Rabu 25 September 2019, 21:45 WIB

Semburan Lumpur di Kutisari Surabaya Menjadi Dua Titik

Antara | Nusantara
Semburan Lumpur di Kutisari Surabaya Menjadi Dua Titik

ANTARA
Semburan Lumpur

 

SEMBURAN lumpur bercampur minyak dan gas yang keluar dari pekarangan rumah Liswati, warga Perumahan Kutisari Indah Utara III/19, Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (25/9), kini bertambah menjadi dua titik.  

Bagian Keamanan PT Classic Prima Carpet Industries (CPCI), Ahmad Fauzi, mengatakan, dua hari sebelumnya gelembung semburan lumpur hanya keluar di satu titik, namun pada Rabu ini menjadi dua titik.   

"Titik ini berbeda dengan titik yang kemarin," katanya.

Menurut dia, pihak Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya masih melakukan sejumlah tes untuk mengetahui zat limbah semburan lumpur melalui pengambilan sampel semburan lumpur.  

Untuk mengetes lumpur tersebut, lanjut dia, pihak ITS dan DLH menggunakan enviromental test meter atau alat untuk mengukur tingginya kadar gas SO2, NO, O3, CO, serta suhu. Alat tersebut terpasang di lokasi semburan gas untuk memantau kadar gas yang dikeluarkan semburan.    

"Hasil tes belum dikeluarkan, belum ada solusi yang diberikan. Penyebabnya pun kami semua belum ada yang tahu, tapi memang daerah ini
sudah beberapa kali ada kejadian semburan lumpur," kata Setiawan, suami Liswati menambahkan.  

Pengemudi penghuni rumah, Imam Kambali, mengatakan, pada hari pertama, Senin (23/9), yang keluar masih berbentuk lumpur sehingga ditampung ke dalam karung. Namun, pada hari kedua Selasa (24/9) mulai keluar minyak sehingga ditampung ke dalam drum.


Baca juga: Polisi Tetapkan 7 Tersangka Kericuhan di Jayapura


"Jadi dari kemarin sampai hari ini sudah ada totalnya 11 drum," ujarnya.   

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Eko Agus Supiadi, sebelumnya mengatakan, petugas DLH telah mengecek semburan lumpur di Perumahan Kutisari Indah Utara III Nomor 19 itu, yang kemudian dinilai bisa masuk dalam kategori berbahaya karena kualitas udara di sekitar lokasi kejadian ada peningkatan, atau tepatnya ada peningkatan suhu udara.   

"SO2 (sulfur dioksida)-nya di atas rata-rata, melebihi batas mutu," ujarnya.

Eko pun menyebut bahwa batas normal SO2 adalah 900 mikrogram per meter kubik. Sementara, dari pengukuran yang dilakukan di lokasi semburan dengan alat gas monitoring kit, kadar SO2-nya mencapai 1.396,36. Hasil pengecekan sementara juga mengandung belerang.    

Selain SO2, DLH juga mengukur Nitrogen Oksida (NO), ozon permukaan (O3), dan Karbon Monoksida (CO). Hasilnya, NO hasilnya 0,0 mikrogram per meter kubik, O3 hasilnya 67,86, serta CO-nya 2.165,1. Sementara temperatur tercatat 27,9 derajat.  

Mengenai tindakan selanjutnya DLH Surabaya akan terus berkomunikasi dengan tim dari Energi Sumber Daya Manusia (ESDM) Provinsi
Jatim, demikian Eko Agus Supiadi. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More