Kamis 26 September 2019, 09:46 WIB

Presiden Iran Tolak Negosiasi dengan AS di Bawah Tekanan

Melalusa Susthira K | Internasional
Presiden Iran Tolak Negosiasi dengan AS di Bawah Tekanan

Angela Weiss/AFP
Presiden Iran Hassan Rouhani setelah bertemu Sekjen PBB Antonio Guterres di Gedung PBB, New York, AS, Rabu (25/9).

 

PRESIDEN Iran Hassan Rouhani menutup pintu untuk melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum ke-74 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rouhani dengan tegas menyatakan akan menolak perundingan jika AS masih mempertahankan sanksi tekanan ekonominya terhadap Iran.

"Saya ingin mengumumkan, bahwa tanggapan kami terhadap setiap negosiasi di bawah sanksi adalah negatif," ujar Rouhani, di New York, AS, Rabu (25/9).

Presiden Iran juga menolak usulan kesempatan sesi foto formal (foto-op) dengan Trump, yang dinilainya sebagai drama kegemaran Trump sebagaimana yang dilakukan pada tiga pertemuan televisi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

"Foto kenangan adalah tahap akhir negosiasi, bukan yang pertama," kata Rouhani.

Rouhani lantas meragukan ketulusan pemerintahan Trump untuk bernegosiasi, merujuk para pejabat AS yang membanggakan menerapkan sanksi terberat dalam sejarah yang pernah dijatuhi AS terhadap Iran.

"Bagaimana seseorang bisa mempercayai mereka ketika pembunuhan secara halus dari sebuah negara besar menekan kehidupan 83 juta orang Iran, terutama wanita dan anak-anak, disambut oleh pejabat pemerintah Amerika? Bangsa Iran tidak akan pernah melupakan dan memaafkan kejahatan ini dan para penjahat ini," tegas Rouhani.

Sebelumnya, para pemimpin Eropa telah berupaya untuk meredakan ketegangan setelah AS kembali memberlakukan sanksi baru terhadap Iran.

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah bolak-balik berupaya mengatur pertemuan bersejarah antara AS dan Iran selama dua hari di pertemuan PBB, yang diharapkan dapat mengurangi risiko perang habis-habisan pecah di Timur Tengah.

Tekan Iran melalui Tiongkok

Terkait hal tersebut, pemerintahan Trump pun menargetkan Iran melalui Tiongkok. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan AS menghukum perusahaan-perusahaan Tiongkok dan pemimpin perusahaannya karena telah membeli minyak kepada Iran.

"Kami memberi tahu Tiongkok dan semua negara, bahwa kami akan memberikan sanksi setiap pelanggaran aktivitas yang dapat dijatuhi sanksi," kata Pompeo di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.

Tiongkok yang terlibat perang dagang dan berbagai perselisihan lainnya dengan Amerika Serikat, diyakini sebagai pembeli asing terbesar minyak Iran.

Pemerintahan Trump pada bulan Mei lalu mengatakan akan memaksa secara sepihak semua negara untuk berhenti membeli minyak Iran, yang merupakan sumber ekspor utamanya.

Sebelumnya, 'Negeri Paman Sam' menuduh Iran melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap kilang minyak pesaingnya, yakni Saudi Aramco yang merupakan raksasa energi milik Kerajaan Arab Saudi, Sabtu (14/9). (AFP/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More