Senin 23 September 2019, 21:00 WIB

Diplomasi Aslida Rahardjo Lewat Resep Kuliner Indonesia 5 Benua

Fathurrozak | Weekend
Diplomasi Aslida Rahardjo Lewat Resep Kuliner Indonesia 5 Benua

MI/Fathurrozak
Aslida Rahardjo saat peluncuran bukunya, Resep Masakan Indonesia di 5 Benua, di Jakarta, Sabtu (21/9).

Bagi perantau, memasak hidangan Indonesia saat di negara asing bisa jadi sedikit merepotkan, khususnya dalam hal mencari bahan-bahan yang sesuai.

Namun, bagi Aslida Rahardjo yang sejak muda sudah bekerja sebagai diplomat muda di KBRI Wina, Austria, perkara itu sudah dapat ia atasi dengan menemukan celah bahan-bahan substitusi resep kuliner Indonesia.

Aslida mengaku kerap menyambangi pasar-pasar untuk mencatat bahan-bahan yang ada, dan bahan yang bisa menjadi pengganti. Untuk bereksperimen, ia pun harus mempraktikkan bahan yang cocok sebagai pengganti.

"Saya memulai riset sejak di Austria. Saat itu buat sayur lodeh, terus enggak ada labu siam. Nah saya menemukan jenis yang mirip seperti labu siam, Kohlrabi. Kalau dikupas bentuknya sama. Ketika mau bikin gudeg karena tidak ada nangka, saya pakai red cabbage, saat dimasak akan luntur warnanya, berubah seperti warna gudeg. Ketika tidak ada kunyit untuk warna kuning, saya memakai saffron (kuma-kuma)," tutur Aslida saat peluncuran buku Resep Masakan Indonesia di 5 Benua, di Cozyfield, Gramedia Pondok Indah Mall, Minggu, (22/9).

Ia menyebutkan, dari beberapa negara di lima benua semasa ia dan suaminya bertugas, Afrika Selatan menjadi negara yang paling sulit untuk menemukan bahan pengganti masakan Indonesia.

"Karena mungkin juga makanan pokoknya bukan nasi. Baik dari cara mengolah daging, atau mengolah sayuran pun berbeda. Makanan pokoknya semacam terbuat dari tepung jagung yang direbus lalu dimakan bersama saus tomat," ceritanya.

"Kalau bikin urap atau sayur daun singkong, dari daun Kale. Kelapa ada, dan bumbu seperti biasa. Tapi untuk rempahnya hanya kenal jahe, mereka tidak kenal lengkuas, kunyit pun ya saya pakai saffron, itu bisa juga digunakan saat kita mau bikin nasi kuning," lanjut Aslida.

Buku ini sekaligus ia tujukan sebagai panduan bagi para diaspora Indonesia yang ingin menjajal memasak kuliner dalam negeri saat mereka tengah merantau.

"Karena saya melihat di luar negeri, orang-orang sering kangen masakan Indonesia tapi tidak terpenuhi. Sebagai istri pegawai di departemen luar negeri kan  harus sediakan makanan untuk teman setempat yang khas, asli, dan jangan ngasal. Suami saya pegawai negeri, salah satu diplomasi kebudayaannya ya kita kenalkan kuliner Indonesia di luar negeri." (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More