Senin 23 September 2019, 03:00 WIB

Japangmas Pangkas Rantai Distribusi Tengkulak

Dwi Tupani/E-3 | Ekonomi
Japangmas Pangkas Rantai Distribusi Tengkulak

MI/DWI TUPANI
Gabah siap giling.

 

SALAH satu tantangan utama petani di perdesaan ialah panjangnya mata rantai pengolahan dan distribusi gabah. Petani tidak punya kekuatan untuk menguasai mata rantai distribusi karena tidak memiliki akses terhadap modal, teknologi, dan pengetahuan yang cukup.

Akibatnya, harga jual gabah petani pada musim panen terkadang rendah akibat pasokan melimpah, sementara petani belum bisa secara mandiri mengolah gabah mereka.

Hal itu yang dirasakan, Jakiman, petani di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dia dan mayoritas petani di desanya umumnya menjual hasil panen mereka kepada tengkulak. Bahkan, beberapa petani ada yang menjual padi dalam kondisi masih hijau atau ijon.

"Parahnya, para tengkulak juga tidak langsung membayar tunai. Petani harus menagih sampai lima kali," kenang Jakiman saat ditemui di Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (19/9).

Setelah padi dibeli dengan harga yang sangat murah oleh tengkulak, mereka harus membeli beras dengan harga mahal di pasar.

Cita-cita para petani Desa Argomulyo untuk terbebas dari tengkulak mulai terwujud dengan hadirnya program Jaminan Pangan Masyarakat (Japangmas) yang diinisiasi TBBM Rewulu, PT Pertamina (persero) Marketing Operation Region IV.

Program yang bertujuan membangun Desa Agribisnis Mandiri ini diluncurkan di Rumah Produksi Benih Padi dan Kelompok Tani Boga Lestari pada 10 Mei 2018.

Jakiman, yang juga Ketua Japangmas, mengakui program yang diinisiasi Pertamina tersebut berhasil mendorong pengelolaan padi dari hulu sampai hilir di desanya.

Kini jumlah anggota kelompok tani yang dipimpinnya sudah mencapai 180 orang. Anggota Kelompok Tani Boga Lestari, kata Jakiman, bukan hanya para petani. Masyarakat sekitar juga berminat menjadi anggota karena mendapat keuntungan.

Operation Head Terminal BBM Rewulu, Rahmad Febriadi, mengatakan, untuk menyukseskan program ini Pertamina mengucurkan Rp200 juta-Rp300 juta per tahun.

Program ini merupakan kolaborasi antara TBBM Rewulu, Joglo Tani, dan kelompok tani Desa Argomulyo.

"Dana CSR tersebut, antara lain, digunakan untuk pembangunan dan perluasan tempat penjemuran gabah, pembelian mesin giling padi, pengemasan beras, hingga distribusi beras ke masyarakat," ujar Rahmad.

Desa Agribisnis Mandiri, merupakan salah satu proyek percontohan TBBM Rewulu yang disinergikan dengan program CSR lainnya, yakni Program Mandiri Benih, Program Pengembangan Kebun Bibit Tanaman Sayur dan Hortikultura, serta Program Pembuatan Pupuk Organik bagi Kelompok Tani dan Masyarakat. (Dwi Tupani/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More