Senin 23 September 2019, 10:10 WIB

Kirim Paket via Transportasi Publik

Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi
Kirim Paket via Transportasi Publik

Dok. PT. Krowrier Logistik Indonesia
Co-Founder Krowrier Davyn Sudirdjo

 

BERBICARA sektor logistik, khususnya pengiriman paket, umumnya terbayang deretan armada kendaraan pengantar, baik sepeda motor maupun mobil boks. Kini ada terobosan penggunaan jasa dari tangan satu ke tangan lain secara estafet oleh pengguna transportasi publik melalui aplikasi di telepon pintar.

Menilik data PT Kereta Commuter Indonesia hingga Juni 2018, rata-rata pengguna KRL mencapai 1 juta lebih per hari kerja. Belum lagi transportasi publik lain.

Potensi kerumunan masyarakat pengguna transportasi publik (crowd) tersebut dipandang potensial oleh Davyn Sudirdjo, Co-Founder Krowrier, sebagai sumber daya dalam menggerakkan logistik dari satu titik ke titik lain. Krowrier ingin memberdayakan pengguna transportasi publik seperti KRL, MRT, Trans-Jakarta, dan LRT sebagai mitranya.

"Dengan metode crowdsourcing, Krowrier ingin menciptakan suatu terobosan di bidang logistik yang ramah lingkungan sekaligus menambah nilai bagi pengguna transportasi publik, khususnya pengguna KRL. Mitra kami akan memperoleh komisi berupa saldo yang dapat dicairkan kapan saja dari setiap pengiriman paket yang dilakukan," tutur Davyn saat peluncuran aplikasi Krowrier di Jakarta, pekan lalu.

Davyn menjelaskan pengiriman paket itu melibatkan masyarakat sebagai feeder, drop point, dan courier. Tiap-tiap bagian ini memiliki tugas dan imbalan yang berbeda.

Gambaran alurnya, yaitu feeder bertugas menjemput barang dari pengirim dan memberikannya ke lokasi drop point yang jaraknya kurang dari 5 meter terhadap transportasi publik. Dari drop point, paket tersebut diambil courier dan dibawa menggunakan transportasi publik hingga drop point berikutnya. Setelah tiba pada drop point terdekat dengan lokasi tujuan, paket tersebut akan diambil feeder terdekat dan diserahkan kepada penerima paket.

 

Tarif

Dalam kesempatan yang sama, CEO Krowrier Said Romadlon menjelaskan, layanan Krowrier merupakan layanan one day service. Berbeda dengan perusahaan logistik lain, pihaknya mematok tarif Rp19 ribu per paket.

Ia menerangkan bahwa penetapan tarif tersebut terdiri atas sejumlah reward yang dibagikan dari pihak yang terlibat dalam pengiriman satu paket. Misalnya, feeder mendapatkan Rp5.000 per paket, yang memiliki jarak yang dekat dengan paket dan drop point-nya.

"Kalau dia bisa bawa lima paket sekali jalan, itu berarti memperoleh Rp35 ribu untuk feeder. Berapa banyak kalau sebulan?" ujar Said.

Dalam kesempatan berbeda, pengamat startup Agus Tjandra menilai metode crowd sourcing sebetulnya merupakan suatu konsorsium bersama yang saat ini lebih diamplifikasi dengan mengguakan digitalisasi. Selain itu, sifatnya lebih ke retail sehingga setiap individu yang tertarik saling terhubung.

"Jika dilihat dari efektivitasnya akan sangat bagus karena selain lebih cepat, juga akan sangat tersebar. Hasilnya, antara kebutuhan dan ketersediaan dapat dengan cepat terhubung," tutur Agus.

Karena itu, Agus menilai, dengan pemahaman pola kerja tersebut crowd sourcing logistik yang memanfaatkan 'pengemudi' sehingga dapat secara langsung ke tujuan paket tetap harus dikontrol pengelola, dalam hal ini perusahaan. Menurutnya, tetap perlu ada perhatian khusus pada SOP pelaksanaan dan kontrol dalam sistem guna meminimalkan risiko pengoperasian crowd sourcing. (S-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More