Senin 23 September 2019, 10:30 WIB

Jasa Tirta II Selamatkan Petani

Cikwan Suwandi | Nusantara
Jasa Tirta II Selamatkan Petani

MI/Cikwan
Warga Kertasari Tengah Mengantri Air Bersih.

 

SEJUMLAH petani di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, bisa berlega hati. Sawah mereka terhindar dari puso karena Perum Jasa Tirta II menambah debit air yang dikucurkan.

"Kekeringan untuk lahan pertanian di Kecamatan Cilamaya Wetan teratasi. Ada penambahan debit air yang dikucurkan Perum Jasa Tirta II dari sebelumnya 66 meter kubik per detik menjadi 70 meter kubik per detik," papar Kepala Dinas Pertanian Karawang, Hanafi Chaniago, kemarin.

Penambahan itu, lanjutnya, dibutuhkan petani karena sudah lebih dari 1.000 hektare lahan sawah kekurangan air. Niat mulia Perum Jasa Tirta II menambah kucuran air menjadi solusi terbaik bagi petani.

Selain menambah debit air irigasi, solusi untuk mengatasi kekurangan air di lahan pertanian ialah dengan melakukan pengerukan irigasi di wilayah Kecamatan Pakisjaya. Kecamatan tersebut diketahui sebagai wilayah terakhir yang menerima manfaat irigasi di Karawang.

Pemerintah kabupaten, lanjutnya, juga mengajukan bantuan pompa sebanyak 30 unit untuk kelompok petani. "Kami sudah punya 10 pompa, tetapi untuk saat ini jumlahnya sangat minim karena kebutuhannya lebih banyak."

Di sisi lain, dalam mengatasi krisis air baku, PDAM Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi, Jawa Barat, tidak mau menyerah. Mereka terus melakukan pencarian potensi air baku. Selain itu, mereka juga mengamankan sumber air baku yang sudah ada.

"Selama ini kita bergantung pada tiga sumber air yang memasok air baku, yakni di Batukarut, Cigadog, dan Cinumpang. Debit air yang dihasilkan saat ini menurun drastis karena kemarau," aku Direktur Utama Tirta Bumi, Abdul Kholik.

 

Bengkulu

Kemarau panjang membuat lahan pertanian terdampak di Bengkulu terus meluas. Sampai kemarin, dinas pertanian melaporkan adanya 1.900 hektare lahan sawah yang mengering.

"September ini, karena hujan belum turun, areal sawah kekeringan akan terus meluas. Kekeringan tidak hanya terjadi di sawah tadah hujan, tapi juga dialami sawah beririgasi," ungkap Kepala Dinas Tanaman Pangan Bengkulu, Ricky Gunarwan.

Masih di Sumatra, kekeringan membuat warga Kota Jambi harus membeli air untuk semua kebutuhan, dari mandi, cuci, hingga memasak.

"Sumur bor sudah tidak menghasilkan air. Pasokan air dari PDAM juga sudah macet tiga pekan terakhir," keluh Zulkifli, warga.

Untuk membeli air bersih, warga harus menguras kantong hingga Rp50 ribu per 1.000 liter air. Penjual air bersih mengaku bisa mengantongi Rp1 juta per hari.

Kemarau juga menyebabkan warga yang bergantung pada bantuan pasokan air dari badan penanggulangan bencana daerah terus bertambah. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, Wakil Wali Kota Muhammad Yusuf menyatakan sudah ada 200 lokasi di wilayahnya yang mengalami krisis air bersih.

"BPBD sudah menyalurkan 2,5 juta liter air bersih ke 32 kelurahan di 10 kecamatan. Kami sudah minta distribusi air terus dilanjutkan dengan berbagai upaya sehingga tidak ada masyarakat yang menjadi korban krisis air bersih ini," tandasnya.

Di Majalengka, krisis merebak ke 5 desa di 2 kecamatan. "BPBD sudah mengirim air bersih ke daerah terdampak," ungkap Kepala Seksi Kedaruratan, Rezza Permana.

Penyaluran air bersih juga terus dilakukan BPBD Klaten, Jawa Tengah, dan BPBD Dharmasraya, Sumatra Barat. (BB/BK/MY/SL/AD/UL/JS/YH/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More