Senin 23 September 2019, 02:40 WIB

Pembakar Terus Diburu

Solmi | Nusantara
Pembakar Terus Diburu

ANTARA FOTO/Divisi Komunikasi PT REKI
Suasana saat personel gabungan TNI/Polri menangkap para terduga perambah dan pembakar hutan dan lahan di Batanghari, Jambi.

 

PENGEPUNGAN yang digelar tim gabungan TNI-Polri di Kabupaten Batanghari, Jambi, akhir pekan lalu, membuahkan hasil. Sebanyak 22 perambah liar menyerah di bawah todongan senjata laras panjang petugas.

"Mereka perambah dari luar Jambi. Selain menebangi kayu hutan, mereka juga membakar lahan untuk disiapkan sebagai areal penanaman kelapa sawit," ungkap Kapolres Batanghari, Ajun Komisaris Besar Mohamad Santoso, kemarin.

Aksi perambahan yang diikuti pembakaran lahan itu dilakukan di wilayah Desa Bungku, Kecamatan Bajubang. Ke-22 pelaku nekat menjarah konsesi Hutan Harapan yang dikelola PT Restorasi Ekosistem Indonesia. Dari tangan mereka, tim gabungan menyita gergaji mesin, bahan bakar, dan bibit kelapa sawit.

Sebelumnya, pada Agustus lalu, tidak jauh dari lokasi itu, Polres Batanghari juga menangkap dua pelaku perambah dan pembakar hutan. Motivasi mereka sama, lahan hendak ditanami sawit.

Di Jambi, menurut Direktur Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Rudi Syaf, kebakaran hutan dan lahan hampir seluruhnya di kawasan peruntukkan lahan, baik HTI, HPH, kebun sawit, hingga restorasi ekosistem.

"Sejumlah areal korporasi yang terbakar 2015, kembali terbakar tahun ini, di antaranya konsesi HPH PT Pesona Belantara Persada, Putra Duta Indahwood, di Kabupaten Muarojambi, dan HTI eks PT Dyera Hutan Lestari dan PT Wirakarya Sakti. Sementara itu, kebun sawit PT Citra Indo Niaga, PT Agro Tumbuh Gemilang Abadi, dan PT Kaswawi Unggul.

"Kebakaran berulang ini menunjukkan ketidakmampuan pemegang izin untuk menjaga kawasan kelolanya aman dari bahaya kebakaran. Pemerintah harus tegas," lanjut Rudi Syaf.

Kemarin, Polsek Bukit Intan, Pangkalpinang, Bangka Belitung, juga meringkus dua pelaku pembakaran lahan.

"Mereka mengaku sebagai orang suruhan. Ada bos yang membayar ke mereka untuk membersihkan lahan," ungkap Kapolsek Ajun Komisaris Adi Putra.

Cabut izin

Menyusul penetapan tersangka pembakar hutan bagi PT Hutan Bumi Lestari, Bupati Musi Banyuasin, Sumatra Selatan, Dodi Reza Alex, mengaku tidak ingin perusahaan itu beroperasi di wilyahnya.

"Saya sudah merekomendasikan ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mencabut izin perusahaan itu."

Perusahaan itu, lanjutnya, sudah diingatkan untuk tidak membakar lahan, baik di area konsesi sendiri maupun di sekitarnya. Selain itu, mereka juga sudah diminta terlibat dalam upaya mencegah dan menangani kebakaran hutan.

PT Hutan Bumi Lestari merupakan satu-satunya perusahaan yang dinyatakan sebagai tersangka pembakaran di Sumatra Selatan. Kasus perusahaan yang berada di Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, itu, ditangani Polda Sumatra Selatan.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, Polda mengaku sudah mengidentifikasi keterlibatan 18 perusahaan dalam kebakaran hutan dan lahan. Perusahaan itu ada di Kabupaten Tapin, Barito Kuala, dan Tanah Laut.

"Kami akan tindak tegas. Sebanyak 18 kasus kebakaran hutan diduga melibatkan korporasi. Ratusan kasus juga sedang kita telusuri pelakunya," ungkap Kapolda Kalsel Inspektur Jenderal Yazid Fanani.

Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, juga berangkat karena hutan seluas 587 hektare sudah terbakar di wilayahnya.

"Saya sudah minta kepala dinas bertindak tegas dan berkoordinasi dengan kepolisian. Pembakar harus ditangkap." (RF/DW/DY/LN/RK/RD/TB/PO/JI/LD/MY/FB/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More