Minggu 29 September 2019, 10:10 WIB

Sembuhkan Luka Hati dengan Bersyukur

Patna Budi Utami | WAWANCARA
Sembuhkan Luka Hati dengan Bersyukur

MI/Patna Budi Utami
Dubes RI untuk Bosnia dan Herzegovina, Amelia Achmad Yani.

SUARA derap ratusan pasang sepatu lars di dalam dan luar rumah serta rentetan tembakan yang ia dengar bagai halilintar di kegelapan malam pada 30 September 1965, hingga kini masih terngiang jelas di telinganya. Peristiwa pembunuhan dan perlakuan keji Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap ayahnya, Jenderal Achmad Yani, membuat batinnya terluka parah. Berulang, setiap melalui September setiap tahun pun, ia nyaris tak kuat karena saat itu membuat lukanya terasa kembali menganga.

Setelah 54 tahun peristiwa berlalu, putri ketiga sang pahlawan yang kini bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina, Amelia Achmad Yani, mengungkapkan perasaannya sambil sesekali menyeka air mata, kepada wartawan Media Indonesia Patna Budi Utami di kediamannya di Sarajevo.

 

Apa yang paling diingat hingga kini dari Peristiwa Gerakan 30 September PKI di rumah, di Jalan Lembang Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat?

Pagi itu, sekitar pukul 04.00 WIB, saat saya tidur bersama tiga adik saya di kamar belakang, saya terbangun karena mendengar suara rentetan tembakan seperti halilintar. Saya mencoba mengintip ke luar kamar, terlihat banyak orang bersepatu lars. Ternyata begitu banyak pasukan Tjakrabirawa (Pasukan Pengawal Presiden Soekarno). Saya lalu keluar dari kamar untuk mencoba mencari sambil memanggil bapak. Saat itulah, tubuh bapak yang masih mengenakan piama diseret oleh pasukan Tjakrabirawa melintas di depan saya. Saya menangis, menjerit, berusaha mengikuti tubuh bapak yang ditarik bagian kakinya. Setelah itu, tubuh bapak dilemparkan ke dalam truk, lalu dibawa ke arah Pasar Rumput (Manggarai). Itu adalah peristiwa yang paling menyakitkan yang saya lihat ketika itu.

 

Sampai di mana berusaha mengikutinya?

Bapak yang berlumuran darah diseret keluar melalui pintu belakang rumah. Saya dan adik-adik hanya bisa mengikuti sambil menangis dan menjerit sampai pintu belakang karena di luar sejumlah pasukan Tjakrabirawa menahan langkah kami dengan menodongkan senjata, mengokangnya, membentak, menyuruh kami masuk, dan mengancam akan menembak kami semua jika tidak menurut. Akhirnya kami berhenti mengikuti bapak. Peristiwanya berlangsung cepat, hanya beberapa menit.

 

Selain Tjakrabirawa, siapa lagi yang bersama mereka?

Dari yang jumlahnya ratusan orang, ada sebagian yang berseragam hijau bertanda pita kuning-merah, tapi tidak mengenakan sepatu lars.

 

Saat peristiwa, selain Anda dan tujuh saudara, siapa petugas yang berjaga?

Hanya kami berdelapan dan sejumlah petugas dari Garnisun yang menjaga rumah kami. Tapi saat peristiwa, mereka sudah dilucuti sehingga tidak bisa melakukan apa-apa. Malam itu, ibu kami sedang menyepi di rumah kami yang lain di Jalan Taman Suropati.

 

Selanjutnya, apa yang dilakukan?

Kami meminta Mbok Milah menjemput ajudan bapak, Mayor Subardi, yang tinggal satu kompleks dengan kami. Waktu Om Bardi tiba, kami sambil menangis memberitahu bahwa bapak ditembak dan dibawa. Om Bardi bertanya ciri-ciri orang yang membawa bapak. Saya sebutkan bahwa mereka Tjakrabirawa.

 

Kapan ibu mengetahui peristiwa itu?

Ibu dijemput oleh ajudan bapak dan tiba di rumah sekitar pukul 05.00 WIB. Ia heran karena lampu rumah sudah benderang dan kami sudah bangun semua. Setelah kami beri tahu tentang bapak dan melihat darah berceceran di lantai, ia pun pingsan. Saat siuman, Ibu mengambil segumpal darah dan mengusapkan ke tubuhnya. Kami terkejut dan bertanya mengapa melakukannya. Ia bilang, bapak sudah tidak ada. Kami membantah, kami katakan bapak belum meninggal.

 

Siapa yang berusaha mencari bapak?

Ajudan. Sementara itu, di hari yang sama kami mengungsi ke rumah teman bapak di Pasar Minggu, untuk meredakan ketakutan. Di rumah tanpa aliran listrik itulah kami menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ajudan dan orang-orangnya bapak sempat memberi tahu bahwa bapak ada di Istana Presiden. Ada juga yang bilang, di tempat lainnya. Padahal, tidak ada yang tahu di mana bapak saya berada.

 

Ketika itu, apakah memperoleh informasi dari media massa?

Informasi hanya kami peroleh dari radio transistor. Radio Republik Indonesia (RRI) memberitakan bahwa bapak saya pengkhianat. Presiden Soekarno aman dari Gerakan 30 September. Tapi Radio Australia menginformasikan para jenderal yang diculik belum ditemukan.

 

Kapan mengetahui orangtua Anda sudah tiada?

Tanggal 3 Oktober malam mendapat kabar lokasi para jenderal yang diculik ditemukan. Tanggal 4 Oktober ajudan bapak datang ke rumah dengan pakaian penuh lumpur dan mata merah karena tidak tidur berhari-hari lantaran mencari bapak. Ia menemui ibu, untuk mengabarkan bahwa jenazah bapak kami sudah ditemukan. Setelah itu, ibu memanggil kami semua, menyampaikan bapak betul-betul sudah tidak ada. Ibu meminta kami menerima kenyataan.

 

Apakah sempat melihat kondisi Bapak?

Kami ingin melihatnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, tapi ajudan melarang karena kondisi semua korban sulit dikenali. Bapak pun dikenali dari piyama yang dikenakannya. Kalau ada yang bilang para jenderal korban G-30-S/PKI tidak disiksa, tidak mungkin. Saya melihat sendiri bagaimana mereka memperlakukan orangtua saya. Akhirnya kami melepas kepergian bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya pada 5 Oktober di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

 

Bagaimana aktivitas sehari-hari pascaperistiwa?

Saat itu saya berumur 16 tahun, baru SMA kelas 1. Kami tidak sekolah hampir satu tahun karena Jakarta dalam kondisi gawat. Aktivitas sekolah terhenti. Selama itulah saya memimpin unjuk rasa Kesatuan Aksi Pelajar di depan Istana, menuntut Presiden Soekarno bertanggung jawab atas G-30-S/PKI.

 

Setelah bapak tiada, bagaimana ibu membesarkan delapan putra putrinya ?

Ibu mengambil alih posisi kepala keluarga karena uang pensiun bapak hanya Rp150 ribu ditambah beras 20 kilogram per bulan tidak cukup untuk memenuhi biaya hidup kami. Ibu berjualan beras, minyak goreng, dan beberapa kebutuhan lain di rumah. Ibu meminta kami anak-anaknya terus bersekolah tanpa memikirkan biaya karena ia rela menjadikan kepalanya sebagai kaki dan kaki menjadi kepala untuk menghidupi kami delapan bersaudara.

 

Kapan bisa menerima kenyataan seperti yang diminta ibu?

Pada 10 tahun pertama saya sulit menerima kenyataan bapak saya diperlakukan secara keji. Bahkan, kejiwaan saya terganggu pascaperistiwa yang membuat saya harus bolak-balik berobat ke rumah sakit. Saya tidak bisa tidur, merasa sering didatangi bapak. Setelah sempat kuliah di UI, akhirnya saya pindah kuliah di Inggris. Tinggal di luar negeri membuat saya bisa keluar dari situasi Tanah Air. Di sisi lain, saya bisa melihat Indonesia dari kacamata internasional, yang membuat saya bangga karena bapak saya dikenal di mana-mana dan dihormati. Setelah itu, perlahan saya bisa menerima kenyataan. Apalagi, setelah mengetahui bagaimana keluarga yang dituduh sebagai PKI ditempatkan di Pulau Buru.

 

Pernah ke Pulau Buru?

Saat aktif di partai politik, saya sempat menemui mereka. Awalnya mereka tidak bersedia ditemui. Namun, ketika saya katakan bahwa saya juga adalah korban, mereka menjadi terbuka. Ada yang terpisah dengan anaknya dan meminta saya membantu mencarinya. Jadi saya bisa melihat ada orang lain juga yang menderita.

 

 

Apakah luka batin juga sembuh?

Tidak. Setamat kuliah, saya sempat bekerja di Kementerian Luar Negeri, lalu pindah bekerja di United Nations Development Programme (UNDP). Namun, pada 1988 saya merasa jenuh sehingga memutuskan berhenti bekerja. Lalu, saya pindah ke Yogyakarta. Menjadi petani, sekaligus membina petani di Sleman. Kami beternak kambing etawa, menanam berbagai sayuran dan buah, saya punya sawah, punya kolam ikan, juga beternak ayam.

 

Apa tujuan utama tinggal di desa dan menjadi petani?

Saya ingin melupakan peristiwa yang melukai batin saya. Di sanalah saya bisa menyaksikan bagaimana bibit tanaman yang saya tanam semua bisa tumbuh subur dan menghasilkan untuk bisa dinikmati. Begitu juga ikan, ayam, dan padi. Apa yang saya ingin, bisa saya ambil, sehingga tumbuhlah rasa syukur. Bersyukur membuat luka batin saya perlahan sembuh. Jadi intinya, yang bisa mengobati hati kita hanya kita sendiri. 

 

Apa yang mendorong meninggalkan desa setelah luka batin sembuh?

Saya aktif di parpol. Pernah juga mencalonkan diri sebagai bupati, tetapi gagal. Sebaliknya, uang saya habis.

 

Bagaimana kondisi sekarang?

Setelah ditugaskan sebagai diplomat, saya semakin bersyukur. Saya bangkit, berbakti pada Tanah Air, dan bisa menikmati hidup di usia senja saya. Peristiwa 30 September 1965 sampai kapan pun tidak bisa saya lupakan. Bahkan, setiap memasuki September, saya merasa selalu ada yang salah. Sedih, kadang ingin marah. Setelah saya sadar, ternyata setiap September rasa itu selalu muncul. Hal sama dialami saudara-saudara saya, tapi luka batin saya kini perlahan sembuh. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More