Senin 23 September 2019, 07:00 WIB

Menyemai Semangat Greta Thunberg

Azwar Anas Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe | Opini
Menyemai Semangat Greta Thunberg

DOK.MI/SENO
OPINI

SEPINTAS, ia tampak seperti remaja perempuan lainnya; wajah polos dengan pipi cenderung bulat dan rambut dikepang. Namun, ia bukan remaja sembarangan. Ia ialah Greta Thunberg, remaja perempuan yang memenuhi lini masa media sosial belakangan ini. Dikenal sebagai aktivis lingkungan dari Swedia--memimpin aksi protes sekolah atas isu perubahan iklim yang dikenal sebagai Fridays for Future--Thunberg baru saja dinobatkan sebagai Ambassador of Conscience 2019 oleh Amnesty International pada 16 September 2019. Kegigihannya dalam mendesak pemerintah dan politisi untuk memutuskan kebijakan yang tepat terkait dengan permasalahan perubahan iklim di dunia, dianggap memberi pengaruh besar pada gerakan lingkungan untuk perubahan iklim.

Greta dikabarkan baru saja berlayar dari Swedia menuju New York untuk menghadiri UN Climate Action Summit bulan ini. Menjadi menarik, Greta memutuskan untuk berlayar--bukan terbang dengan pesawat--agar perjalanannya tak meninggalkan jejak karbon yang dapat memicu naiknya suhu bumi di atmosfer. Hal itu bagian dari langkahnya dalam menyelamatkan bumi yang kian memburuk akibat dari perlakuan manusia.

Di saat Greta konsisten dalam menyuarakan pendapatnya tentang penyelamatan bumi dan perubahan iklim, kondisi berbeda justru terjadi di Tanah Air. Indonesia kini menjadi sorotan berbagai negara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian memuncak dalam sepekan terakhir. Berdalih sebagai akibat dari musim kemarau yang melanda beberapa kawasan di Indonesia, karhutla yang melanda kawasan Riau, Kalteng, dan Kalbar memproduksi asap yang berlebihan dan mengepung hampir seluruh wilayah Indonesia dan bahkan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand ikut merasakan dampaknya.

Bencana kebakaran yang diduga memiliki ratusan titik panas itu mengakibatkan berbagai masalah. Selain mencemarkan udara dan memusnahkan flora dan fauna, masyarakat yang tinggal dan hidup di beberapa kawasan tersebut seakan tercekik kepungan asap yang menghambat aktivitas sehari-hari mereka, seperti bekerja dan bersekolah. Bahkan, tak jarang berujung pada gangguan kesehatan, seperti ISPA dan lainnya. Dampak asap juga menghambat jalannya roda ekonomi.

Usut punya usut, kebakaran hutan dan lahan yang santer terdengar dalam sepekan terakhir ternyata bukan hanya disebabkan oleh musim kemarau yang melanda beberapa daerah di Indonesia. Dugaan kuat adanya praktik land clearing dengan mudah dan murah oleh oknum tertentu dengan memanfaatkan musim kemarau. Keserakahan pihak tertentu untuk mendirikan bangunan dan membangun korporasi diduga menjadi dalang kuat di balik kebakaran yang memicu berbagai masalah tersebut. Jika terus dibiarkan, tak perlu menunggu lama alam negara ini akan hancur di tangan keji pecundang yang hanya mengutamakan kepentingannya semata.

Mengedukasi masyarakat

Tak dapat dimungkiri berbagai permasalahan terkait dengan kerusakan lingkungan dan alam di Indonesia kian menjadi-jadi. Selain karhutla, permasalahan lain seperti sampah juga seakan tak dapat dibendung. Pencemaran lingkungan, baik darat maupun air oleh sampah saat ini sudah mencapai taraf darurat. Bahkan, Indonesia menduduki peringkat kedua penyumbang sampah terbesar di lautan setelah Tiongkok.

Masyarakat masih memiliki pandangan yang keliru tentang pemanfaatan alam. Krisis ekologi yang mendominasi kita saat ini bermuara dari cara pandang manusia yang melihat alam sebagai objek untuk dikaji, dianalisis, dimanipulasi, direkayasa, bahkan dieksploitasi sedapat mungkin. Jika paradigma itu terus dibiarkan, cita-cita mengembangkan masyarakat yang berkelanjutan dan ramah lingkungan hanyalah mimpi belaka serta alam akan terus digerus dengan semena-mena.

Menyadari permasalahan tersebut, pemerintah berusaha membangun kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan sekitar dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan. Melalui pendidikan karakter pemerintah menggantungkan harapan besar untuk pelestarian lingkungan Indonesia ke depan. Dalam Pasal 65 UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup ditegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Mewujudkan amanat dalam UU tersebut, pemerintah menggagas pendidikan karakter peduli lingkungan yang menjadi salah satu dari 18 karakter bangsa yang ingin dicapai. Lembaga pendidikan ikut mengambil andil besar dalam mewujudkan hal itu. Uno (136:2011) menyebutkan bahwa penanaman, pemahaman, dan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian kualitas lingkungan sangat baik apabila mulai diterapkan melalui pendidikan. Karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus bertindak dan tidak boleh berdiam diri menyaksikan alam yang semakin kritis akibat ulah manusia sendiri.

Peduli lingkungan

Peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang terus berupaya menjaga dan mencegah kerusakan lingkungan serta terus mencoba memperbaiki kerusakan alam yang telah terjadi. Peserta didik perlu ditanamkan karakter peduli lingkungan agar mengkristal menjadi kebiasaan baik yang akan terus dibawa sampai dewasa nanti. Dalam rangka character building, peduli lingkungan menjadi perlu dikembangkan untuk membangun harmonisasi antara manusia dan alam sekitar. Munculnya berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks saat ini merupakan cerminan dari tidak harmonisnya relasi manusia dengan lingkungan (Naim:2012).

Sekolah mengambil peranan penting untuk membentuk peserta didik yang peduli lingkungan. Setidaknya terdapat tiga cara penanaman karakter peduli lingkungan oleh sekolah terhadap peserta didik. Pertama, mengembangkan kurikulum berwawasan lingkungan dengan mengintegrasikan nilai-nilai peduli lingkungan ke dalam mata pelajaran. Tidak hanya itu, untuk membangun kesadaran peserta didik, sekolah juga dapat melakukan proyek pelestarian lingkungan, seperti green school project, bank sampah, dan gerakan membawa tumbler ke sekolah.

Kedua, kegiatan lingkungan berbasis partisipasi atau kerja sama dengan berbagai pihak, seperti seminar, training, dan kegiatan edukasi tentang pelestarian lingkungan yang melibatkan peserta didik serta dapat menambah wawasan dan pengalaman mereka. Ketiga, pengelolaan sarana pendukung di sekolah yang ramah lingkungan, seperti pengelolaan tempat sampah, kamar mandi, pemanfaatan listrik, ATK, dan sarana prasarana pendukung lain yang menunjang pemahaman peserta didik untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.

Greta Thunberg, gadis belia yang kini menjadi aktivis lingkungan terus menyuarakan dan melakukan aksinya dalam menjaga alam. Indonesia hari ini juga butuh seorang Greta Thunberg dalam rangka menjaga kelestarian alam yang semakin terkikis. Sekolah berpeluang mengambil peranan besar untuk mewujudkan itu. Sebuah kerja yang harus dilakukan segera, demi menyelamatkan alam Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More