Kamis 26 September 2019, 22:30 WIB

Teheran Tolak Opsi Dialog

Teheran Tolak Opsi Dialog

AFP
Presiden Iran Hassan Rouhani

 

PRESIDEN Iran Hassan Rouhani menyatakan pihaknya menolak bertemu dengan Presiden AS Donald Trump sebelum Washington bersedia mencabut semua sanksi terhadap Iran.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah berusaha mengatur pertemuan bersejarah antara Rouhani dan Trump yang diharap dapat mengurangi risiko perang habis-habisan di Timur Tengah.

Namun, Presiden Rouhani, yang berbicara di Majelis Umum PBB kemarin, menolaknya. "Saya ingin mengumumkan bahwa tanggapan kami terhadap setiap negosiasi di bawah sanksi ialah negatif," tegas Rouhani.

Dia meragukan ketulusan pemerintahan Trump untuk bernegosiasi, merujuk pada ucapan-ucapan Trump yang bangga karena telah menerapkan 'sanksi paling keras dalam sejarah' terhadap Iran.

Dalam pidatonya, pemimpin Iran itu juga mendesak Arab Saudi agar mengakhiri serangan ofensifnya di Yaman demi menumpas pemberontak.

Sementara itu, negara-negara besar di Eropa, meskipun mengkritik Iran, percaya bahwa diplomasi ialah jalan terbaik untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk dan menyelesaikan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Sejauh ini negara-negara Eropa tetap menjadi bagian dari perjanjian nuklir dengan Iran yang dinegosiasikan oleh mantan Presiden AS Barack Obama. Kesepakatan itu membuat Iran secara drastis mengurangi program nuklirnya dengan imbalan janji pengurangan sanksi-sanksi yang melilit Iran.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengakui cukup susah melestarikan pakta tersebut.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, yang memiliki hubungan lama dengan Iran meskipun aliansi Tokyo dengan Washington juga kuat, bersumpah akan terus bekerja untuk mewujudkan pembicaraan AS dengan Iran. (AFP/Hym/Uca/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More