Rabu 25 September 2019, 17:45 WIB

Sosialisasi untuk Selamatkan Yaki dari Kepunahan

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Sosialisasi untuk Selamatkan Yaki dari Kepunahan

MI/Atikah Ishmah Winahyu
Yaki, satwa endemik Sulawesi bagian Utara

 

YAKI, satwa endemik yang hanya dapat ditemui di Sulawesi bagian Utara. Hewan bernama ilmiah Macaca Nigra ini memiliki bulu dan jambul hitam serta bantalan pantat merah sebagai ciri khasnya.

Panjang Yaki betina dewasa dapat mencapai 44-55 cm dan jantan dewasa mencapai 52-67 cm dengan berat 7-15 kg.

Yaki menjadi salah satu satwa di Indonesia yang dilindungi, seperti tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Saat ini populasi Yaki semakin berkurang, bahkan masuk dalam kategori terancam punah.

Faktor terbesar yang menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup monyet hitam ini adalah kegiatan perburuan yang dilakukan oleh masyarakat. Di daerah asalnya, warga sekitar gemar memburu Yaki untuk dijadikan makanan atau binatang peliharaan.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bitung Khouni Lomban Rawung yang juga dikenal sebagai Duta Yaki mengatakan, sejak dulu warga memang sudah biasa memakan Yaki.

“Di sini masyarakat makan apa saja, termasuk Yaki,” kata Khouni Lomban Rawung kepada Media Indonesia di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (25/9).

Untuk mencegah semakin berkurangnya jumlah populasi Yaki, Khouni mengaku telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait satwa primata tersebut selama lima sampai enam tahun terakhir. Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung dalam melestarikan Yaki turut didukung oleh Enhancing the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation (EPASS) Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Beberapa program pelestarian yang telah dijalankan yakni sosialisasi kepada warga melalui tokoh masyarakat, mengadakan pendidikan konservasi di sekolah-sekolah dengan memberikan teori dan mengajak siswa turun ke lapangan, pemberdayaan masyarakat, hingga riset tentang Yaki agar mendapatkan data lengkap terkait mamalia ini.

“Dulu masyarakat menganggap Yaki konsumsi, setelah ada inisiasi EPASS orang-orang jadi lebih mengerti, semakin meluas informasinya,” tutur Kordinator Lapangan Kawasan Pelestarian Alam Tangkoko EPASS Lilik Yuliarso.

Baca juga: Tarsius, Primata Asal Sulawesi yang Paling Setia

Di Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Tangkoko, ada sekitar 300 ekor Yaki yang hidup. Terdapat tiga kelompok besar yakni Rambo 1, Rambo 2 dan Rambo 3 yang mendiami kawasan TWA Batuputih. Setiap kelompok masing-masing beranggotakan sekitar 80 hingga 100 ekor Yaki dan dipimpin oleh pejantan alfa yang paling kuat di kelompoknya.

“Kenapa Yaki perlu dilestarikan, karena binatang ini hanya ada di Sulawesi Utara. Tangkoko menjadi lokasi paling aman bagi Yaki karena di sini mereka tidak diburu,” imbuh Lilik.

Lilik menambahkan, pihaknya masih melakukan survei untuk menghitung jumlah populasi Yaki. Survei ini dilakukan sejak April 2019 dan ditargetkan selesai Oktober 2019.

Selain itu, sebagai upaya menjaga kelestarian Yaki, EPASS Direktorat KKH KLHK bersama Pemkot Bitung dan Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia meluncurkan strategi dan rencana aksi konservasi 2019-2028 yang ditetapkan pada 2 Agustus 2019 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

“Jadi setiap spesies khas Indonesia mempunyai perencanaan 10 tahun bagaimana mengembangkan satwa tersebut, kalau yang dijadikan strategi dan rencana aksi konservasi di sini (KPHK Tangkoko), yaki,” pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More