Minggu 29 September 2019, 03:00 WIB

Ledhok Iline Banyu

Ono Sarwono | Weekend
Ledhok Iline Banyu

Dok. Pribadi
Wayang

TERIK musim kemarau tak begitu menyengat di Dusun Klampisireng. Pepohonan di sana-sini tumbuh subur dan rindang meneduhkan dusun yang disepuhi Ki Lurah Semar Badranaya itu. Udara terasa sejuk nan segar. Sepanjang hari angin bertiup lembut kian membuat dusun begitu nyaman.

Kebutuhan air warga serta lahan pertanian terjamin. Sejumlah umbul di bawah pohon-pohoh besar di pinggir dusun tiada henti mengalirkan air jernih yang melimpah. Inilah berkah dari kesadaran dan kearifan lokal warga yang secara turun-temurun menjaga kelestarian lingkungan.

Siang itu, pada suatu hari, panakawan Gareng, Petruk, dan Bagong sedang bercengkerama di emper rumah Semar yang sederhana. Di atas lincak beralaskan tikar mendong, mereka asyik bercakap-cakap ditemani nyamikan ala dusun, ganyong dan gembili, disertai wedang uwuh hangat.

Berkumpul di rumah orangtua mereka itu menjadi rutinitas ketika mereka tidak ada agenda sowan ke istana Amarta. Pun libur dari tugas mendampingi bendara-nya bepergian atau menjalani laku prihatin. Dalam forum itulah mereka biasanya memperbincangkan isu-isu hangat.

“Ada kabar apa, Truk (Petruk)?” kata Gareng membuka pembicaraan. Sebelumnya, seperti menjadi pakemnya, mereka bertiga saling menanyakan serta mengabarkan kesehatan dan keselamatan keluarga masing-masing.

“Yang lagi ramai soal rencana pengesahan sejumlah paugeran (aturan) negara,” jawab Petruk.
“Ramainya gimana?” tanya Gareng penasaran.

Dari ketiga putra Semar, Petruk dikenal yang paling wasis (pinter) bicara dan juga berpengetahuan luas. Itu karena ia memang cerdas dan suka mengikuti kabar apa saja lewat berbagai media. Maka, nyaris tidak ada isu aktual apa pun yang luput dari perhatiannya.

“Ramai karena ada yang setuju dan ada yang menolak. Ada sejumlah kelompok rakyat yang memprotes di alun-alun,” papar Petruk.

“Yang diprotes aturan apa?” kejar Gareng.

“Ada sejumlah aturan. Misalnya, soal aturan yang menghina raja diancam hukuman penjara,” jelas Petruk. “Di antara yang tidak setuju, ada yang berpendapat aturan itu bertentangan dengan kebebasan. Penguasa atau aparat akan menghukum para pengkritiknya,” tambahnya.

“Lo, mengkritik dengan menghina itu kan beda ta kang (kakang)?” sela Bagong sambil mengunyah gembili hasil kebunnya.

“Ya jelas beda. Mengkritik itu biasanya terkait dengan kebijakan, sedangkan menghina itu lebih ke pribadi,” terang Petruk. “Tapi kadang persoalannya ya di situ Gong (Bagong). Menghina tapi merasa yang dilakukan adalah mengkritik,” tambahnya sambil tersenyum kecut.
“Nganyelke (menjengkelkan) ya kang (kakang)?” ujar Bagong.

Gareng lalu berujar, “Kalau kita lihat, kenyataannya perilaku hina-menghina, fitnah-memfitnah semakin tumbuh subur di Amarta. Inilah yang barangkali negara lalu ingin mengaturnya.”

“Kang Petruk, kalau aturan hukuman untuk mereka yang suka suuzon ada enggak?” tanya Bagong nyengir.

“Tidak ada,” jawab Petruk terkekeh-kekeh.

Menurut Bagong, aturan itu perlu ada karena banyak warga yang gampang suuzon terhadap apa pun, sudah tidak ada saling percaya. Warga juga gampang marah, bahkan hanya karena hal-hal sepele, padahal itu juga ada akibat perbuatannya sendiri. “Sikap suka mengalah sudah tidak ada lagi ya kang, yang ada otot-ototan, menang-menangan. Di mana-mana orang merasa yang paling benar,” ujarnya.

“Truk, apakah kondisi menggiriskan seperti ini karena ekses zaman kebebasan?” kata Gareng.

Mengoreksi diri

Tiba-tiba percakapan mereka terhenti ketika Semar datang menimbrung. Tangan kanannya membawa mug (cangkir besar) berisi minuman temulawak kegemarannya. “Ini ngobrolin apa, kok gayeng?” ujar Semar sambil meletakan mug di atas tikar dan membenarkan duduknya.

“Ini lagi merasani rencana sejumlah paugeran negara yang menimbulkan penolakan warga,” kata Petruk.

“Wo...itu ta,” ujar Semar singkat.

Semar kemudian membuka slepen (tempat tembakau) lalu melinting rokok dengan kelobot dan ditaburi wur (racikan cengkeh). Sesaat kemudian ia menyulutnya. Semar tampak menikmatinya.

Bagong yang semula hanya memperhatikan bapaknya lalu ikut melinting, tiga sekaligus. Dua ia berikan kepada kakaknya, Gareng dan Petruk, dan satunya untuk dirinya sendiri. “Matur nuwun (terima kasih), Gong,” ujar Petruk dan Gareng hampir bersamaan.

Sejurus kemudian Gareng mengatakan, “Pak, menurut bapak, apa yang sedang terjadi dengan bangsa Amarta saat ini?”

Semar menghela napas sambil mesem. Ia lalu mengatakan bahwa Amarta seperti sedang mengalami zaman kalabendu. Era di mana terjadi penjungkirbalikan nilai-nilai perikehidupan. Zaman rusak-rusakan, sirnanya kemuliaan dan keluhuran dalam perikehidupan bangsa.

Warga berperilaku sesukanya. Fitnah-memfitnah, hina-menghina, tipu-menipu, korupsi merajalela. Banyak pemimpin dan elite yang meleng (melenceng) sehingga kehilangan wibawa.

Semar mengaku prihatin dengan keprimitifan ini. Dengan penuh kesadaran, Semar sebagai pamong negara, merasa bertanggung jawab. Untuk itu, ia ingin memperbaiki kerusakan moral bangsa Amarta.  

“Lalu, bagaimana cara memperbaiki pak?” tanya Bagong.

Semar menjelaskan bangsa Amarta mesti sadar dan berani mengoreksi diri. Jati diri bangsa adalah beradab. Bukan bangsa barbar yang tidak punya tata nilai. Watak bangsa keguyubrukunan dan kegotongroyongan.

“Tapi itu mesti dimulai dari siapa?” tanya Gareng.

“Dimulai dari diri sendiri setiap insan warga,” tegas Semar. “Tapi dalam konteks kebangsaan, mental pemimpin dan kaum elite yang mesti diperbaiki. Ledhok iline banyu,” terangnya. Ledhok iline banyu artinya cekungan yang letaknya lebih rendah tempat air mengalir.

“Maksudnya bagaimana Pak?” tanya Petruk.

“Maknanya, semua itu mesti diawali dari atas, dari para pemimpin dan elitenya. Bila mereka amanah, bisa dipercaya, memberikan contoh baik, yang di bawah (rakyat) juga akan baik. Ibaratnya, kalau air dari atas bening, akan bening pula sampai di bawah,” ujarnya.

Semar menandaskan bila bangsa Amarta mampu mengembalikan jati dirinya, tidak perlu ada tetek bengek (macam-macam) aturan, apalagi yang sampai menyasar urusan-urusan privat. Amarta pun pasti akan menjemput zaman kalasuba, zaman kegemilangan. Negara yang kuat, adil dan makmur. Rakyat hidup sejahtera dan ayem tenteram.

Tidak terasa sore telah menjelang. Gareng, Petruk, dan Bagong lalu pamit kepada Semar untuk kembali ke rumah masing-masing. Mereka bersiap karena keesokan harinya sowan ke momongannya, Pandawa. (M-2)

 

Baca Juga

The Man Standing Next (2020)

Rayakan Tiga Dekade Berakting, Biografi Aktor Ikonik ini Terbit

👤Fathurrozak 🕔Selasa 24 November 2020, 11:35 WIB
Buku ini dibagi menjadi lima bagian: anatomi, kolaborasi, analisis, wawancara, dan...
MI/Dede Susianti

Ayo Kenali Ragam Kain Tradisional Nusantara

👤Galih Agus Saputra 🕔Selasa 24 November 2020, 08:10 WIB
Pengenalan dilakukan secara daring melalui akun Instagram Unit Pengelola Museum Seni Jakarta,...
MI/Susanto

Pertunjukan Musik Daring jadi Medium Promosi Destinasi Wisata

👤Galih Agus Saputra 🕔Selasa 24 November 2020, 08:10 WIB
Pprogram Wonders ditujukan untuk menjelajahi dan mengabadikan keindahan Indonesia dengan segala keunikannya, melalui kekuatan pengalaman...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya