Selasa 24 September 2019, 23:58 WIB

PMA 2019 Diikuti 100 Karya Inovasi dari 50 Perguruan Tinggi

Antara | Humaniora
PMA 2019 Diikuti 100 Karya Inovasi dari 50 Perguruan Tinggi

Dok. Ewindo
Presentasi inovasi mahasiswa dalam Panah Merah Innovation Award 2019

 

PRODUSEN benih sayuran, PT East West Seed Indonesia (Ewindo), kembali menghadirkan Panah Merah Innovation Award (PMIA) 2019 yang diikuti sebanyak 110 karya inovasi dari 50 perguruan tinggi di Indonesia dengan mengusung tema besar "Creative Innovation Towards SDG's 2030".

"Berbeda dengan PMIA 2018, kegiatan kali ini lebih memberikan keleluasaan kepada peserta untuk mengeksplorasi kemampuannya tidak hanya di bidang teknis pertanian saja, namun berbagai pendekatan keilmuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dunia tahun 2030," kata penasihat kegiatan, Fransiska Fortuna dalam keterangannya, Selasa.

Untuk itu dalam PMIA 2019 terdapat tiga sub tema yang diusung yakni bidang agrobisnis, analisa nutrisi sayuran, dan proyek komunitas sosial terkait agenda SDGs tujuannya untuk memberikan lebih banyak peminat dari berbagai bidang disiplin ilmu, jelas Fransiska yang juga didampingi Ketua Panitia PMIA 2019, Nur Fajrina.

"Perkirakan kami peserta tidak hanya dibidang eksak, namun berbagai bidang seperti program studi akuntansi dari Universitas Indonesia yang menghadirkan karya asuransi mikro bagi petani atau program studi psikologi dan kedokteran dari Universitas Hasanuddin yang membahas soal pola pemahaman gizi terhadap masyarakat," kata Fransiska.

Bahkan Fransiska melihat karya yang dipaparkan peserta dari prodi non pertanian itu  akan memberikan manfaat yang besar  seperti tentang asuransi mikro dampaknya bakal luar biasa  karena dapat mengurangi risiko kerugian bagi petani kecil apabila mengalami gagal panen.

Baca juga : Milenial Mulai Menyukai Sektor Pertanian

Menurut Nur Fajrina tim juri telah memilih 10 karya terbaik dari PMIA 2019 untuk kemudian akan diseleksi lagi oleh tim panelis menjadi tiga karya pemenang yang akan mendapatkan penghargaan berupa uang juga terbuka kesempatan karyanya digandeng oleh industri yang berminat termasuk dari Ewindo.

Penjaringan PMIA 2019 berkerja sama dengan Universitas Indonesia untuk perguruan tinggi negeri dan Kopertis untuk perguruan tinggi swasta, serta untuk pengumumannya menggunakan fasilitas media sosial.

"Kami menggunakan media sosial karena ingin menjaring inovator dari kalangan milenial. Ternyata upaya itu berhasil mayoritas karya masuk berasal dari anak-anak milenial yang perhatian terhadap SDG's 2030," jelas Nur.

Kepala Pusat Litbang Upaya Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Dodi Iswardi mengatakan sangat menghargai apa yang dilakukan Ewindo yang menghadirkan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai SDGs 2030.

Program ini, jelas Dodi, patut mendapat apresiasi karena sejalan dengan program mencapai SDGs yang tidak hanya tanggung jawab dari pemerintah saja tetapi juga dari badan usaha dan masyarakat.

Sedangkan panelis lainnya  Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Badan Perencanaan Nasional/ Bappenas Pungkas Bahjuri Ali melihat paparan ilmiah yang disajikan memilikii kualitas yang baik bahkan dapat ditindaklanjuti untuk mengatasi persoalan gizi di masyarakat.

"Saya kira karya-karya inovasi mereka siap untuk diaplikasikan  tinggal di dorong saja," ujar dia.

Sementara itu dari kalangan peserta seperti Ikhwanuddin dari Universitas Sumatera Utara  Prodi Fisika dengan karya untuk memeninimalisasi penggunaan pestisida di kalangan petani serta Belinda Azzahra dari Universitas Indonesia Prodi Akuntansi dengan karya asuransi mikro bagi petani kecil mengungkapkan rasa senangnya mengikuti ajang ini hingga masuk tahap final.

"Saya memang telah mempersiapkan makalah ini sejak lama, ternyata ada ajang PMIA 2019 dari media sosial. Setelah disodorkan ternyata mendapat sambutan positif," ujar Belinda yang karyanya masuk peringkat dua.

Sedangkan untuk peringkat pertama dimenangkan perwakilan Universitas Brawijaya yang mengembangkan pemanfaatan lalat hitam untuk mengolah limbah organik serta pemanfaatan limbah organik dan non organik untuk bahan bakar dari Institut Teknologi Bandung. (Ant/OL-7)

Baca Juga

ANTARA/Syaiful Arif

Kemenag Siapkan Protokol Kesehatan untuk Pesantren

👤Fachri Audhia Hafiez 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 12:45 WIB
Penyusunan protokol kesehatan dilakukan guna menghindari warbah covid-19 merebak di lingkungan...
Ist/Dok.MI

Ikatan Pesantren Indonesia Tunggu Protokol Kesehatan Normal Baru

👤Antara 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 12:10 WIB
Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan pemerintah sedang mengkaji untuk kembali membuka pesantren secara...
MI/Dwi Apriani

Sebanyak 63 Ribu Desa Telah Terima BLT

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Sabtu 30 Mei 2020, 12:00 WIB
"Jumlah ini artinya sudah 85% dari total 74.953...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya