Selasa 24 September 2019, 19:25 WIB

Trump Dikecam karena Mencemooh Pidato Iklim Greta Thunberg

Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Trump Dikecam karena Mencemooh Pidato Iklim Greta Thunberg

AFP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

 

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump membangkitkan kemarahan baru di media sosial, Senin (23/9), dengan cuitan mengejek pidato yang disampaikan oleh aktivis 16 tahun Greta Thunberg di pertemuan puncak (KTT) iklim PBB di New York.

Suara Thunberg bergetar dengan emosi dalam sebuah pidato yang merupakan momen puncak dari KTT itu. Gadis yang menginspirasi unjuk rasa penyelamatan lingkungan di berbagai penjuru dunia itu menuduh para pemimpin dunia mengkhianati generasinya karena gagal bertindak untuk mengatasi peningkatan emisi. Ia mengulangi kata-kata 'beraninya kalian' sebanyak empat kali.

"Kalian telah mencuri mimpi saya dan masa kecil saya dengan kata-kata kosongmu, namun saya adalah salah satu yang beruntung," ujarnya. "Orang-orang menderita. Orang-orang sekarat," imbuh Thunberg.

Dalam menanggapi pidato sang aktivis lingkungan ini, Trump mengatakan di Twitter, "Dia tampak seperti gadis muda yang sangat bahagia menantikan masa depan yang cerah dan indah. Sangat menyenangkan untuk dilihat!" Trump mencuit beberapa jam kemudian, di samping sebuah klip pidato.

Cemooh yang dilontarkan Trump terhadap Thunberg--yang menderita sindrom asperger, bentuk autisme ringan--menuai lebih dari 16.000 respons dalam tiga jam, banyak dari mereka menyerang presiden AS.


Baca juga: Saat Ancaman Pemakzulan, Trump harus Hadapi Konflik dengan Iran


"Donald Trump memilih gadis belia tak berdosa benar-benar menjijikkan!!" kecam salah satu pengguna Twitter.

Thunberg dan Trump sebentar berada di ruangan kecil yang sama ketika mereka tiba di KTT. Dalam video memperlihatkan remaja itu menatap tajam ke arah Presiden AS ketika dia lewat dengan rombongannya.

Thunberg telah menjadi wajah global dari gerakan pemuda yang sedang tumbuh melawan dan menyoroti tidak ketiadaan tindakan dalam masalah iklim. Inisiatifnya telah memobilisasi jutaan orang dalam aksi unjuk rasa di seluruh dunia pada Jumat lalu.

Perjuangannya dimulai dengan senyap pada Agustus 2018 ketika dia bolos sekolah selama tiga minggu pertama, dan kemudian pada hari Jumat menghabiskan hari di luar parlemen Swedia dengan tanda yang bertuliskan 'Sekolah unjuk rasa untuk masalah iklim'.

Pada Agustus, ia menyeberangi Atlantik dalam perjalanan dua minggu di atas perahu layar untuk menghadiri KTT iklim di New York. Dia menolak untuk terbang karena emisi karbon yang disebabkan oleh pesawat. (AFP/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More