Jumat 27 September 2019, 21:19 WIB

Cerita Baik HAM dari Indonesia di Markas PBB

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Cerita Baik HAM dari Indonesia di Markas PBB

Antara
Ilustrasi: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Konferensi Regional tentang Diplomasi Digital di Jakarta, Selasa (10/9).

 

“Di Indonesia pemberdayaan perempuan telah berhasil mengubah pola pikir mengenai perempuan, dari perempuan sebagai korban yang lemah menjadi perempuan yang kuat dan berani.”

Hal ini disampaikan Menlu Retno Marsudi mengawali pidatonya saat menjadi panelis dalam diskusi panel Tingkat Menteri, Kamis (26/9), di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat.

Baca juga: Menkum dan HAM Yasonna Mengundurkan Diri serta Minta Maaf

Diskusi panel yang bertajuk “Cerita Baik HAM” tersebut juga dihadiri oleh Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet dan sejumlah menteri dan pejabat tinggi dari berbagai kawasan.

Retno menjelaskan keberhasilan Indonesia dalam mendorong pemberdayaan perempuan merupakan kolaborasi program yang baik antara pemerintah dan masyarakat sipil. Program-program kolaboratif tersebut tercermin dalam dua program besar.

Pertama, perempuan sebagai agen perdamaian dan toleransi. Perempuan ditempatkan sebagai motor perdamaian dalam komunitas.

“Program Peace Village Initiative adalah contoh nyata kolaborasi masyarakat madani dengan pemerintah dalam rangka mempromosikan peranan perempuan di dalam keluarga, komunitas, dan pemerintah lokal," Retno menambahkan.

Untuk diketahui, Peace Village Initiative adalah program yang digagas oleh Wahid Institute untuk menangkal bahaya radikalisme melalui pemberdayaan komunitas.

Kedua, lanjutnya, perempuan sebagai agen kesejahteraan. Saat ini, akses keuangan kepada perempuan merupakan salah satu isu utama membangun kesejahteraan.

Retno menjelaskan untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah menyiapkan program untuk membuka akses keuangan. “Program UMI dan MEKAAR telah memberikan akses keuangan untuk keperluan entrepreneurship kepada 10 juta perempuan di Indonesia," terang Retno.

Tidak hanya berhenti pada tingkat lokal, Indonesia juga mendorong pemberdayaan perempuan di Palestina dan Afghanistan. Di Palestina, Indonesia telah memberikan bantuan bagi perempuan di kamp pengungsi di Yordania melalui program literasi bisnis dan kewirausahaan.

Sementara di Afghanistan, pada tahun ini, Indonesia telah memberikan program pembangunan kapasitas untuk 100 warga Afghanistan, 12 diantaranya perempuan. Tahun ini, Indonesia akan menyelenggarakan Konferensi Perempuan untuk Perdamaian di Afghanistan.

Diskusi panel ini merupakan kegiatan inisiatif “Cerita Baik HAM” yang merupakan upaya khusus mendorong penghormatan dan perlindungan HAM di seluruh dunia. Diskusi yang dituanrumahi Uni Eropa tersebut, tahun ini bertemakan “Menciptakan hidup yang lebih baik dari kandungan: promosi dan perlindungan hak-hak perempuan dan anak”.

Cerita Baik HAM bertujuan untuk menampilkan contoh baik dari penghormatan dan implementasi HAM. Selain Indonesia, wadah ini diinisiasi oleh 12 negara lainnya dan Uni Eropa. Negara-negara tersebut adalah Argentina, Burkina Faso, Cape Verde, Chile, Georgia, Indonesia, New Zealand, Norway, Peru, Korea Selatan, Gambia, Tunisia, dan Uruguay. (Hym/A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More