Senin 23 September 2019, 23:00 WIB

Teheran Tawarkan Koalisi Tandingan

Melalusa Susthira K | Internasional
Teheran Tawarkan Koalisi Tandingan

Iranian Presidency / AFP
Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan negaranya akan menawarkan koalisi keamanan tandingan di Teluk Persia.

 

PRESIDEN Iran Hassan Rouhani mengatakan negaranya akan menawarkan koalisi keamanan tandingan di Teluk Persia. Rencana tersebut dikemukakannya setelah Amerika Serikat berencana mengirim lebih banyak pasukan militer mereka ke Arab Saudi dan memimpin koalisi militer di kawasan itu.

Hassan Rouhani, sebelum bertolak ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, mengatakan Iran akan mengundang semua negara Teluk Persia untuk bergabung dalam koalisi yang disebutnya dengan 'Koalisi Harapan' guna menjamin keamanan kawasan regional tersebut.

Kehadiran pasukan asing di kawasan Teluk Persia, menurutnya, dapat menyebabkan masalah bagi keamanan energi dunia.

"Keamanan Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Laut Oman adalah milik negara kawasan. Pasukan asing dapat menyebabkan masalah dan ketidakamanan bagi negara dan wilayah kita," ujar Rouhani saat parade militer yang menandai peringatan 39 tahun perang Iran-Irak, Minggu (22/9) waktu setempat.

Rouhani menggambarkan koalisi tersebut sebagai rencana untuk perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut. Ia mengatakan inisiatif itu tidak terbatas pada persoalan seputar keamanan, tetapi juga meliputi kerja sama ekonomi.

Proposal Iran untuk perdamaian di Teluk akan dipresentasikan secara rinci oleh Rouhani di Sidang Majelis Umum PBB. Ia bertekad Iran dapat mendapatkan dukungan untuk melawan tekanan dari AS.

Ketika ditanya mengenai rencana Rouhani tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya 'terbuka' untuk mendengar. "Kami punya cara sendiri terhadap Iran," imbuh Trump seraya mengklaim kemajuan luar biasa yang telah dibuatnya dan mengklaim AS tidak lagi bergantung pada minyak dari Teluk.

Sikap Barat

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan Inggris telah menyimpulkan bahwa Iran-lah yang bertanggung jawab atas serangan terhadap sejumlah fasilitas minyak di Arab Saudi pada pekan lalu.

"Inggris mengaitkan tanggung jawab dengan tingkat probabilitas yang sangat tinggi kepada Iran terkait serangan Aramco. Kami pikir memang sangat mungkin Iran yang bertanggung jawab," ujar Johnson kepada awak media di pesawat saat bertolak menuju New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB.

Johnson pun akan mempertimbangkan untuk mengambil bagian dalam upaya militer yang dipimpin AS guna menyokong pertahanan Teluk, tetapi enggan menyebut tindakan apa yang mungkin akan dilakukan. Di sisi yang lain, ia mengatakan Inggris akan bekerja dengan sekutu untuk mengurangi ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.

"Jika diminta, baik oleh Saudi maupun Amerika untuk memiliki peran, kita akan mempertimbangkan dengan cara apa yang dapat berguna bagi kita," tambahnya.

Sebelum pernyataan Inggris, Arab Saudi dan AS lebih dulu menyalahkan Iran yang diduga berada di balik serangan terhadap raksasa energi milik Saudi itu.

Pada Jumat (20/9), Kementerian Pertahanan AS mengumumkan bahwa mereka akan mengirim pasukan tambahan dan peralatan pertahanan rudal ke wilayah Teluk. Selain itu, AS menerapkan sanksi baru terhadap Iran, yang merupakan sanksi terberat yang pernah dijatuhkan 'Negeri Paman Sam' terhadap negara lain

Di lain pihak, Prancis mengatakan masalah yang paling mendesak setelah serangan terhadap instalasi minyak utama Arab Saudi bukanlah pertemuan potensial antara para pemimpin Amerika Serikat dan Iran, tetapi tentang upaya meredakan situasi 'berbahaya' saat ini. (AFP/Hym/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More