Minggu 22 September 2019, 18:10 WIB

Sumsel Turunkan Tujuh Helikopter Atasi Karhutla

Dwi Apriani | Nusantara
Sumsel Turunkan Tujuh Helikopter Atasi Karhutla

MI/Dwi Apriani
Petugas dari satgas karhutla sedang berupaya memadamkan kebakaran lahan dan hutan di Sekayu, Musi Banyuasin, Sumsel, Minggu (22/9).

 

TITIK kebakaran lahan dan hutan di Sumatra Selatan masih didominasi terjadi di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin. Bahkan berdasar dari data hotspot (titik panas) dari Satelit Lapan ada sekitar 587 titik, di mana 251 titik berada di OKI dan 159 di Musi Banyuasin.

"Titik panas hari ini memang cukup banyak. Bahkan dari pengamatan siang ini jumlahnya bertambah menjadi lebih dari 700 titik. Dominasi di OKI dan Muba," ujar Ansori, Kabid Penanganan Bencana BPBD Sumsel, di Palembang, Minggu (22/9).

Ia mengatakan, sebagai upaya memadamkannya, pihaknya sudah menurunkan 7 helikopter waterbombing. Tiga unit helikopter untuk pemadaman di OKI, 3 unit di Ogan Ilir dan 1 unit di Pali.

"Awalnya kita rencanakan 4 helikopter di OKI dan 3 helikopter di Muba. Namun karena tingkat visibility rendah di Muba, maka kita alihkan helikopter kesana. Untuk daerah lain, kita maksimalkan pemadaman dari tim satgas darat," ucapnya.

Selain itu, dua helikopter untuk patroli pun sudah bekerja memutari dan mengecek via udara terkait lokasi-lokasi lahan terbakar.

Sementara itu, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Bandara SMB II Palembang, Bambang Beni Setiadji, mengatakan, angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Timur-Tenggara dengan kecepatan 4-14 knot (7-28 km/jam).

"Ini yang mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya," kata dia.

Sumber dari Lapan tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Timur-Selatan Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80% yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin I, Pampangan, SP Padang, Pedamaran, Tulung Selapan, Cengal, Pematang Panggang, Tanjung Lubuk, dan Cempaka.

Intensitas asap (smoke) umumnya mulai meningkat terjadi pada sore hari (16.00 WIB) hingga menjelang pagi hari (00.00-07.00 WIB) dikarenakan labilitas udara yang stabil pada saat tersebut.


Baca juga: Kabut Asap di Jambi kian Pekat, Kualitas Udara Berbahaya


"Fenomena Asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye/merah pada pagi/sore hari, hal ini berpotensi diperburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena kabut asapyang umumnya terjadi pada pagi hari," jelasnya.

Ia mengatakan jarak pandang tertinggi yang tercatat di Bandara SMB II Palembang pada 21 September 2019 adalah 10 km dan terendah pada pagi hari 22 September 2019 berkisar 200-800 m dengan kelembapan 88-95%.

"Dengan keadaan cuaca asap (smoke) ini berdampak 8 (delapan) penerbangan yang mengalami delay," jelasnya.

Berdasarkan model prakiraan cuaca BMKG akan ada potensi hujan dalam rentang prakiraan 23-24 September 2019 di wilayah Sumatra Selatan.

"Pada 23 September 2019 peluang hujan 20-40% untuk Sumsel bagian Timur dan 40-80% untuk sumsel bagian Barat untuk peluang hujan minimal 10 mm, sedangkan pada 24 September 2019 peluang hujan 40-80% untuk seluruh wilayah Sumsel untuk peluang hujan minimal 10 mm," jelasnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam bertransportasi pada pagi hari (04.00-07.00 WIB) dan pada sore hari (17.00-19.00 WIB) seiring potensi menurunnya jarak pandang, senantiasa menggunakan masker dan mengonsumsi banyak air saat beraktivitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan.

"Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran baik itu sampah rumah tangga maupun dalam pembukaan lahan pertanian/perkebunan dan menganjurkan masyarakat melakukan salat istiska (bagi muslim) dan sesuai ibadahnya masing-masing untuk yang beragama lain untuk turunnya hujan," tandasnya. (OL-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More