanting.

"Dalam sehari saya mencanting dapat 3 kain. Penghasilan mengerjakan motif tulip dan topeng malangan tertinggi Rp100 ribu," kata Luluk.

Sedangkan Edi mengerjakan proses jumput, mengikat bagian tertentu kain dengan benang agar saat pewarnaan menghasilkan motif batik yang unik.

"Proses jumput itu mengikat kain batik dengan benang sebelum proses pewarnaan," tegas Edi Supriyanto membuka pembicaraan dengan Media Indonesia, Jumat (27/9).

Sejauh ini, para pembatik disabilitas sudah sering menerima garapan untuk menambah pendapatan keluarga.

"Proses jumput dalam sehari bisa 4 kain sampai 5 kain. Upahnya Rp20 ribu per potong kain," ujarnya.

Edi yang kesehariannya juga sebagai tukang servis elektronika rutin membatik. Bila pekerjaan jumput dan mencanting tidak kelar di sanggar, kain garapan dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah masing-masing.

"Kain bahan batik saya ambil sendiri, ada pula yang diantar ke rumah para difabel. Pekerjaan ini rutin, tiap hari," kata Edi diiyakan oleh Mariani dan Luluk.

Selain menerima jasa perbaikan perkakas elektronik, Edi juga bekerja pada pemilik bengkel motor tak jauh dari rumahnya. Dari batik dan elektronika, saban bulan dapat Rp2 juta sampai Rp3 juta.

"Pendapatan tidak mesti, yang jelas hasilnya disatukan dengan ibunya (istri)," ungkapnya.

Bagi Edi, pekerjaan membatik itu mengasyikkan. Selain menambah penghasilan keluarga, juga melatih kesabaran dan kejujuran. Ia mengisahkan, di bengkel servis elektronik miliknya, kerap menerima order perbaikan televisi yang rusak milik warga. Ongkosnya Rp60 ribu sampai Rp80 ribu tergantung tingkat kerusakan.

Dalam usaha jasa itu ada saja oknum warga kurang bayar setelah mengambil TV yang sudah diperbaiki, tapi malah ingkar janji, tidak membayar kekurangannya. Kebanyakan mereka tidak kembali. Edi pun ikhlas dan bisa menerima dengan sabar. Sebab, ia berprinsip kejujuran berangkat dari diri sendiri menyatu dengan sifat sabar.

Selain itu soal rezeki yang diberikan Tuhan tidak bakal salah alamat. Kalau sudah jatah dan waktunya, pasti diterima seseorang sesuai haknya.

"Saya sudah biasa ditipu setelah memperbaiki TV, bilangnya nanti ya kekurangan uangnya. Saya bilang kalau kurang tidak apa-apa. Tapi banyak yang tidak kembali, itu sering. Saya sabar saja, ikhlas, tetap menekuni pekerjaan halal juga dari membatik," tuturnya sembari mengatakan penghasilan keluarga bisa untuk menyekolahkan dua anaknya yang masih kelas 3 SMP dan 3 SD

Kini mereka lebih produktif setelah menerima kepelatihan dari PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Unit Pembangkitan Brantas.

"Kami mendorong pembatik bisa mandiri. Terbaru akan mengembangkan kampung budaya," kata Assistant Officer Humas & CSR PT PJB UP Brantas Citra Putri Sakinna.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More