Selasa 24 September 2019, 14:39 WIB

Setelah 100 Tahun Para Pengikut Samin Bertemu Untuk Pertamakali

Akhmad Safuan | Nusantara
Setelah 100 Tahun Para Pengikut Samin Bertemu Untuk Pertamakali

MI/Akhmad Safuan
Pertemuan para penganut saminisme di Kampung Samin, Klopoduwur, Blora Jawa Tengah, Selasa (24/9)

 

SETELAH ajaran saminisme ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, para pengikut ajaran Samin dari berbagai daerah lakukan pertemuan besar di Kampung Samin, Klopoduwur, Sambongrejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Sejak pagi kampung Samin di Dukuh Blimbing Sambong, Klopoduwur, Sambongrejo, Kabupaten Blora tampak ramai. Ratusan warga pengikut ajaran Samin Surosentiko dari berbagai daerah seperti Kabupaten Bojonegoro, Kudus, Pati dan Blora berdatangan dan langsung menuju ke Pendopo Joglo untuk menghadiri Temu Ageng (pertemuan ageng) yang digelar hari ini.

Pertemuan besar kaum pengikut ajaran Samin ini menjadi istimewa, karena digelar setelah ajaran saminisme ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Selama 100 tahun sejak Samin Surisentiko sebagai penyebar ajaran saminisme ditangkap dan diasingkan Belanda ke Sumatra Barat pada 1907, baru kali ini dilakukan pertemuan seluruh warga Samin.

Para pengikut Sedulur Sikep (Samin) mulai anak-anak hingga dewasa, serta para sesepuh terlihat bergembira dengan pakaian serba hitam.  Mereka saling memberikan salam keakraban meskipun baru kali ini bertemu, dengan hidangan khas warga Samin berupa makanan hasil bumi seperti jagung, ubi, pisang dan lainnya serta minuman air putih disajikan langsung dari gerabah kendi (tanah liat) tanpa gelas.

"Ini merupakan pertemuan luar biasa, selama 100 tahun baru kali ini dilangsungkan pertemuan Sedulur Sikep dengan tujuan untuk mengakrabkan paseduluran Sikep dari berbagai daerah. Sekaligus menyatukan pemikiran tentang ajaran Samin Surosentiko," kata sesepuh Samin Klopoduwur Pramugi, Selasa (24/9).

Tampak hadir tokoh Samin dalam Temu Ageng untuk membahas berbagai hal tentang ajaran Samin Surosentiko seperti tuan rumah Pramugi, Lasio dan Poso (Klopoduwur-Blora), Gunretno (Pati), Gunarti (Pati), Budi Santoso (Kudus), Bambang Sutrisno (Bojonegoro, bahkan para pejabat Blora seperti Wakil Bupati Blora Arief Rohman, jajaran serta utusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Amrih Widodo dari Australia National University.

Sesditjen Kebudayaan, Kemendikbud, Sri Hartini yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa Temu Ageng ini menjadi tonggak sejarah bagi warga Sedulur Sikep (Samin). Sebab selama 100 tahun lebih belum ada pertemuan seperti ini.

"Selama ini, kalau ada pertemuan hanya diikuti kelompok-kelompok kecil Sedulur Sikep Samin," ujar Sri Hartini.

Berdasarkan perhitungan, lanjut Sri Hartini, 100 tahun lebih setelah Samin Surosentiko ditangkap Belanda 18 Desember 1907,  kemudian diasingkan di Sumatera Barat dan meninggal pada tahun 1914 tidak pernah ada pertemuan besar. Nilai-nilai ajaran Samin, menurut Sri, turun temurun dari generasi ke generasi dan masih tetap dipegang teguh hingga kini. Dalam ajaran Samin apa yang diucapkan dengan yang dilakukan adalah sama dan ini dapat menjadi contoh warga lainnya.

baca juga: Demo Mahasiswa Rusak Gapura DPRD Tasikmalaya

Dalam kesempatan itu Wakil Bupati Blora Arief Rohman menyerahkan sertifikat Mendikbud yang menetapkan Sedulur Sikep Samin Blora sebagai warisan budaya tak benda Indonesia kepada tokoh Samin Pramugi. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More