Sabtu 28 September 2019, 17:15 WIB

Boneka Kucing Agus Berkeliling Nusantara

Cikwan Suwandi | Nusantara
Boneka Kucing Agus Berkeliling Nusantara

MI/Cikwan Suwandi
Agus Sopian tengah menjahit untuk membuat sebuah boneka kucing.

 

USIA Agus Sopian masih 24 tahun. Namun, ia memberanikan diri untuk berhenti bekerja dari salah satu perusahaan pupuk ternama di Indonesia demi menjadi wirausaha. Didukung sang istri Siti Rasmini dan pengalaman bersama orangtuanya, Agus muda mulai berbisnis boneka berkarakter kucing.

Ia hanya memiliki satu mesin jahit warisan orang tuanya dan modal Rp200 ribu. Di rumahnya, Kampung Sukakenang, Desa Cikampek Utara, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Karawang, Agus mulai membuat boneka kucing berukuran 20 sentimeter. Dari modal minimnya itu terbuat 40 buah boneka.

"Saya mulai tawarkan kepada sejumlah toko boneka di wilayah Cikampek. Berkeliling dari toko ke toko yang mau menerima hasil produksi tangan saya sendiri. Dalam minggu itu saya hanya mendapatkan omzet Rp100 ribu kemudian saya putar kembali dengan membuat boneka," kata Agus kepada Media Indonesia saat mengingat masa sulitnya, Sabtu (28/9).

Lima tahun kemudian, Agus dikenalkan sebuah cara baru untuk menjual boneka-bonekanya oleh salah satu sahabatnya yang berasal dari Kabupaten Sukabumi. Cara menjajakan boneka melalui website.

"Saya tertarik, tetapi saya sama sekali tidak paham komputer. Kemudian saya minta agar dia buatkan website dan mengajarkannya. Dengan modal dua bungkus rokok, teman saya ini buatkan saya website dengan nama pengrajinboneka.com," ujarnya.

Dari website miliknya itu, Agus mulai sadar jika dunia digital sangat membantu dalam bisnisnya tersebut. Ia mulai menerima telepon pesanan dari berbagai daerah di Indonesia.

"Hanya saja saya bingung saat itu bagaimana cara mengirim pesanan ini. Saya mulai kirim pesanan ini melalui jasa titip truk dan bus-bus yang melintas Karawang. Tetapi kiriman masih ke kabupaten dan provinsi tertentu saja. Kendala lainnya website ini tidak ada jaminan, bahkan saya harus memiliki piutang Rp100 juta, karena yang pesan belum membayar hingga sekarang," terangnya.

Kini, kemudahan akses internet Indonesia kian maju, sejumlah marketplace pun bermunculan. Agus mulai meliriknya dalam empat tahun terakhir. Ia pun mulai memiliki berbagai toko di sejumlah marketplace untuk menjajakan boneka buatannya.

Saat ini, usaha pria kelahiran 18 Agustus 1980 itu terus berkembang. Ia tidak perlu lagi bingung untuk mendapatkan pelanggan. Agus pun tercatat sebagai mitra agen Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) sebuah perusahaan jasa logistik ternama di Indonesia. Ia pun tak perlu lagi bingung untuk mengirimkan boneka-bonekanya ke seluruh pelanggannya.

"Saya tinggal kemas boneka dan kasur produksi kami. Kemudian mobil dari JNE datang untuk mengirimkan dagangan kami ke pelanggan," imbuhnya.

Menurut Agus, dirinya sudah mengirimkan hasil dagangannya tersebut ke seluruh penjuru nusantara.

"Setiap hari saya mengirimkan barang hingga 60 kilogram dengan nilai omzet mencapai Rp4-5 juta," tukasnya.

Di rumah produksi boneka, ayah dari empat orang anak ini telah memiliki delapan karyawan. Agus mengaku saat ini bisnisnya hanya tinggal melalui sebuah smartphone saja.

Pagi itu saat ditemui Media Indonesia, Agus bersama karyawannya tengah sibuk menyiapkan puluhan paket yang akan dikirimnya ke Palembang, Makasar, Tangerang, Jakarta dan Banjarnegara.

"Mau pesan satu atau hingga 100 buah, kita tinggal kirim saat ini. Keuntungan kerja sama dengan JNE ini sangat lumayan, karena kita juga mendapatkan bonus dari setiap jasa pengirimannya," terangnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Cabang JNE Karawang Andre Nurdjianto mengatakan jasa logistik untuk kiriman besar menggunakan trucking via JTR juga tumbuh hingga 130% dari tahun lalu terutama potensi UKM industri boneka di daerah Cikampek.

"JNE memberikan berbagai program dimana salah satunya merupakan program pengembangan UKM seperti pelatihan untuk UKM, seminar maupun bentuk dukungan lainnya kepada komunitas marketplace dalam pelaksanaan kegiatan untuk mengakselerasi kemampuan dalam menghadapi cepatnya perkembangan era digital saat ini," pungkasnya.(OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More