Selasa 24 September 2019, 08:09 WIB

Indonesia Serukan Aksi Iklim Harus Konkret dan Realistis

mediaindonesia.com | Internasional
Indonesia Serukan Aksi Iklim Harus Konkret dan Realistis

Dok Sewapres
Wakil Presiden Jusuf Kalla saat berpidato di PBB

 

CUACA ekstrem yang disebabkan perubahan iklim membuat negara yang rawan bencana menjadi lebih rentan.

Indonesia, contohnya ditambah kebakaran lahan gambut dan hutan di berbagai wilayah di Sumatra dan Kalimantan semakin memperparah akibat dampak perubahan iklim. Meski tidak mudah dalam mengelola,  

Indonesia telah mengambil langkah yang tegas dalam menangani tantangan besar ini.

“Kita tidak lagi memiliki keleluasaan maupun pilihan selain meningkatkan ambisi pengendalian perubahan iklim,” tegas Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dalam pidato singkatnya pada Climate Action Summit di General Assembly Hall, Senin (23/9).

“Dalam menghadapi kenyataan ini, aksi iklim harus konkret dan realistis,” imbuhnya

Baca juga: Berbicara di PBB, Thunberg Marahi Para Pemimpin Dunia

Lebih jauh, Wapres memaparkan di Indonesia telah melakukan berbagai langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan target ambisius sebesar 29% dengan upaya sendiri dan hingga 41% dengan dukungan internasional hingga 2030.

“Indonesia telah meluncurkan Low Carbon Development Initiative (LCDI). Sebuah inisiatif yang berjalan seiring dengan keuntungan ekonomi dan social,” paparnya.

Selain itu, ungkap Wapres, Indonesia juga telah mengintensifkan aksi iklimnya, melalui Solusi Berbasis Alam, dengan merestorasi 2 juta hektare lahan gambut dan merehabilitasi 12 juta hektare lahan kritis pada 2030 dan melestarikan secara intensif daerah bakau dan daerah pesisir.

Tidak hanya itu, Wapres juga mengungkapkan program transisi energi, dengan menghapus subsidi bahan bakar fosil, menetapkan kebijakan biodiesel wajib dan membangun kilang bahan bakar hijau bahkan Indonesia akan membentuk sebuah fasilitas khusus pendanaan lingkungan untuk memfasilitasi pendanaan iklim dan mendukung program lingkungan lainnya.

“Kami mendorong peningkatan dukungan pendanaan dan transfer teknologi serta energi terbarukan yang terjangkau dan dapat diakses,” tuturnya.

Di katakan Wapres, keberhasilan implementasi Perjanjian Paris tidak bergantung pada individu namun pada upaya kolektif.

“Kami mengundang mitra internasional untuk bergabung dalam BLU Dana Lingkungan,” ajaknya.

Terkait Ekonomi Laut Berkelanjutan, papar Wapres, kita perlu mempercepat tercapainya kemajuan aksi iklim berbasis kelautan secara kolektif, tidak melakukannya sendiri-sendiri.

Dalam pertemuan yang digelar pukul 10.00 hingga 11.50 waktu setempat itu, Wapres didampingi Menko PMK, Menteri ESDM, Watap RI, Rahmat Witoelar, Dirjen Pengendalian Perubahan.Iklim KLHK. (RO/OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More