Jumat 20 September 2019, 22:10 WIB

STDI Imam Syafi'i Gelar Seminar Internasional Cegah Radikalisme

mediaindonesia.com | Humaniora
STDI Imam Syafi

Ist
Ketua Panitia Penyelenggara, Ali Musri Semjan Putra, menjelaskan tentang seminar internasional yang bakal digelar.

 

ISU radikalisme dan terorisme menjadi topik yang hangat diperbincangkan di tengah publik, tetapi perlu kehatian-hatian dalam menjelaskannya. Meski harus berhati-hati, masalah ini harus dijelaskan kepada publik sehingga tidak ada lagi kesalahan mempersepsikannya.

Semua persoalan itu dikupas dalam sebuah seminar internasional bertema 'Peranan Ahli Hadits Klasik dan Kontemporer dalam Menanggulangi Radikalisme' yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah (STDI) Imam Syafi'i Jember, Jawa Timur, 20-21 September.
   
Ketua Panitia Penyelenggara, Ali Musri Semjan Putra, menjelaskan, seminar dibuat untuk mengupas tuntas pengertian hingga faktor penyebab radikalisme dan terorisme yang terjadi bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia lain.

Namun, sebagian besar publik mempersepsikan hal yang terjadi itu Indonesia masih disandarkan pada dunia Islam saja.

"Ini yang ingin kami luruskan. Publik mempersepsikan teroris dan radikal itu ciri-cirinya berjenggot, celana cingkrang, dan perempuan bercadar. Ini keliru dan telah membuat definisi radikal menjadi bias," kata Ali dalam pembukaan seminar internasional itu di Hotel Dafam Jember, Jumat (20/9) malam.

Selama ini, tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada kelompok muslim yang masih mempertahankan tradisi Islam konservatif dalam setiap aksi teror sangat tidak berdasar.

"Sehingga ada kerancuan dalam masalah ini. Melalui seminar ini, kami ingin membuktikan melalui penjelasan yang sebenarnya. Sehingga memberikan pencerahan dan menghapuskan bias. Serta menawarkan solusinya," terangnya.

Sementara, Profesor Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Alfatih Suryadilaga, menjelaskan bahwa memahami dan menjelaskan radikalisme yang berkembang seperti saat ini butuh kehati-hatian.


Baca juga: Modifikasi Cuaca Berhasil, Hujan Guyur Palangkaraya


"Jangan memahami radikalisme secara serampangan lalu langsung merujuk pada kelompok tertentu. Misal yang berjenggot, mengenakan celana cingkrang," sebutnya.

Alfatih Suryadilaga yang juga Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (Asilha) ini melanjutkan, kelompok muslim yang masih mempertahankan tradisi murni tersebut masih menjadi bagian dari komunitas Islam.

"Nah, sesungguhnya  mereka merupakan salah satu model dari ajaran Islam. Kita butuh saling memahami sehingga dapat mewujudkan Islam sebagai rahmatan lilalamin," bebernya.

Pimpinan STDI Imam Syafi'i, Muhammad Arifin Badri, ikut menambahkan bahwa pihaknya berupaya ikut serta dalam upaya menanggulangi radikalisme dan dampaknya.

"Kami berkomitmen berkontribusi dalam penanggulangan problem sosial termasuk masalah keagamaan. Salah satu yang jadi sumber masalah adalah radikalisme yang dikemas atas nama agama," tuturnya.

Banyak faktor yang jadi penyebab munculnya radikalisme yang menunggangi agama Islam. Misalnya saja  penggunaan dalil-dalil palsu untuk mendoktrin seseorang menjadi radikal.

Selain itu, Arifin juga menambahkan bahwa radikalisme bukanlah hak yang baru dikenal. Bahkan, radikalisme sudah ada jauh sebelum turunnya agama Islam.

Seminar internasional yang berlangsung hingga Sabtu (21/9) menghadirkan pembicara utama dari kawasan Timur Tengah. Di antaranya Syaikh Prof Dr Abdullah bin Abdul Aziz Al Faleh (Dekan Fakultas Hadis dan Ilmu Hadis Universitas Islam Madinah), Syaikh Prof Dr Ali Ibrahim Saud (Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Alu Al Bayt, Amman Yordania), Syaikh Prof Dr Abdus Sami' Muhammad Anis (Guru Besar Ilmu Hadis, Universitas Sharjah, UEA), dan beberapa ulama-ulama hadis lainnya. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More